Gas Industri RI Tembus US$ 20/MMBTU, Investor Mulai Lirik Malaysia dan Thailand
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Tingginya harga gas industri berbasis regasifikasi liquefied natural gas (LNG) di Indonesia mulai menggerus daya saing manufaktur nasional di kawasan ASEAN. Kondisi ini bahkan memicu kekhawatiran akan hengkangnya investasi baru ke negara tetangga yang menawarkan pasokan energi lebih murah dan stabil.
Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Febri Hendri Antoni Arif mengatakan, harga gas industri di Indonesia, khususnya di wilayah Jawa Bagian Barat (JBB) yang mengandalkan pasokan LNG regasifikasi, kini jauh lebih mahal dibandingkan negara pesaing di Asia Tenggara.
Merujuk data pertemuan Ceramic Industry Club of ASEAN (CICA), harga gas industri di Malaysia per Juni 2026 berada di level US$ 9,70 per MMBTU, sementara Thailand sebesar US$ 12 per MMBTU. Sebaliknya, harga gas industri berbasis regasifikasi LNG di Jawa Bagian Barat melonjak hingga mencapai US$ 20,57 per MMBTU.
Baca Juga
Indonesia Mobilizes Emergency Task Force to Rescue Manufacturing Sector from Gas Crisis
Padahal, industri yang memperoleh pasokan melalui skema Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) masih menikmati tarif sebesar US$ 7 per MMBTU. Namun keterbatasan pasokan gas pipa membuat sebagian industri terpaksa beralih menggunakan LNG regasifikasi yang biayanya jauh lebih tinggi.
Menurut dia, kondisi tersebut mulai memunculkan kekhawatiran di kalangan investor asing. Kemenperin menerima informasi bahwa sejumlah penanam modal asing (PMA) besar di sektor sanitaryware global mulai mempertimbangkan untuk menunda bahkan membatalkan rencana ekspansi di Indonesia.
Sebagian investor disebut mulai melirik negara-negara tetangga sebagai tujuan investasi baru karena menawarkan kepastian pasokan energi dan harga gas yang lebih kompetitif.
“Harga gas industri hasil regasifikasi LNG lebih mahal dibanding dengan harga ekspor LNG tangguh. Harga LNG Tangguh yang di ekspor keluar negeri dengan ditaksir berkisar US$ 6 - US$ 7 dengan asumsi harga minyak pada rentang US$ 70-US$ 80," kata Febri di Jakarta, dikutip Minggu (28/6/2026).
Baca Juga
Dia menegaskan, apabila harga gas hasil regasifikasi LNG untuk industri domestik memang lebih mahal dibanding harga ekspor LNG Indonesia, maka kondisi tersebut bertentangan dengan semangat hilirisasi dan penguatan industri nasional yang selama ini didorong pemerintah.
Febri mengingatkan Presiden Prabowo Subianto dalam berbagai kesempatan selalu menekankan pentingnya pengelolaan sumber daya alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat sebagaimana amanat Pasal 33 ayat (3) UUD 1945.
"Jika harga gas industri hasil regasifikasi LNG lebih mahal dibanding harga ekspor LNG Tangguh benar adanya, maka produsen gas industri terutama produsen HGBT tidak patuh terhadap perintah dan arahan Presiden. Mahalnya harga gas industri tersebut berpotensi mengancam kelangsungan operasional industri dan PHK pekerjanya,” ujar Febri.
