Punya 3 Kekuatan Ini, Hashim: Indonesia Bisa Jadi Magnet Investasi Data Center AI di Dunia
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Founder and Chairman Arsari Group Hashim Djojohadikusumo menyebutkan bahwa Indonesia memiliki modal kuat untuk menjadi tujuan investasi pusat data (data center) berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Menurut Hashim, industri pusat data AI membutuhkan tiga kebutuhan utama, yakni lahan, energi, dan air. Indonesia dinilai memiliki ketiga kebutuhan tersebut, sehingga berpotensi menarik investasi di sektor AI.
Dia mengungkapkan, sejumlah investor telah menghubunginya untuk menjajaki investasi di sektor AI. Kebutuhan terhadap infrastruktur menjadi salah satu pertimbangan utama investor dalam mengembangkan pusat data AI.
Baca Juga
Menakar Prospek Saham DSSA Jelang Beroperasinya Data Center SMX01 Investasi US$ 300 Juta
“Saya juga sampaikan bahwa saya sendiri sudah dihubungi oleh banyak sekali investor yang ingin berinvestasi di AI. Ketika mereka mau investasi di pusat data AI, mereka butuh lahan, butuh energi, butuh air, dan sekarang kita punya segalanya,” ujar Hashim dalam peluncuran RAIA Grid di Jakarta, Rabu (26/8/2026).
Menurut adik kandung Presiden Prabowo itu, Indonesia memiliki sumber daya energi dan air yang besar. Ia menilai kebutuhan energi juga akan semakin meningkat, seiring dengan pertumbuhan AI dan pusat data.
“Karena AI dan teknologi informasi membutuhkan energi. Anda membutuhkan energi dalam jumlah besar. Dan semua pusat data tidak akan berfungsi tanpa energi,” sambungnya.
Pendukung Data Center
Hashim juga menyoroti potensi sumber daya gas Indonesia untuk mendukung kebutuhan energi pusat data AI. Namun, ia menyebut tingginya kandungan karbon dioksida (CO2) pada sejumlah lapangan gas selama ini menjadi salah satu hambatan keekonomian.
“Masalah terbesar yang dihadapi sampai sekarang adalah kadar karbondioksida (CO2) dari gas tersebut sangat tinggi. Sampai 70% dari gas yang dimiki Indonesia di beberapa lapangan itu adalah CO2. Ada yang 40%, hingga 30% yang selama ini menjadi beban besar dan itu merupakan liabilitas,” ujarnya.
Baca Juga
Namun, menurut Hashim, perkembangan teknologi memungkinkan CO2 diolah menjadi aset melalui pemanfaatannya sebagai feedstock untuk budidaya mikroalga. Indonesia dinilai memiliki tiga kebutuhan utama untuk pengembangan mikroalga, yakni sinar matahari, air, dan CO2.
Hashim mengatakan pemanfaatan mikroalga berpotensi menghasilkan biofuel dan energi alternatif. Jika teknologi tersebut berkembang, gas alam domestik yang selama ini kurang ekonomis karena kandungan CO2 tinggi berpotensi memiliki nilai tambah baru.
Di sisi lain, Hashim menilai Indonesia masih perlu memperkuat talenta AI untuk menangkap peluang investasi di sektor tersebut. Menurutnya, edukasi, pelatihan, dan penciptaan lapangan kerja bagi talenta muda menjadi faktor penting dalam pengembangan ekosistem AI di Indonesia.
Baca Juga
Dukung Target Ekonomi 8%, Menko Airlangga Dorong Penguatan Kawasan Industri dan Data Center
Hashim optimistis penguatan infrastruktur digital dapat membuka lebih banyak aktivitas ekonomi baru di Indonesia. “Terakhir, pemerintah sangat berkomitmen untuk mencapai pertumbuhan ekonomi di atas 8% per tahun. Kami sangat terdorong dan optimistis dapat mencapainya,” tandasnya.
Sebelumnya, Arsari Group dan Indosat Ooredoo Hutchison (ISAT) melalui PT Infra Fiber Teknologi (IFT) resmi meluncurkan RAIA Grid. Platform tersebut menggabungkan lebih dari 86.000 km infrastruktur fiber dengan Machine Learning, AI, dan Agentic AI.
RAIA Grid dirancang sebagai infrastruktur digital berbasis AI dengan model open-access. Infrastruktur tersebut ditujukan untuk menghubungkan operator telekomunikasi, pusat data, penyedia cloud, hyperscaler, hingga korporasi.
