Vertiv Sebut Indonesia Masih Jadi Magnet Investasi 'Data Center'
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Permintaan data center di Indonesia terus meningkat seiring pesatnya adopsi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), komputasi awan (cloud), dan transformasi digital.
PT Vertiv Indonesia, perusahaan penyedia infrastruktur digital global asal Amerika Serikat, menilai Indonesia masih menjadi salah satu pasar paling menarik di kawasan atau Asia Temggara karena hampir setiap kapasitas baru yang dibangun telah memiliki calon penyewa.
Baca Juga
Data Center Batam Telkom Laris Manis, Kapasitas Penuh Sebelum Beroperasi
Sales Director PT Vertiv Indonesia Mario Leonardo Tjandra mengatakan pertumbuhan industri data center nasional tidak hanya didorong oleh kebutuhan dalam negeri, tetapi juga meningkatnya permintaan dari kawasan regional. Perubahan kebijakan di sejumlah negara serta kenaikan biaya listrik membuat banyak perusahaan mempertimbangkan memindahkan kapasitas komputasi ke negara dengan biaya operasional yang lebih kompetitif, termasuk Indonesia.
Mario mengatakan Indonesia memiliki keunggulan berupa jumlah penduduk yang besar sekaligus menjadi sumber data yang dibutuhkan dalam pengembangan AI. "Perusahaan-perusahaan yang mau melakukan AI learning akan masuk ke Indonesia karena mereka juga butuh crunching data orang Indonesia," kata Mario dalam office visit Vertiv Indonesia yang dihadiri Investortrust di Jakarta, Selasa (14/7/2026).
Ia memperkirakan perusahaan teknologi berskala global akan menjadi gelombang pertama investasi AI. Setelah itu, perusahaan lapis kedua akan mengikuti dengan membangun kapasitas komputasi baru sehingga kebutuhan data center terus bertambah.
Menurut Mario, permintaan tersebut masih jauh dari titik jenuh. Operator data center bahkan tetap memperoleh pelanggan meski kapasitas baru terus dibangun. "Indonesia sekarang bangun berapa pun ada saja customer," ujarnya.
Ia mengibaratkan bisnis data center, seperti pusat perbelanjaan yang membutuhkan penyewa utama atau anchor tenant sebagai fondasi bisnis sebelum menarik penyewa lain. Dalam industri ini, operator hyperscale menjadi penyewa utama dengan kebutuhan daya listrik yang sangat besar, sedangkan pelanggan lain memanfaatkan kapasitas yang tersisa.
Efisiensi Energi Jadi Prioritas
Selain kapasitas, pelanggan kini semakin memperhatikan efisiensi energi ketika membangun maupun memperluas data center. Mario mengatakan keputusan investasi tidak lagi hanya mempertimbangkan harga awal pembangunan, tetapi biaya operasional selama masa penggunaan fasilitas.
Sebagian pelanggan memilih solusi dengan investasi awal lebih rendah, sementara pelanggan lain lebih mengutamakan teknologi premium yang mampu menghemat konsumsi listrik dalam jangka panjang.
Baca Juga
AI Diprediksi Jadi Mesin Pertumbuhan 'Data Center' Indonesia
Vertiv juga menyediakan layanan modernisasi bagi data center yang telah beroperasi selama bertahun-tahun agar efisiensi energi meningkat tanpa mengurangi kemampuan komputasi.
Selain meningkatkan efisiensi sistem pendinginan, perusahaan juga membantu pelanggan mengganti refrigeran atau zat pendingin yang sudah tidak lagi diproduksi akibat perubahan regulasi lingkungan.
Mario menilai langkah tersebut menjadi penting karena biaya listrik merupakan salah satu komponen terbesar dalam operasional data center. Penggunaan teknologi pendinginan yang lebih efisien dapat memberikan penghematan biaya yang signifikan sepanjang umur fasilitas.
