IESR Soroti Risiko El Nino terhadap Ketahanan Sistem Kelistrikan Nasional
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Institute for Essential Services Reform (IESR), lembaga riset kebijakan energi, menilai gangguan listrik berskala luas yang terjadi di Sumatra dalam dua bulan terakhir menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia perlu segera mereformasi jaringan kelistrikan nasional. Langkah tersebut penting agar sistem listrik lebih tangguh menghadapi cuaca ekstrem, krisis iklim, perubahan pola konsumsi listrik, serta meningkatnya pemanfaatan energi terbarukan.
Penilaian tersebut disampaikan Direktur Program Transformasi Sistem Energi IESR Deon Arinaldo dalam webinar "Reformasi Jaringan Listrik Indonesia" pada Selasa (7/7/2026). Menurutnya, sistem kelistrikan nasional tidak lagi dapat dirancang hanya berdasarkan kondisi normal karena ancaman perubahan iklim semakin nyata.
Baca Juga
Indonesia-Singapura Percepat Ekspor Listrik Hijau, Target 3,4 GW
“Pemadaman listrik di Sumatra perlu dibaca sebagai sinyal bahwa sistem kelistrikan Indonesia membutuhkan reformasi jaringan. Cuaca ekstrem dan krisis iklim dapat mengganggu transmisi, distribusi, maupun pembangkit. Jika sistem tidak dirancang lebih tangguh, gangguan pada satu titik dapat menimbulkan dampak yang lebih luas,” kata Deon Arinaldo dikutip Kamis (9/7/2026).
IESR menilai risiko tersebut semakin besar karena fenomena El Nino diperkirakan mencapai puncaknya pada September hingga Oktober 2026. Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), El Nino telah memasuki kategori kuat dengan peluang mencapai 98%.
Ketika El Nino terjadi bersamaan dengan musim kemarau, volume air di bendungan berpotensi turun drastis sehingga mengurangi kemampuan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dalam menghasilkan listrik. Kondisi tersebut dapat memengaruhi keandalan pasokan listrik di berbagai wilayah.
IESR mengingatkan bahwa dampak El Nino terhadap sistem kelistrikan bukan sekadar potensi, tetapi pernah terjadi di Indonesia. Saat El Nino kuat pada 2015, sekitar 80% PLTA mengalami defisit air sehingga produksi listrik menurun.
Fenomena serupa kembali terjadi pada El Nino 2023. Saat itu, pemadaman listrik terjadi di Sulawesi Tengah dan sekitarnya akibat berkurangnya pasokan listrik dari PLTA Poso. Kapasitas pembangkit tersebut dilaporkan turun dari sekitar 500 MW menjadi hanya sekitar 160 MW akibat berkurangnya debit air.
Menurut IESR, tantangan ke depan semakin kompleks karena berbagai tekanan terhadap sistem kelistrikan dapat terjadi secara bersamaan. Penurunan produksi listrik dari PLTA, turunnya efisiensi pembangkit berbahan bakar fosil akibat suhu tinggi, serta meningkatnya permintaan listrik dapat muncul dalam waktu yang sama.
“Skenario seperti ini perlu diuji dalam perencanaan sistem kelistrikan nasional. Kita tidak bisa lagi merancang sistem hanya berdasarkan kondisi normal. Perencanaan ketenagalistrikan harus memasukkan risiko iklim, cuaca ekstrem, dan kebutuhan fleksibilitas jaringan. Solusinya, Indonesia perlu mendorong agar ada peningkatan pembangkit energi terbarukan terdistribusi merata dan distributed energy resources, seperti baterai di kendaraan listrik, serta ancillary service, fleksibilitas sistem kelistrikan yang kuat dan memungkinkan aset-aset yang tersebar ini bisa optimal mendukung keandalan sistem kelistrikan,” ujar Deon.
Tiga Langkah Reformasi
Untuk memperkuat ketahanan jaringan listrik nasional, IESR mengusulkan tiga langkah utama. Pertama, pemerintah perlu memodernisasi jaringan listrik sekaligus memperbarui aturan operasi sistem kelistrikan atau grid code dan distribution code. Pembaruan tersebut diperlukan agar sistem mampu mengakomodasi pembangkit energi terbarukan variabel, seperti pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB), sekaligus mendukung mekanisme demand response serta layanan penunjang sistem (ancillary services).
Langkah kedua adalah menyusun strategi nasional pengembangan jaringan listrik dengan standar ketahanan iklim yang lebih maju. Strategi tersebut perlu dilengkapi indikator keandalan yang lebih ketat serta proyeksi risiko bencana akibat perubahan iklim, termasuk El Nino ekstrem, banjir, dan longsor. Dengan demikian, kepastian investasi serta keberlanjutan infrastruktur kelistrikan dapat lebih terjamin.
Baca Juga
PLN Gandeng KKP Bangun Infrastruktur Listrik untuk Sektor Kelautan
Selanjutnya, IESR mendorong percepatan integrasi distributed energy resources (DER) atau sumber energi tersebar melalui penerapan teknologi jaringan pintar (smart grid). Sistem ini memungkinkan pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya atap, baterai penyimpanan energi, termasuk baterai kendaraan listrik, terhubung secara optimal ke jaringan distribusi sehingga meningkatkan fleksibilitas dan keandalan sistem kelistrikan nasional.
IESR menilai reformasi jaringan listrik menjadi prasyarat penting agar Indonesia mampu mempercepat transisi menuju energi bersih sekaligus menjaga keandalan pasokan listrik di tengah meningkatnya dampak perubahan iklim dan pertumbuhan kebutuhan energi.
