Pertamina Pastikan Stok BBM dan LPG Nasional Aman, Persediaan Capai 3,61 Juta Kiloliter
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Pertamina Patra Niaga memastikan kondisi stok bahan bakar minyak (BBM) dan liquefied petroleum gas (LPG) nasional dalam keadaan aman dan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Hingga 16 Juli 2026, total persediaan BBM dan LPG secara nasional tercatat mencapai sekitar 3,61 juta kiloliter, di tengah meningkatnya konsumsi BBM bersubsidi di sejumlah wilayah.
Wakil Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Taufik Aditiyawarman mengatakan secara umum pasokan energi nasional masih terkendali. Meski dalam beberapa waktu terakhir terjadi antrean di sejumlah SPBU di beberapa wilayah, kondisi tersebut tidak disebabkan oleh kekurangan stok, melainkan lonjakan permintaan BBM bersubsidi dan penyesuaian distribusi di lapangan.
"Nah tentunya berdasarkan posisi stok per 16 Juli pagi hari ini secara nasional ketersediaan BBM dan LPG berada dalam kondisi yang terkendali. Jadi secara total mungkin ada 3,61 juta kiloliter," kata Taufik dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR di Jakarta, Kamis (16/7/2026).
Dia menjelaskan, Pertamina Patra Niaga juga telah memproyeksikan keseimbangan pasokan dan kebutuhan (supply-demand balance) untuk beberapa bulan ke depan. Hasilnya, kebutuhan BBM dan LPG nasional dipastikan masih dapat dipenuhi dengan dukungan infrastruktur distribusi yang beroperasi secara optimal.
"Dari proyeksi supply-demand balance beberapa bulan ke depan secara umum kebutuhan produk masih dapat dipenuhi. Implementasi B50 juga memberikan dukungan terhadap pemenuhan kebutuhan Biosolar yang saat ini memang sudah mencapai sekitar 60% di SPBU," ujarnya.
Taufik mengakui, dalam beberapa pekan terakhir terjadi peningkatan konsumsi BBM bersubsidi, terutama Pertalite dan Biosolar. Kondisi tersebut turut dipengaruhi oleh pergeseran konsumsi masyarakat ke BBM bersubsidi serta aksi pembelian berlebihan (panic buying) di sejumlah daerah di Sumatera.
"Beberapa waktu terakhir masih terjadi antrean dan pembelian secara berlebihan atau panic buying di beberapa wilayah di Sumatera yang juga dipengaruhi oleh kenaikan ataupun shifting konsumsi BBM kepada BBM subsidi yaitu Pertalite dan Solar, serta adanya lagging distribusi dalam merespons peningkatan volume penyerapan tersebut," ungkap dia.
Kendati demikian, Taufik memastikan peningkatan konsumsi tersebut masih berada dalam kapasitas yang dapat dilayani perusahaan. Berdasarkan realisasi penyaluran selama Juli, distribusi Pertalite telah mencapai sekitar 104% dibandingkan rata-rata konsumsi harian normal, sedangkan Biosolar mencapai 105%.
"Kami mencermati bahwa realisasi penyaluran pada bulan Juli untuk beberapa produk berada di atas konsumsi normal. Namun demikian peningkatan penyaluran tersebut masih dapat dilayani dan terus dimonitor secara harian," tutur Taufik.
Untuk mengatasi antrean di sejumlah wilayah, Pertamina Patra Niaga telah melakukan berbagai langkah percepatan distribusi, mulai dari penambahan armada mobil tangki, pengaturan pola distribusi, penambahan jam operasional SPBU, hingga peningkatan frekuensi pengiriman BBM dari terminal ke lembaga penyalur.
Selain itu, perusahaan juga terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) guna mempercepat normalisasi kondisi di lapangan.
Pertamina Patra Niaga pun memastikan seluruh infrastruktur penyaluran energi, mulai dari kilang, terminal BBM, jetty, hingga jaringan pipa, berada dalam kondisi aman dan siap mendukung kelancaran distribusi ke seluruh wilayah Indonesia.
