BI Bidik Ekspor Kopi US$ 12,5 Miliar Melalui Program Cangkir Barista
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Bank Indonesia (BI) membidik potensi ekonomi luar biasa dari komoditas kopi nasional yang diperkirakan mampu menembus nilai ekspor hingga US$ 12,5 miliar (sekitar Rp204 triliun) di pasar global. Potensi raksasa ini didorong oleh pertumbuhan gerai kopi yang melesat hingga 23,9% per tahun.
Kendati memiliki peluang pasar yang menjanjikan, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengungkapkan keprihatinannya terhadap minimnya jumlah tenaga ahli kopi nasional yang bersertifikasi global. Dari total sekitar 923.000 barista yang ada di Indonesia saat ini, baru sekitar 100 orang yang mengantongi sertifikasi internasional.
"Kopi Indonesia luar biasa potensinya untuk menembus pasar global. Kita bisa peroleh US$ 12,5 miliar, tetapi dari 923.000 barista di seluruh Indonesia, baru 100 yang punya sertifikasi internasional. Ini yang membuat kita di BI sedih," ujar Perry Warjiyo dalam sambutannya pada acara Kick-Off Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu di Jakarta, Senin (22/6/2026).
Untuk mengikis ketimpangan tersebut, BI meluncurkan program unggulan ‘Cangkir Barista’. Melalui program ini, bank sentral menargetkan pencetakan 400 barista baru yang tersertifikasi internasional setiap tahunnya demi mengerek nilai tambah kopi Indonesia dari hilir hingga ke hulu.
Program kewirausahaan yang diinisiasi BI bersama pemerintah, serta berbagai mitra strategis ini menerapkan konsep transformasi terpadu yang membedakannya dari program-program konvensional. Perry menegaskan, fokus utama program ini bukanlah pemberian modal di awal, melainkan penguatan kapasitas wirausaha.
Baca Juga
BI Luncurkan Program Transformasi UMKM, Dongkrak Ekonomi Rakyat Lewat Pesantren
Menurutnya, hal pertama yang paling krusial untuk memajukan UMKM adalah kemampuan wirausahanya sendiri, bukan perkara uang.
Proses penempaan ini dirancang matang melalui tiga tahapan ketat yang diawali dengan pendidikan kompetensi teknis dan bisnis selama 2,5 bulan. Setelah lulus, para peserta tidak langsung dilepas, melainkan wajib melewati tahap kedua berupa uji coba lapangan atau magang nyata yang diistilahkan sebagai ‘sandbox-ing’ atau ‘nyantri’bdi unit-unit usaha binaan BI yang telah sukses.
"Teorinya wirausaha bisnis sudah lulus, waktu nyoba bener enggak? Kopinya pahit enggak? Suruh bikin macchiato, jadinya macchiato beneran enggak, jangan-jangan keluar cafe latte, bahkan kopi tubruk ya ora lulus. Nah kalau sudah lulus dapat sertifikasi lagi. Setelah itu baru dikasih modal. Modalnya belakangan," ungkap Perry menjelaskan alur program tersebut.
Lebih jauh program transformasi ini berfokus pada empat sektor utama yang memiliki potensi ekonomi besar dan dampak luas. Program pertama adalah Cangkir Barista, yang menargetkan sertifikasi internasional bagi 400 barista setiap tahun guna mendorong ekspor kopi Indonesia. Selanjutnya, program ‘Citra Nusantara’ akan berfokus pada inovasi wastra (kain tradisional) agar mampu menembus pasar mode global.
Tidak hanya itu, program ini juga menyasar lingkungan pesantren melalui dua inisiatif utama, yaitu ‘Air Berkah Indonesia’ yang mendorong kemandirian ekonomi pondok pesantren lewat unit usaha Air Minum Dalam Kemasan (AMDK), serta ‘Tani Berkah’ yang berfokus pada pengembangan green farming dan hidroponik berbasis sumber daya lokal.
