ROI Industri Turun, Asuransi China Mulai Lirik Investasi Alternatif
JAKARTA, investortrust.id – Geliat investasi industri asuransi di Tiongkok berpotensi menghadapi puncak tekanan, di tengah penurunan suku bunga dan peningkatan volatilitas di pasar saham domestik. Hal ini berpeluang mendorong perusahaan-perusahaan asuransi negara tersebut mulai melirik investasi alternatif.
Melansir InsuranceAsia, Jumat (24/5/2024), Analis Asuransi untuk CreditSights Trung Tran mengatakan, dengan tren suku bunga Tiongkok yang mengarah ke bawah, pendapatan perusahaan asuransi akan cenderung turun di masa depan, termasuk dampak buruk terhadap pendapatan investasi.
Baca Juga
Dewan Asuransi Australia Dorong Mitigasi Risiko Penggunaan AI
“Kinerja investasi saham juga menjadi perhatian, terbukti dengan penurunan indeks CSI di tahun lalu. Hal ini mencerminkan melemahnya pasar secara luas yang diperburuk oleh kekhawatiran terhadap sektor properti dan tantangan ekonomi yang lebih luas,” katanya.
Sepanjang kuartal ketiga 2023, hasil investasi beberapa perusahaan asuransi besar di Tiongkok masih berada di bawah rata-rata dalam tiga tahun terakhir, walaupun menunjukan sedikit peningkatan dibanding periode yang sama 2022.
Return on investment (ROI) untuk industri asuransi di Tiongkok menurun 2,23% dibanding 2022, yang mencerminkan lanskap investasi yang kurang baik, ditambah dengan suku bunga yang trennya rendah.
Baca Juga
OJK Dorong Asuransi dan Dana Pensiun Jadi Sumber Pendanaan di Pasar Modal
Sejumlah perusahaan asuransi jiwa mengalokasikan sebagian asetnya ke sektor properti, termasuk aset non standar seperti trust plan dan properti komersial yang masih relatif kecil porsinya.
Sementara itu, Mitra Korporat dan Asuransi Norton Rose Fulbright (NRF) Ai Tong memperkirakan, industri asuransi di Tiongkok berupaya mengantisipasi tantangan dengan menerapkan strategi investasi yang lebih konservatif.
“Diharapkan bahwa persyaratan peraturan akan mendorong perusahaan asuransi untuk lebih mengurangi investasi pada aset non standar, serta aset dengan likuiditas rendah namun dengan modal tinggi,” kata Tong.
Di sisi lain, ia mendorong peningkatan pors pada aset yang ramah modal seperti long term fixed income assets dan obligasi hijau. Selain itu diversifikasi aset juga untuk menghindari konsentrasi investasi yang berlebihan.

