Bagikan

Harga Emas Tertekan, Pasar Cermati Prospek Suku Bunga AS dam Pertemuan Trump-Xi

Poin Penting

Harga emas spot turun tipis 0,1% di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Penguatan dolar AS menekan daya tarik emas bagi investor luar negeri.
Meredanya peluang pemangkasan suku bunga AS membebani prospek logam mulia.

JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas global turun tipis pada Kamis (14/5/2026) di tengah fokus investor terhadap perkembangan konflik di Timur Tengah dan hasil pertemuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping. Pelaku pasar menimbang arah geopolitik global dan kebijakan moneter AS yang berpotensi menentukan langkah logam mulia dalam waktu dekat.

Harga emas spot turun 0,1% menjadi US$ 4.680,26 per ons, sementara kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman Juni melemah 0,4% ke level US$ 4.686,20 per ons.

Baca Juga

Emas Turun 1% Saat Harga Minyak Naik dan Tekan Prospek Suku Bunga

Tekanan terhadap emas datang dari penguatan dolar AS yang naik 0,3%. Kenaikan ini membuat emas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar menjadi lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang lain, sehingga mengurangi daya tarik pembelian.

Di sisi lain, harga minyak justru turun setelah media Pemerintah Iran melaporkan sekitar 30 kapal berhasil melintasi Selat Hormuz meski kawasan tersebut mengalami serangan. Kondisi ini memberi sinyal bahwa gangguan distribusi energi global belum separah yang dikhawatirkan pasar.

Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities Bart Melek mengatakan harga emas masih menghadapi tekanan selama ketidakpastian geopolitik belum menemukan titik terang. Ia menegaskan bahwa risiko koreksi lebih dalam masih terbuka jika konflik di Timur Tengah terus berlanjut tanpa penyelesaian yang jelas.

Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati perubahan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Amerika Serikat. Berdasarkan alat FedWatch milik CME Group, peluang pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS kini semakin memudar. Hal ini terjadi setelah lonjakan harga produsen dan konsumen pada April, terutama akibat kenaikan sektor energi, memicu kekhawatiran inflasi kembali menguat.

Kondisi tersebut menjadi sentimen negatif bagi emas. Meski logam mulia selama ini dikenal sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga cenderung menekan daya tariknya karena emas tidak memberikan imbal hasil, seperti obligasi atau instrumen berbunga lainnya.

Analis pasar senior Tradu.com Nikos Tzabouras menilai pergerakan emas saat ini belum menunjukkan arah yang tegas karena pasar sedang mempertimbangkan berbagai faktor yang saling bertentangan. Ketidakpastian geopolitik yang berkelanjutan, dampak ekonomi konflik Timur Tengah, serta harapan bahwa pertemuan Trump dan Xi bisa membantu meredakan ketegangan global masih menjadi penentu utama sentimen pasar.

Baca Juga

Harga Emas Antam (ANTM) Tertahan, Pasar Tunggu Arah The Fed

Sementara itu, Xi Jinping menyampaikan kepada Trump bahwa pembicaraan perdagangan kedua negara menunjukkan kemajuan pada Kamis. Namun, ia juga mengingatkan bahwa perbedaan pandangan terkait Taiwan berpotensi merusak hubungan bilateral.

Menariknya, ringkasan pembicaraan dari pihak AS tidak menyinggung isu Taiwan sama sekali, memunculkan spekulasi bahwa topik tersebut sengaja dihindari demi menjaga momentum negosiasi dagang.

Tak hanya emas, logam mulia lainnya juga mengalami tekanan pada perdagangan hari itu. Harga perak anjlok 3,6% menjadi US$ 84,84 per ons. Platinum turun 3,1% ke level US$ 2.071,53 per ons, sementara paladium terkoreksi 3,5% menjadi US$ 1.447,52 per ons.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024