Takeda Investasikan Rp 539 Miliar untuk Bangun Bank Plasma Pertama di Indonesia
JAKARTA, investortrust.id – Pemerintah melalui Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyambut komitmen investasi dari perusahaan biofarmasi asal Jepang, Takeda, untuk mengembangkan ekosistem produk obat derivat plasma (PODP) di Indonesia.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan P Roeslani mengatakan, keputusan investasi Takeda menunjukkan tingginya kepercayaan investor global terhadap prospek investasi Indonesia, khususnya di sektor industri kesehatan berteknologi tinggi.
"Investasi ini merupakan investasi strategis yang tidak hanya menghadirkan tambahan modal, tetapi juga membuka peluang transfer teknologi, pengembangan sumber daya manusia, serta penciptaan lapangan kerja berketerampilan tinggi," ujar Rosan dalam keterangan tertulis, Selasa (14/7/2026).
Baca Juga
OJK Nilai Tambahan Dana SAL ke Himbara Rp 400 Triliun Jadi Peluang untuk Pendanaan Industri Pindar
Pada tahap awal, Takeda berkomitmen menginvestasikan US$ 30 juta atau sekitar Rp 539 miliar dalam periode dua tahun. Dana tersebut akan digunakan untuk membangun jaringan bank plasma sebagai fondasi pengembangan industri plasma nasional.
Pembangunan bank plasma ini menjadi langkah awal dalam memperkuat infrastruktur kesehatan nasional sekaligus mendukung kemandirian Indonesia dalam penyediaan produk obat derivat plasma.
Pemerintah menargetkan bank plasma pertama di Indonesia mulai beroperasi pada 2027. Seluruh jaringan plasma yang dikembangkan nantinya dirancang memenuhi standar internasional.
Baca Juga
BKPM Sebut Ekspansi Data Center STT GDC Perkuat Daya Tarik Investasi Digital Indonesia
Menurut Rosan, investasi tersebut diharapkan memberikan dampak ekonomi yang luas, tidak hanya melalui penanaman modal, tetapi juga mendorong alih teknologi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta penciptaan lapangan kerja berkeahlian tinggi.
Kerja sama ini juga sejalan dengan agenda transformasi ekonomi nasional melalui hilirisasi sektor kesehatan untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
Masuknya Takeda semakin memperkuat hubungan investasi Indonesia dan Jepang. Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Jepang menempati posisi kelima sebagai investor terbesar di Indonesia pada triwulan I-2026 dengan nilai investasi mencapai US$1 miliar.
Baca Juga
Di Tengah Pelemahan Bursa Asia, IHSG Melesat 0,67% Pagi Ini Berkat Reli Saham Berikut
Secara kumulatif, realisasi investasi Jepang di Indonesia sepanjang 2021 hingga triwulan I-2026 mencapai US$18,1 miliar, dengan rata-rata pertumbuhan 13,2% dan telah menyerap 299.460 tenaga kerja.
Pemerintah berharap kolaborasi tersebut dapat meningkatkan akses masyarakat terhadap produk obat derivat plasma sekaligus membangun ekosistem industri biofarmasi nasional yang lebih berdaya saing, inovatif, dan berkelanjutan.
