Lampaui Target Efisiensi, PHE Kantongi Penghematan Rp 11,1 Triliun
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - PT Pertamina Hulu Energi (PHE), subholding upstream Pertamina (Persero), mencatat realisasi cost optimization sebesar US$ 635 juta atau setara sekitar Rp 11,1 triliun sepanjang 2025. Capaian ini melampaui target awal US$ 250 juta atau 2,5 kali lipat dan memperkuat posisi perusahaan dalam menghadapi tantangan operasional yang semakin kompleks pada 2026.
Keberhasilan tersebut juga menyumbang sekitar 57% terhadap total program efisiensi di lingkungan Pertamina. Atas capaian itu, PHE meraih predikat Grand Champion Optimus 2025 dalam ajang OPTIMUS Award 2025. Pencapaian ini diraih di tengah dinamika operasional yang semakin menantang, mulai kebutuhan penguatan aspek health, safety, security, and environment (HSSE), hingga peningkatan pengelolaan integritas aset di berbagai wilayah operasi.
Baca Juga
Di Tengah 'Decline Rate' 24%, PHE Genjot Kenaikan Produksi Minyak Jadi 595 Bph pada 2026
Direktur Manajemen Risiko PT Pertamina Hulu Energi Whisnu Bahriansyah mengatakan hasil tersebut mencerminkan komitmen kuat seluruh organisasi dalam menjalankan program efisiensi secara konsisten. “Pencapaian ini menunjukkan bahwa di tengah berbagai tantangan, kita tetap mampu menghadirkan kinerja unggul melalui disiplin eksekusi dan semangat perbaikan berkelanjutan,” ujar Whisnu saat membuka kegiatan OPTIMUS Award 2025 dan Kick Off 2026 di Jakarta, dikutip Kamis (14/5/2026).
Memasuki 2026, perusahaan dihadapkan pada ruang optimalisasi yang semakin terbatas dalam rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP). Kondisi ini menuntut terobosan baru dalam menciptakan efisiensi dan nilai tambah. Tantangan lain datang dari karakteristik lapangan migas yang sebagian besar telah memasuki fase mature atau menua serta mengalami declining, yakni penurunan produksi alamiah akibat usia lapangan yang semakin tua.
Komisaris PT Pertamina Hulu Energi Nanang Untung menegaskan perusahaan akan fokus pada 3 pilar utama untuk menjaga daya saing bisnis, yakni revenue growth, efisiensi, dan cost avoidance atau pencegahan biaya yang tidak perlu. “Lapangan yang kita kelola sebagian besar sudah mature dan declining. Ini membuat tantangan semakin besar, namun sekaligus membuka peluang untuk melakukan optimalisasi yang lebih kreatif dan terukur,” kata Nanang.
Ia menilai kondisi eksternal juga membuka ruang peluang bagi perusahaan. Potensi kenaikan harga minyak dunia dan meningkatnya kebutuhan energi nasional dinilai dapat menjadi momentum untuk memperkuat kinerja, asalkan diimbangi inovasi berkelanjutan. “Semangat untuk mencari peluang menjadi kunci. Jika seluruh perwira memiliki dorongan yang sama, maka peluang akan muncul dan bisa direalisasikan,” tambahnya.
Baca Juga
PHE Dorong Produksi Migas Lewat Kolaborasi dan Efisiensi Investasi
Program Optimus telah memasuki tahun ke-6 sejak pertama kali dijalankan di lingkup Subholding Upstream Pertamina. Program ini dirancang untuk menginternalisasi budaya inovasi dan efisiensi di seluruh lini organisasi, bukan hanya pada unit tertentu. Melalui program tersebut, PHE mendorong setiap insan perusahaan untuk menghasilkan terobosan yang dapat meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memperkuat ketahanan bisnis di tengah volatilitas industri energi global.
Whisnu menegaskan perusahaan optimistis dapat terus mencetak kinerja positif meski tantangan sektor hulu migas semakin kompleks. “Optimus harus menjadi motor penggerak lahirnya terobosan-terobosan baru. Ini bukan sekadar program, tetapi bagian dari upaya strategis perusahaan dalam memberikan nilai tambah bagi bangsa dan negara,” ujar Whisnu.

