PLN Siapkan Tambahan Listrik 19,1 GW hingga 2030, PLTS dan BESS Jadi Andalan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT PLN (Persero) menyiapkan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 19,1 gigawatt (GW) hingga 2030 guna memperkuat keandalan sistem kelistrikan nasional sekaligus mendukung percepatan transisi energi menuju sumber energi domestik dan energi baru terbarukan (EBT).
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan pada 2026 sistem kelistrikan Jawa akan memperoleh tambahan daya mampu pasok sebesar 5 GW dari posisi eksisting sebesar 35,9 GW.
Penambahan tersebut ditopang oleh kepastian pasokan sekitar 15 juta ton batu bara kalori menengah dengan spesifikasi 4.500-5.200 kcal/kg untuk memenuhi kebutuhan pembangkit milik PLN maupun pembangkit swasta atau independent power producer (IPP).
“Kemudian di tahun 2027 ini akan ada penambahan 4,6 GW pasokan listrik. Ini pertama datang dari pemanfaatan penambahan yaitu battery energy storage system (BESS) dari kelebihan energi pada sistem di Jawa dan juga dari pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS),” ungkap Darmawan dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR di Jakarta, Kamis (2/7/2026).
Menurut Darmawan, penggunaan BESS menjadi kunci untuk meningkatkan kemampuan sistem kelistrikan menyerap energi surya yang bersifat intermiten sekaligus memanfaatkan kelebihan pasokan listrik di sistem Jawa.
Baca Juga
PLN Ungkap Penyebab Pemadaman Bergilir di Jawa, Pasokan Batu Bara Jadi Kunci Pemulihan
PLN juga akan mendukung program percepatan pembangunan 100 GW PLTS yang menjadi salah satu program strategis Presiden Prabowo Subianto. Program tersebut tidak hanya mengandalkan PLTS darat, tetapi juga PLTS terapung yang dibangun di waduk-waduk.
“Salah satu tantangannya di proyek-proyek yang lalu adalah keterbatasan dari lahan, tetapi khusus untuk program dari Bapak Presiden Prabowo Subianto ini, lahan adalah menjadi bagian penugasan dari pemerintah dan juga menggunakan waduk-waduk, sehingga ini kami berkoordinasi secara intens dan juga secara kontinu dengan Kementerian ATR/BPN dan juga Kementerian ESDM,” kata Darmawan.
Kementerian ATR/BPN disebut telah mengusulkan sekitar 28.000 hektare lahan di Pulau Jawa. Setelah dipetakan dengan jaringan transmisi dan gardu induk PLN, sekitar 8.500 hektare dinilai siap dimanfaatkan untuk pembangunan PLTS dengan potensi kapasitas mencapai 8,5 gigawatt peak (GWp).
Selain itu, pembangunan PLTS berbasis waduk di Pulau Jawa diproyeksikan menambah kapasitas hingga 10 GWp. PLN juga menyiapkan proyek serupa di Bali dan Madura untuk mengurangi ketergantungan pembangkit berbahan bakar minyak.
“Sehingga dalam hal ini ini di tahun 2027 akan ada penambahan 4,6 gigawatt, di tahun 2028 ada penambahan 4,4 gigawatt, kemudian di 2029 ini ada percepatan pembangkit besar di mana ini bagian dari RUPTL yang kami percepat lelang sehingga pembangunan juga dipercepat ada 2,7 gigawatt, kemudian 2030 ada 2,4 gigawatt,” papar Darmawan.
