Banyak Hadapi Tantangan Global, Industri Mamin Tetap Optimistis Tumbuh 7%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Industri makanan dan minuman (mamin) tetap optimistis mampu mempertahankan pertumbuhan sekitar 7% hingga akhir 2026 meski menghadapi berbagai macam tekanan, mulai ketidakpastian geopolitik global, tingginya biaya energi, dan logistik.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman mengatakan kondisi industri mamin saat ini cukup beragam. Sejumlah subsektor masih mencatat pertumbuhan yang baik, sementara sebagian lainnya tumbuh lebih moderat.
Baca Juga
Sebut Stok Plastik Aman, Kemenperin Pastikan Industri Mamin Tak Naikan Harga
"Secara total, kami masih yakin kinerja industri makanan dan minuman tahun ini lebih baik dibandingkan tahun lalu. Kalau kuartal I tumbuh 7,4%, kami berharap sampai akhir tahun masih bisa bertahan di sekitar 7%," ujar Adhi saat ditemui di Jakarta, Kamis (2/7/2026).
Menurutnya, sejumlah kebijakan pemerintah mulai memberikan angin segar bagi industri. Di antaranya penurunan harga gas untuk sektor industri serta kebijakan pembebasan bea masuk sementara untuk bahan baku plastik yang dinilai dapat membantu menekan biaya produksi.
Meski demikian, Adhi menilai masih terdapat sejumlah persoalan yang perlu segera dibenahi. Tingginya biaya energi dan logistik masih menjadi beban bagi pelaku industri, sehingga diperlukan langkah lanjutan dari pemerintah untuk meningkatkan daya saing sektor manufaktur.
Baca Juga
Bos Pengusaha Mamin Was-was Pelabelan Gula Tinggi Berpotensi Tekan Penjualan
Selain itu, ia meminta pemerintah menciptakan regulasi yang lebih kondusif terkait pengadaan bahan baku. Menurutnya, fleksibilitas dalam memperoleh bahan baku dari berbagai sumber akan membantu industri memperoleh harga yang lebih kompetitif dan menjaga efisiensi produksi.
"Jadi kita terus berupaya menyampaikan ke pemerintah dan kita berharap pemerintah segera memperbaiki regulasi-regulasinya supaya bisa mendorong industri semakin kuat gitu," terangnya.
