Indonesia dan Swiss Sepakati Kerja Sama Strategis Industri Mineral dan Logam
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Pemerintah melalui Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menjalin kerja sama strategis dengan Pemerintah Konfederasi Swiss. Langkah ini ditandai penyelesaian penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) tentang Enhanced Cooperation in the Minerals and Metals Sector untuk memperkuat industri mineral dan logam kedua negara.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani menyatakan bahwa kerja sama ini merupakan tonggak penting bagi kemitraan kedua negara, terutama dalam mendukung investasi hilirisasi yang berkelanjutan.
Baca Juga
Indonesia-Swiss Kolaborasi Bangun Talenta Unggul di Sektor Energi Bersih
"Indonesia dikaruniai sumber daya mineral yang melimpah. Namun, ambisi kami bukan sekadar mengekspor bahan mentah, melainkan menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja berkualitas, dan memperkuat daya saing industri nasional melalui hilirisasi," ujar Rosan melalui keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (16/7/2026).
Ia menambahkan bahwa Swiss merupakan mitra ideal karena unggul di bidang teknologi, inovasi, keberlanjutan, pembiayaan, logistik, dan akses pasar global.
Kesepakatan ini sekaligus menandai momentum 75 tahun hubungan diplomatik antara Swiss dan Indonesia yang jatuh pada 2026. Duta Besar Swiss Olivier Zehnder menilai kerja sama ini mampu menghubungkan potensi sumber daya alam (SDA) Indonesia dengan modal serta keahlian teknologi dari Swiss secara bertanggung jawab.
"Kami berharap kerja sama ini akan semakin mempererat kemitraan ekonomi kedua negara sekaligus menciptakan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat di Indonesia maupun Swiss," kata Zehnder.
Di Indonesia, penandatanganan dokumen dilakukan oleh Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani di kantor Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Jakarta, Kamis (16/7/2026). Prosesi ini disaksikan langsung Duta Besar Swiss untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN, Olivier Zehnder.
Proses penandatanganan ini dilakukan secara sirkuler. Sebelumnya, Presiden Konfederasi Swiss sekaligus Kepala Federal Department of Economic Affairs, Education and Research (EAER), Guy Parmelin, telah menandatangani dokumen tersebut pada 23 Juni 2026 di Basel, Swiss, dalam acara Swissmem Industry Day 2026.
Cakupan Kerja Sama dan Realisasi Investasi
MoU ini merupakan tindak lanjut dari expression of interest yang telah disepakati pada 30 September 2025. Secara garis besar, ruang lingkup kerja sama kedua negara mencakup promosi dan fasilitasi investasi, penguatan rantai pasok mineral dan logam berkelanjutan, serta pertukaran pengetahuan dan teknologi bersih (cleantech).
Selain itu, kolaborasi ini juga menyasar pada pengembangan sumber daya manusia, penerapan praktik environmental, social, and governance (ESG), peningkatan tata kelola industri hilir, hingga penyelenggaraan misi bisnis, seminar, pameran, pelatihan, dan business matching.
Baca Juga
Langkah strategis ini berjalan beriringan dengan agenda transformasi ekonomi Indonesia yang gencar mendorong peningkatan nilai tambah mineral strategis melalui industri pengolahan berteknologi tinggi, seperti ekosistem baterai kendaraan listrik dan energi terbarukan.
Hubungan ekonomi kedua negara sejauh ini menunjukkan tren positif. Berdasarkan data Kementerian Investasi/BKPM, realisasi investasi Swiss di Indonesia sepanjang periode 2021 hingga triwulan I tahun 2026 telah mencapai sekitar US$ 1,33 miliar.
Investasi tersebut mayoritas mengalir ke sejumlah sektor utama, yakni industri makanan, transportasi dan pergudangan, telekomunikasi, serta industri kimia dan farmasi. Selain itu, kemudahan dunia usaha kedua negara juga telah didukung oleh implementasi Indonesia–European Free Trade Association Comprehensive Economic Partnership Agreement (IE-CEPA).
