Harga Emas Melonjak 1,6% Seusai Inflasi AS Melambat
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Harga emas melonjak lebih dari 1% pada perdagangan Selasa (14/7/2026) setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) menunjukkan perlambatan yang lebih besar dari perkiraan pasar. Data tersebut mendorong investor memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed), sehingga meningkatkan daya tarik emas.
Harga emas berjangka Amerika Serikat sempat turun ke level terendah sejak 1 Juli sebelum berbalik menguat. Pada akhir perdagangan, kontrak emas ditutup naik 1,6% menjadi US$ 4.069,70 per ons, setelah sebelumnya diperdagangkan di US$ 4.046,64 per ons atau naik 1,2%.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Naik ke Rp 2,650 Juta per Gram, 'Buyback' Ikut Menguat
Penguatan emas juga didukung pelemahan dolar AS sebesar 0,3%. Melemahnya mata uang Negeri Paman Sam membuat emas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar menjadi lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang lain, sehingga meningkatkan permintaan.
Pedagang logam independen Tai Wong mengatakan lonjakan harga emas dipicu oleh laporan inflasi yang jauh lebih lemah dibandingkan perkiraan pasar.
"Harga emas melonjak lebih tinggi setelah laporan CPI (consumer price index) yang mengejutkan karena angka utamanya turun drastis, tetapi yang lebih penting, angka inti tidak berubah dibandingkan dengan 0,2%. Hal ini seharusnya menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga secara tajam setidaknya untuk pertemuan Juli dan September," kata Tai Wong dilansir CNBC.
Data Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat menunjukkan inflasi konsumen atau CPI melambat menjadi 3,5% secara tahunan pada Juni, setelah mencapai 4,2% pada Mei. Angka tersebut lebih rendah dari ekspektasi pasar dan memperkuat pandangan bahwa tekanan harga mulai mereda.
Baca Juga
Sementara itu, inflasi inti atau core CPI secara bulanan tidak mengalami perubahan pada Juni, setelah sebelumnya naik 0,2% pada Mei. Inflasi inti merupakan indikator yang tidak memasukkan komponen harga pangan dan energi yang cenderung berfluktuasi sehingga sering dijadikan acuan utama oleh The Fed dalam menentukan arah kebijakan moneter.
Data inflasi yang lebih lemah segera mengubah ekspektasi pasar terhadap langkah The Fed. Setelah laporan tersebut dirilis, para pelaku pasar menutup posisi taruhan bahwa bank sentral Amerika Serikat masih akan menaikkan suku bunga pada pertemuan 28-29 Juli.
