Indonesia Pamer Mandatori Biodiesel B50 di Ajang INNOPROM 2026 Rusia
Poin Penting
|
EKATERINBURG, Investortrust.id -- Sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia, Indonesia memanfaatkan Forum Bisnis Indonesia–Rusia pada ajang INNOPROM 2026 di Ekaterinburg, Rusia, untuk memamerkan kesiapan industri domestik dalam mendukung transisi energi global, salah satunya lewat penerapan mandatori biodiesel B50 yang mulai berlaku Juli 2026.
Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional Kementerian Perindustrian RI, Tri Supondy, dikutip laman resmi Kemenperin, Sabtu (11/7/2026). Dalam kesempatan itu, Indonesia juga memperkenalkan berbagai kebijakan strategis yang mendukung keberlanjutan industri sawit, mulai dari program peremajaan kebun rakyat, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, hingga pengembangan teknologi di industri biodiesel dan produk turunannya melalui Indonesia Plantation Fund.
Selain itu, penerapan sistem sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil terus diperkuat secara masif agar produksi kelapa sawit Indonesia memenuhi standar keberlanjutan global dan semakin kompetitif di pasar internasional.
Forum yang mengangkat tema Palm Oil and the Future of Sustainable Energy ini menjadi wadah krusial untuk memperkenalkan inovasi industri nasional sekaligus membuka peluang kerja sama investasi, perdagangan, dan pengembangan teknologi dengan Rusia serta negara-negara di kawasan Eurasia. Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Agus Gumiwang Kartasasmita, mengutarakan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemain utama dalam pengembangan bioenergi berbasis kelapa sawit melalui kerja sama dengan Rusia dan negara-negara Eurasia.
Baca Juga
ESDM Pastikan Pasokan FAME Aman, Produksi Minimal 16,7 Juta Ton untuk Dukung B50
Melalui inovasi, hilirisasi, dan kerja sama internasional, pemerintah ingin menjadikan industri sawit tidak hanya sebagai penggerak ekonomi nasional, tetapi juga sebagai bagian dari solusi menuju ketahanan energi dan pembangunan industri yang berkelanjutan. Partisipasi aktif Indonesia dalam forum ini sekaligus mencerminkan komitmen kuat untuk memperluas akses pasar industri nasional di tengah meningkatnya kebutuhan dunia terhadap energi yang lebih bersih.
Tri Supondy menambahkan bahwa forum yang dihadiri oleh lebih dari 100 pemimpin industri, pejabat pemerintah, dan pelaku usaha ini menjadi ruang dialog yang sangat efektif bagi kedua negara untuk saling bertukar pengalaman. Menurutnya, forum ini sangat bagus dan merupakan kesempatan berharga untuk menyampaikan bahwa Indonesia bukan cuma menuju energi yang lebih bersih dan berkelanjutan, tapi juga terus berinovasi melalui produk unggulan industri nasional.
Kesiapan operasional biodiesel B50 yang dipaparkan menjadi bukti nyata karena program tersebut mewajibkan penggunaan bahan bakar diesel yang mengandung 50 persen biodiesel berbahan baku minyak sawit. Kebijakan ini dinilai mampu mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil impor, memperkuat ketahanan energi nasional, serta menekan emisi karbon dunia secara signifikan.
Keberhasilan program biodiesel nasional tersebut sejalan dengan agenda transisi energi dan pembangunan berkelanjutan yang didukung penuh oleh kelembagaan dalam negeri. Direktur Urusan Hukum dan Kerja Sama Kelembagaan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit, Pangihutan Siagian, menjelaskan bahwa dukungan BPDPKS juga mencakup program peremajaan kebun rakyat, pengembangan sumber daya manusia, riset dan inovasi, serta pembangunan sarana dan prasarana perkebunan untuk memperkuat daya saing industri sawit Indonesia dari hulu hingga hilir.
Selain mempromosikan aspek inovasi lingkungan, forum ini menjadi momentum emas untuk memperluas kerja sama ekonomi komprehensif melalui penyelesaian perjanjian perdagangan bebas antara Indonesia dan Uni Ekonomi Eurasia. Melalui kedekatan hubungan bilateral ini, kolaborasi di sektor bioenergi diharapkan menjadi pintu masuk strategis bagi investasi, transfer teknologi, dan perluasan akses pasar produk manufaktur Indonesia di kawasan Eurasia.
