Lonjakan Trafik dan Ekosistem “Cashless” Piala Dunia 2026
Poin Penting
|
Oleh: Mario Devys - Founder Cianjur Creative Network dan Praktisi Ekosistem Kreatif Indonesia
INVESTORTRUST - “Infrastruktur publik digital yang inklusif mampu mendorong layanan keuangan, memperluas akses masyarakat terhadap layanan digital, dan menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi digital.” Begitulah yang disampaikan Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria saat berbicara soal ekosistem digital di Jakarta, 23 Juni 2026.
Infrastruktur itu pula yang sedang dibangun TVRI selaku pemegang hak siar ajang perhelatan olahraga terbesar dunia, Piala Dunia, pada tahun ini.
TVRI membangun infrastruktur yang beragam agar pertandingan-pertandingan Piala Dunia 2026 bisa dijangkau seluruh lapisan masyarakat. Selain lewat antena atau televisi terestrial, TVRI juga membangun jejaring yang memungkinkan masyarakat mengakses pertandingan secara digital, sejalan dengan era digitalisasi seperti saat ini.
TVRI bekerja sama dengan PT Folago Global Nusantara Tbk (IRSX) dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) untuk menghadirkan layanan over the top (OTT) agar masyarakat bisa menjangkau laga Piala Dunia 2026 secara digital.
Rinciannya, IRSX menyediakan layanan streaming melalui aplikasi FolaPlay. Sementara TLKM menyediakan layanan streaming melalui MaxStream milik anak usaha, PT Telekomunikasi Seluler atau Telkomsel.
IRSX juga memperluas ekosistem digital dengan menggandeng PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) melalui layanan internet broadband Internet Rakyat (IRA). Integrasi bisa memperkuat rantai nilai dari infrastruktur hingga konsumsi konten digital.
Selain itu, IRSX telah masuk ke dalam ekosistem PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) melalui integrasi sistem pembayaran GoPay jika ingin berlangganan nonton Piala Dunia.
Infrastruktur publik digital yang beragam dan terjangkau seluruh lapisan masyarakat, kultur atau sosial budaya, dan kemudahan sistem pembayaran, merupakan satu unit kesatuan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi digital. Dan momentum Piala Dunia 2026 bisa dimaksimalkan.
Lonjakan Trafik
Momentum Piala Dunia 2026 ini bisa dimanfaatkan untuk menaikkan trafik bagi TVRI atau MaxStream. Sementara bagi Folaplay yang merupakan platform streaming baru, ajang seperti Piala Dunia bisa menjadi engagement digital untuk memperkenalkan diri ke publik.
Secara trafik, konten seputar Piala Dunia 2026 paling banyak ditonton di kanal Youtube TVRI Nasional. Sebelum perhelatan Piala Dunia, akun Youtube TVRI Nasional menayangkan berita-berita reguler seperti kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke luar negeri, konflik Amerika Serikat-Iran, sampai ibadah haji. Namun, jumlah penonton jarang menyentuh angka 1.000 di kanal Youtube mereka.
Begitu Piala Dunia 2026 dihelat dan TVRI menayangkan siaran ulang atau highlight pertandingan, trafik langsung naik drastis. Highlight pertandingan perdana antara Meksiko versus Afrika Selatan misalnya, langsung tembus di angka 2 juta penonton di Youtube. Dalam daftar 10 besar jumlah penonton paling banyak di akun Youtube TVRI Nasional, delapan di antaranya highlight dari pertandingan Piala Dunia 2026.
Senada dengan itu, highlight pertandingan-pertandingan Piala Dunia 2026 di akun Youtube Folaplay juga banyak ditonton para pecinta bola. Highlight laga Piala Dunia 2026 relatif mudah untuk menjangkau ribuan penonton dalam satu hari, bahkan ratusan ribu hingga jutaan.
Ini belum dengan data melonjaknya jumlah penonton TVRI, pelanggan Maxstream dan Folaplay hingga aktivitas streaming platform-platform yang tersedia lewat pembayaran cashless.
Hidayat (35), salah satu yang memanfaatkan ekosistem digital dengan berlangganan televisi digital karena Piala Dunia 2026. Meski sudah ada televisi terestrial di rumah, Hidayat tetap berlangganan MaxStream agar laga-laga Piala Dunia bisa dijangkau di mana saja saat dia tidak di rumah.
“Awal-awal emang banyak gangguan, sekarang sudah bagus tayangannya,” ujar penggemar Liverpool yang menjagokan timnas Inggris di Piala Dunia kali ini.
Berbeda dengan Hidayat, Hugo (33) memilih belum berlangganan OTT untuk Piala Dunia 2026. Jika ketinggalan laga, Hugo bisa menonton highlight atau cuplikan gol lewat akun Youtube TVRI Nasional atau Folaplay. Ia memilih berkontribusi untuk lonjakan trafik Youtube seputar Piala Dunia 2026.
Direktur Utama TVRI Fiki Satari menyampaikan bahwa hak media dan/atau hak penyiaran resmi yang diperoleh TVRI dari FIFA memiliki cakupan lebih luas dari satu turnamen. Hak tersebut didasarkan pada Media Rights Agreement yang dibuat pada Desember 2025 dan mencakup sejumlah kompetisi FIFA hingga 2027.
“Hak ini mencakup Piala Dunia 2026, Piala Dunia U-17 2026, dan Piala Dunia Wanita 2027, dengan periode pemanfaatan hak siar sejak 180 hari sebelum dan 180 hari setelah event berakhir,” ujar Fiki di Kantor Pusat TVRI, Jakarta, 19 Juni 2026.
TVRI membuka akses publik melalui siaran TVRI Nasional dan TVRI Sport secara gratis. Di sisi lain, mitra resmi OTT dan direct to home (DTH) menghadirkan opsi tambahan bagi masyarakat yang membutuhkan fleksibilitas akses melalui perangkat digital maupun layanan satelit.
Sekali lagi, momentum Piala Dunia 2026 ini bisa dimanfaatkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi digital. Pemanfaatan itu bisa dimaksimalkan lewat media atau platform yang bisa dijangkau seluruh lapisan masyarakat.
Belum lagi, kemudahan dalam sistem pembayaran langganan Piala Dunia 2026 akan menambah pertumbuhan ekonomi digital lebih signifikan.
Sebab, berdasarkan data, Indonesia menguasai sekitar 40 persen ekonomi digital ASEAN dan diproyeksikan memiliki nilai ekonomi digital hingga 360 miliar dollar AS dalam beberapa tahun ke depan.
Namun, Wamenkomdigi Nezar Patria mengingatkan bahwa besarnya pasar tidak akan otomatis menjadikan Indonesia sebagai kekuatan teknologi global.
Masa depan ekonomi digital nasional ditentukan oleh kemampuan seluruh pemangku kepentingan membangun ekosistem yang terhubung, mulai dari infrastruktur, talenta, industri, hingga inovasi teknologi. TVRI, Maxstream, Folaplay, WIFI hingga GoTo sedang memperjuangkan itu, dan momentum Piala Dunia 2026 bisa dimanfaatkan dengan baik untuk membangun ekosistem digital secara berkelanjutan. ***
