Bos TMMIN: Industri Otomotif dan Komponen RI Tetap Tangguh
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Wakil Presiden Direktur Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Bob Azam menegaskan, industri otomotif dan komponen Indonesia masih tangguh dan memiliki resiliensi yang kuat di tengah berbagai tantangan global maupun domestik.
“Besarnya pasar dalam negeri dan kinerja ekspor yang tetap terjaga menjadi penopang utama daya tahan industri otomotif di dalam negeri,” ujar Bob dalam keterangan tertulis, Selasa (30/6/2026).
Bob Azam mengakui, penjualan otomotif mengalami penurunan dalam tiga tahun terakhir sehingga turut berdampak pada industri komponen. Namun, kondisi sektor ini tidak seburuk yang banyak dipersepsikan. "Industri otomotif itu punya resilience yang bagus. Kita punya pasar ekspor. Pasar domestik kita juga masih besar," kata dia.
Baca Juga
Gaikindo: Industri Otomotif Tak Akan Gegabah Naikkan Harga Mobil, Meski Dolar Menguat
Menurut dia, industri komponen saat ini menghadapi tekanan yang tidak ringan karena merupakan sektor padat modal sekaligus padat karya. Kenaikan upah, biaya energi, serta kebutuhan investasi untuk memodernisasi fasilitas produksi menjadi tantangan yang harus dihadapi pelaku usaha.
Di sisi lain, kata Bob, industri komponen konvensional (internal combustion engine/ICE) masih membutuhkan kepastian arah kebijakan pemerintah. Pasalnya, berbagai insentif saat ini lebih banyak diberikan kepada kendaraan listrik, sementara ekosistem komponen kendaraan listrik sebagian besar masih berada di luar Indonesia.
“Kondisi tersebut membuat pelaku industri membutuhkan keyakinan untuk terus berinvestasi. Pembaruan teknologi dan modernisasi peralatan produksi merupakan kebutuhan agar industri tetap kompetitif di tengah persaingan global,” ujar dia.
Bob juga menyebut kabar bahwa sejumlah perusahaan komponen otomotif skala besar akan segera merelokasi investasinya dari Indonesia tidak benar. Hal itu terkonfirmasi oleh hasil penulusuran yang dilakukan pemerintah.
Dia menjelaskan, perusahaan multinasional tengah melakukan evaluasi terhadap peta industri otomotif beberapa tahun ke depan, termasuk mempertimbangkan efisiensi operasi di kawasan ASEAN. Dalam proses itu, faktor daya saing, ekosistem industri, serta kebijakan pemerintah di masing-masing negara menjadi pertimbangan utama.
Baca Juga
Menko Airlangga Dorong Penguatan Industri Otomotif Nasional Lewat Ekosistem Kendaraan Listrik
Meski Vietnam dinilai semakin menarik bagi investor karena pertumbuhan ekonomi dan insentif investasinya, menurut Bob Azam, Indonesia masih memiliki keunggulan berupa pasar otomotif terbesar di ASEAN dengan penjualan yang mendekati satu juta unit per tahun serta ekspor sekitar 500 ribu unit.
"Sejauh ini kita diuntungkan karena market kita lumayan besar. Jadi, sebenarnya industri otomotif itu industri yang besar dan punya resilience yang cukup baik. Yang sekarang sedang dievaluasi adalah bagaimana prospeknya ke depan," kata Bob.
Ia menambahkan, Asia Tenggara telah berkembang menjadi basis produksi dunia, tidak hanya untuk otomotif, tetapi juga elektronik dan berbagai industri manufaktur lainnya. Karena itu, Indonesia memiliki peluang besar untuk terus memperkuat daya saing dengan menjaga iklim investasi dan mendorong orientasi ekspor industri nasional.
