100 Tahun Panas Bumi, PGE (PGEO) Bidik Kapasitas 1,8 GW pada 2034
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) atau PGE, perusahaan pengembang energi panas bumi milik Pertamina, mempercepat pengembangan panas bumi nasional melalui inovasi teknologi, kolaborasi lintas sektor, dan diversifikasi pemanfaatan energi. PGE menargetkan kapasitas terpasang yang dikelola secara mandiri mencapai 1,8 GW pada 2034
Komitmen tersebut disampaikan pada momentum satu abad pengembangan panas bumi Indonesia dalam The 5th ITB International Geothermal Workshop (IIGW) 2026 di Bandung, yang menjadi ajang mempertemukan pemerintah, pelaku industri, akademisi, investor, dan pemangku kepentingan.
Direktur Operasi PGE Andi Joko Nugroho mengatakan satu abad perjalanan panas bumi menjadi fondasi memasuki babak baru pengembangan energi bersih di Indonesia. Panas bumi tidak hanya akan berperan sebagai sumber pembangkit listrik, tetapi juga menjadi penggerak pertumbuhan industri rendah karbon.
"100 tahun perjalanan panas bumi Indonesia membuktikan bahwa energi panas bumi telah menjadi salah satu fondasi penting ketahanan energi nasional. Ke depan, fokus PGE adalah mempercepat inovasi teknologi, memperluas pemanfaatan panas bumi di luar sektor kelistrikan, serta memperkuat kolaborasi agar potensi besar yang dimiliki Indonesia dapat memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat dan perekonomian nasional," ujar Andi Joko Nugroho dikutip Rabu (15/7/2026).
Baca Juga
Fokus Nilai Tambah dan Keberlanjutan, Pertamina Geothermal (PGEO) Tuai Prestasi
Pengembangan panas bumi di Indonesia bermula dari survei manifestasi panas bumi di Kamojang yang dilanjutkan dengan pengeboran eksplorasi pertama pada 1926. Sejak itu, Indonesia berkembang menjadi salah satu produsen listrik panas bumi terbesar di dunia dengan potensi mencapai sekitar 24 gigawatt (GW), terbesar kedua di dunia.
Potensi tersebut menjadi modal strategis untuk memperkuat ketahanan sekaligus mendukung target swasembada energi nasional. Sebagai energi baru terbarukan yang mampu memasok listrik selama 24 jam tanpa bergantung pada cuaca, panas bumi juga dinilai mampu menopang kebutuhan industri hijau yang membutuhkan pasokan energi bersih dan stabil.
PGE terus mengembangkan berbagai inovasi agar pemanfaatan panas bumi tidak terbatas pada pembangkitan listrik. Perseroan mengembangkan pemanfaatan langsung (direct use) untuk sektor pertanian dan industri, sekaligus mengembangkan green hydrogen atau hidrogen hijau sebagai bagian dari ekosistem energi rendah karbon.
Akademisi Geotermal Institut Teknologi Bandung (ITB) Nenny Miryani Saptadji mengatakan panas bumi memiliki potensi menjadi sumber energi berkelanjutan apabila dikelola secara tepat. Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang menjadi contoh pengelolaan panas bumi yang berkelanjutan di Indonesia.
“Panas bumi ini tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan generasi saat ini, tetapi juga menjadi warisan bagi generasi mendatang. Karena itu, saya mengajak para mahasiswa untuk mempelajari dan mengembangkan panas bumi sebagai bagian dari masa depan energi Indonesia,” ungkap Nenny.
Komitmen PGE dalam pengembangan industri panas bumi juga mendapat pengakuan pada ajang IIGW 2026 melalui penghargaan Ganesha Geothermal Award for Outstanding Funding dan Ganesha Geothermal Award for Long-Term Commitment. Penghargaan tersebut diberikan atas kontribusi perusahaan dalam mendukung riset, pendidikan, inovasi, dan pengembangan industri panas bumi di Indonesia.
Bidik Kapasitas 1,8 GW
Di sisi operasional, PGE mempercepat transformasi digital melalui pengembangan teknologi pengujian sumur dan digitalisasi operasi untuk meningkatkan akurasi data, efisiensi operasional, serta mempercepat pengambilan keputusan dalam pengembangan lapangan panas bumi.
Andi Joko Nugroho menegaskan percepatan pengembangan panas bumi membutuhkan sinergi yang kuat antara pemerintah, industri, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan.
Baca Juga
Tiga Proyek Panas Bumi Masuk Green Book 2026, PGE (PGEO) Kantongi Pendanaan Global Rp 8,6 Triliun
“Melalui penguatan inovasi, kolaborasi lintas sektor, serta perluasan pemanfaatan panas bumi, PGE optimistis dapat memperkuat posisinya sebagai world-leading geothermal producer sekaligus geothermal centre of excellence. Ke depan, Perseroan akan terus mengoptimalkan aset eksisting, mendorong ekspansi bisnis, sekaligus mengembangkan berbagai sumber pendapatan masa depan (future revenue streams) melalui inovasi dan diversifikasi pemanfaatan energi panas bumi,” ujar Andi.
Selain itu, PGE berkontribusi menghindari emisi sekitar 4,29 juta ton karbon dioksida ekuivalen (CO₂e) dibandingkan pembangkit listrik berbasis energi fosil. Perseroan juga mencatat intensitas emisi sebesar 0,041 ton CO₂e per megawatt hour (MWh), yang menunjukkan panas bumi sebagai salah satu sumber energi rendah karbon dengan tingkat emisi sangat rendah.
Sebagai bagian dari strategi pertumbuhan jangka panjang, PGE menargetkan kapasitas terpasang yang dikelola secara mandiri mencapai 1 GW pada 2028. Kapasitas tersebut kemudian ditingkatkan menjadi 1,8 GW pada 2034 guna memperkuat kontribusi perusahaan dalam pengembangan industri panas bumi nasional sekaligus mendukung ketahanan dan swasembada energi Indonesia.
