Harga Emas Turun Tipis, Data Inflasi AS Redakan Tekanan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Harga emas memangkas sebagian kerugian pada perdagangan Rabu (15/6/2026) setelah data inflasi tingkat produsen Amerika Serikat (AS) menunjukkan pelemahan yang tidak terduga pada Juni. Meski demikian, kenaikan harga minyak akibat memanasnya ketegangan di Timur Tengah masih mempertahankan kekhawatiran pasar terhadap inflasi dan prospek suku bunga tinggi.
Harga emas spot turun 0,2% menjadi US$ 4.047,27 per troy ons setelah sebelumnya sempat melemah hampir 1% pada awal sesi. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat turun 0,4% menjadi US$ 4.053,70 per troy ons.
Baca Juga
Harga Emas Turun, OJK Optimistis Prospek Industri Gadai Nasional Tetap Menjanjikan
"Harga emas telah mengurangi kerugian dari pagi tadi karena data PPI (Producer Price Index), lebih rendah dari perkiraan dan meredakan beberapa kekhawatiran tentang kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga beberapa kali tahun ini," kata Kepala Ahli Strategi Pasar Blue Line Futures Phillip Streible dilansir CNBC.
Sentimen positif tersebut muncul setelah Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat melaporkan Indeks Harga Produsen atau Producer Price Index (PPI), indikator yang mengukur perubahan harga di tingkat produsen, turun 0,3% pada Juni. Penurunan itu berbalik dari kenaikan 0,6% pada Mei yang telah direvisi lebih rendah.
Hasil tersebut juga lebih lemah dibandingkan ekspektasi ekonom yang disurvei Reuters, yang sebelumnya memperkirakan PPI tidak berubah dibandingkan bulan sebelumnya. Data tersebut melengkapi laporan inflasi konsumen Amerika Serikat yang sehari sebelumnya juga menunjukkan perlambatan lebih besar dari perkiraan. Kombinasi kedua data itu memperkuat keyakinan pasar bahwa tekanan inflasi mulai mereda.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan peluang Federal Reserve menaikkan suku bunga pada pertemuan Juli turun menjadi sekitar 10,2%, dibandingkan 16,6% sebelum data PPI diumumkan.
Risiko Geopolitik Masih Membayangi
Di sisi lain, sentimen positif dari data inflasi belum mampu mengangkat harga emas lebih tinggi karena pasar juga menghadapi meningkatnya risiko geopolitik. Amerika Serikat menyatakan telah memulai gelombang serangan baru terhadap Iran setelah kembali memberlakukan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Sebagai respons, Iran mengancam akan menghentikan lebih banyak ekspor energi dari kawasan tersebut.
Situasi tersebut mendorong harga minyak kembali naik pada perdagangan Rabu dan meningkatkan kekhawatiran bahwa biaya energi yang lebih tinggi akan kembali memicu inflasi global.
"Perkembangan terkini seputar Selat Hormuz telah menghidupkan kembali kekhawatiran tentang tekanan harga yang tak terkendali. Jika ketegangan meningkat lebih lanjut, yang mengakibatkan harga minyak lebih tinggi, hal ini dapat membuat emas rentan terhadap risiko penurunan," kata Analis Riset Senior FXTM Lukman Otunuga.
Baca Juga
Menurut Otunuga, secara teknikal emas masih berada pada titik penting. "Penurunan tajam di bawah titik ini dapat membuka peluang menuju US$ 3.950 dan US$ 3.000. Jika US$ 4.000 terbukti menjadi level support yang andal, harga mungkin akan pulih kembali menuju US$ 4.100," ujarnya.
Kenaikan harga minyak dinilai dapat memperpanjang tekanan inflasi sehingga bank sentral berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi tersebut biasanya mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbunga.
Sementara itu, logam mulia lainnya juga bergerak bervariasi. Harga perak spot turun 1,6% menjadi US$ 57,67 per troy ons. Harga platinum naik 0,2% menjadi US$ 1.634,13 per troy ons, sedangkan palladium melemah 0,8% menjadi US$ 1.294,25 per troy ons.
