Bahlil Genjot Jaringan Pipa Gas Jawa-Sumatra, Surplus Gas Jatim Bisa Disalurkan ke Jabar
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pemerintah terus mempercepat pembangunan jaringan pipa gas terintegrasi di Pulau Jawa dan Sumatra guna mengatasi ketimpangan pasokan gas antarwilayah serta memperkuat ketahanan energi nasional.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pembangunan konektivitas pipa gas menjadi solusi jangka panjang untuk mengatasi persoalan pasokan gas industri yang kerap terjadi. Menurutnya, saat ini sejumlah proyek pipa gas sudah mulai beroperasi, sementara sebagian lainnya masih dalam tahap pembangunan dan ditargetkan selesai pada 2027.
Baca Juga
Pasokan Gas Industri Seret, Kemenperin: Kebijakan HGBT Tak Optimal
"Lagi dibangun sekarang. Sebagiannya sudah jadi, sebagian lagi ditargetkan selesai pada 2027," ujar Bahlil saat ditemui di Gedung Parlemen, Jakarta, Senin (29/6/2026).
Selain memperkuat konektivitas di Pulau Jawa, pemerintah tengah membangun jaringan pipa Dumai-Sei Mangkei (Dusem) yang akan menjadi bagian dari integrasi sistem transmisi gas antara Sumatra dan Jawa.
Bahlil menjelaskan proyek tersebut tidak hanya membangun jaringan baru, tetapi memperbesar kapasitas pipa eksisting agar mampu menampung volume gas yang lebih besar antarwilayah. "Makanya pipanya itu kita bangun antara Dumai-Sei Mangkei, Sumatra ke Jawa. Jawa dan Sumatra. Tadinya sudah ada, tapi size-nya yang kita perbesar,” terang dia.
Dengan terhubungnya jaringan pipa tersebut, pemerintah berharap distribusi gas domestik dapat menjadi lebih fleksibel dan efisien sehingga kelebihan pasokan di satu wilayah dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan daerah lain yang mengalami defisit.
Baca Juga
Bahlil Tegaskan Harga LNG yang Turun Bukan untuk Pembangkit Listrik
Sebagai contoh, apabila terjadi surplus pasokan gas di Sumatra, maka gas tersebut dapat segera dialirkan ke pusat-pusat permintaan di Pulau Jawa. Begitu pula sebaliknya, surplus produksi gas dari lapangan-lapangan di Jawa Timur nantinya dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan industri di Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta yang selama ini masih bergantung pada pasokan LNG regasifikasi dengan harga lebih mahal.
"Supaya kalau terjadi surplus gas di Sumatra, bisa kita alihkan ke Jawa. Kalau surplus di Jawa Timur, bisa kita alihkan ke Jawa Barat," sebut Bahlil.
Pemerintah berharap integrasi jaringan pipa gas nasional tersebut dapat mengurangi ketergantungan terhadap LNG untuk kebutuhan domestik, menekan biaya energi industri, serta meningkatkan efisiensi distribusi gas bumi di seluruh wilayah Indonesia.
