Gabung Pax Silica, Indonesia Siap Masuk Persaingan Global Industri AI
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id -- Bergabung dalam inisiatif dan koalisi internasional Pax Silica yang bertujuan memperkuat keamanan dan ketahanan rantai pasok teknologi canggih, terutama semikonduktor, akal imitasi, dan mineral tanah jarang atau rare earth, Pemerintah Indonesia akan masuk dalam papan persaingan industri pengembangan AI. Hal ini disampaikan Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, di kantor, Jakarta, Jumat (10/7/2026).
“Jadi AI ini menjadi salah satu peluncur pertumbuhan ekonomi ke depan karena semua negara starting line-nya sama,” ujarnya.
Airlangga menjelaskan bahwa Pax Silica merupakan sebuah koalisi global yang dipimpin oleh Amerika Serikat. Meskipun saat ini pengembangan kecerdasan buatan masih didominasi oleh raksasa teknologi asal Negeri Paman Sam tersebut, ia sangat optimistis Indonesia memiliki peluang dan potensi yang setara untuk bersaing secara global.
Optimisme ini didukung oleh lonjakan kapasitas pusat data nasional yang sangat signifikan. Saat ini, kapasitas data center di Indonesia telah mencapai 580 megawatt dan diproyeksikan akan terus melonjak hingga mencapai 1,3 gigawatt dalam perencanaan yang sedang berjalan.
Selain kesiapan infrastruktur energi, Airlangga menerangkan bahwa kunci utama dari kesuksesan pengembangan kecerdasan buatan terletak pada kualitas sumber daya manusia. Sebagai langkah nyata untuk memenuhi kebutuhan tersebut, pemerintah telah menjalin kemitraan strategis dengan Arm Holdings, perancangan chip global yang terafiliasi dengan Nvidia. Langkah besar ini dirancang secara terintegrasi untuk melengkapi kebijakan hilirisasi mineral strategis yang tengah digalakkan di dalam negeri.
Baca Juga
Gandeng Arm Asal Inggris, Pemerintah Akan Perkuat Ekosistem AI untuk Tarik Investasi Data Center
Airlangga mengungkapkan bahwa Presiden telah memberikan arahan khusus agar program ini mampu mencetak 15.000 engineers dan tenaga kerja lokal untuk masuk dan berkontribusi langsung di dalam ekosistem teknologi Arm. Melalui program penyiapan talenta semikonduktor ini, Indonesia juga sekaligus memperkuat konektivitas digitalnya dengan jaringan global.
Guna mewujudkan interkoneksi global tersebut, pemerintah tengah mematangkan rencana bentangan kabel fiber optik strategis, yang meliputi rute Batam ke Singapura serta Bitung yang terhubung langsung ke Amerika Serikat. Kendati demikian, Airlangga mengingatkan bahwa operasional dari kedua jaringan infrastruktur raksasa ini tetap membutuhkan pasokan energi terbarukan yang ramah lingkungan.
Dalam penyediaan energi bersih tersebut, proyek energi terbarukan ini ditargetkan dapat melibatkan kelompok masyarakat kelas menengah baru. Mereka akan diberikan kesempatan luas untuk berpartisipasi langsung dalam program pemanfaatan panel surya nasional berkapasitas total 100 gigawatt.
Airlangga menambahkan bahwa Presiden Prabowo Subianto secara khusus meminta agar pengembangan program energi ini dilakukan melalui skema demokratisasi. Konsep ini dinilai sangat relevan mengingat Indonesia memiliki modal spasial berupa 80.000 area perdesaan dan perkotaan yang tersebar di seluruh wilayah nusantara, yang seluruhnya sangat potensial untuk dijadikan titik-titik baru pengembangan panel surya masa depan.
