Kadin Ungkap Nilai Ekspor Indonesia Tembus US$300 Miliar Ditopang Sektor Manufaktur
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai peluang peningkatan ekspor nasional masih sangat besar, terutama dari sektor komoditas utama yang selama ini menjadi penopang utama perdagangan Indonesia di pasar global.
Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie mengatakan, nilai ekspor Indonesia saat ini mencapai sekitar US$300 miliar. Dari jumlah tersebut, sekitar US$60 miliar berasal dari komoditas utama seperti batu bara, minyak sawit atau crude palm oil (CPO), hingga besi.
Sementara itu, menurut Anindya Bakrie sisanya sekitar US$ 240 miliar berasal dari berbagai produk manufaktur dan industri lainnya di luar komoditas utama. Hal tersebut disampaikannya usai mengunjungi Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso.
"Angkanya kurang lebih sekitar US$300 miliar. Sekitar US$60 miliar memang banyak berasal dari batu bara, palm oil, maupun besi. Namun sisanya, sekitar US$240 miliar, juga sangat besar dan banyak melibatkan perusahaan-perusahaan di bawah anggota Kadin," ujar Anindya di Kantor Kemendag, Jakarta, Selasa (14/7/2026).
Baca Juga
Kadin Ungkap Peran Indonesia di Rantai Pasok Global, 80 Merek Global Pakai Produk RI
Menurut Anindya, besarnya kontribusi ekspor nonkomoditas menunjukkan bahwa Indonesia semakin berperan dalam rantai pasok global. Berbagai produk dan komponen buatan Indonesia telah digunakan oleh perusahaan-perusahaan multinasional di berbagai sektor, mulai dari otomotif, furnitur, fesyen, hingga kedirgantaraan.
Lebih lanjut, Ketum Kadin Anindya juga menyatakan Kadin akan memperkuat kolaborasi dengan Kementerian Perdagangan dalam meningkatkan jumlah eksportir, termasuk melalui pembinaan UMKM berorientasi ekspor dan pemanfaatan jaringan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) di berbagai negara.
"Dan juga tadi kita bicara bagaimana Kadin diberikan kesempatan untuk bekerja sama untuk mendidik UMKM untuk ekspor yang sudah ada di Kemendag. Kami juga ingin berkolaborasi bahkan juga dengan ITPC atau pusat atau apa kantor-kantor di negara-negara yang memang fokusnya untuk memperbesar perdagangan," imbuhnya.
