Mendag Optimistis Neraca Perdagangan Juni 2026 Kembali Surplus, Harga Minyak Jadi Faktor Kunci
JAKARTA, investortrust.id – Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso optimistis neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2026 kembali surplus setelah mengalami defisit pada Mei 2026. Penurunan harga minyak dunia menjadi faktor utama yang berpotensi mendorong perbaikan kinerja neraca perdagangan.
"Nudah-mudahan bulan Juni bisa membaik karena grafik harga minyak sudah mulai turun. Tentu kita berharap kondisinya tetap stabil," ujar Budi saat ditemui di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat, Selasa (14/7/2026).
Baca Juga
Surplus 72 Bulan Berturut-turut Berakhir, Neraca Perdagangan Indonesia Defisit pada Mei 2026
Budi menjelaskan, defisit neraca perdagangan pada Mei 2026 terutama dipicu lonjakan harga minyak dunia yang sempat mencapai US$100 per barel. Secara volume, impor migas maupun nonmigas sebenarnya mengalami penurunan. Namun, nilai impor meningkat akibat kenaikan harga minyak. "Volume impor migas maupun nonmigas sebenarnya turun. Tetapi nilainya naik karena saat itu harga minyak sedang tinggi," katanya.
Ia mengungkapkan, defisit pada Mei dipicu tingginya impor migas yang mencapai sekitar US$3,7 miliar. Di sisi lain, neraca perdagangan nonmigas masih mencatatkan surplus sekitar US$2,1 miliar, sehingga secara keseluruhan neraca perdagangan mengalami defisit sekitar US$1,6 miliar.
Baca Juga
Meski demikian, Budi menegaskan kinerja perdagangan Indonesia secara kumulatif masih berada di jalur positif. Sepanjang Januari-Mei 2026, neraca perdagangan masih mencatatkan surplus sekitar US$4 miliar.
Selain itu, nilai ekspor Indonesia selama lima bulan pertama 2026 juga tumbuh sekitar 3,02% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. "Secara kumulatif Januari-Mei kita masih surplus sekitar US$4 miliar dan ekspor juga naik 3,02%. Memang pada Mei terjadi defisit," ujar mantan Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan tersebut.
