Bagikan

Harga Emas Melemah di Tengah Tekanan Inflasi, Pasar Tunggu Pertemuan Trump-Xi

Poin Penting

Harga emas turun 2 sesi berturut-turut karena tekanan inflasi AS.
Ekspektasi suku bunga tinggi menekan minat pada aset tanpa imbal hasil.
Kenaikan tarif impor India berpotensi menekan permintaan global.

JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas melemah untuk sesi kedua berturut-turut pada Rabu (13/5/2026), dipicu kekhawatiran inflasi yang meningkat akibat eskalasi konflik geopolitik. Tekanan ini memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral Amerika Serikat (AS) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, sementara pelaku pasar juga mencermati pertemuan Presiden Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping yang dinilai dapat memengaruhi arah pasar global.

Harga emas spot turun 0,6% menjadi US$ 4.686,99 per ons atau setara sekitar Rp 77,34 juta per ons. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Juni justru naik tipis 0,2% ke level US$ 4.694,70 per ons atau sekitar Rp 77,46 juta.

Baca Juga

Royalti Tembaga, Emas, dan Timah Naik, Emiten Timah hingga Emas Dibayangi Volatilitas Jangka Pendek

Data terbaru menunjukkan indeks harga produsen di AS meningkat lebih tinggi dari perkiraan pada April, mencatat kenaikan terbesar sejak awal 2022. Angka tersebut memperkuat sinyal bahwa tekanan inflasi kembali meningkat di tengah konflik yang melibatkan Iran.

Wakil Presiden sekaligus Ahli Strategi Logam Senior Zaner Metals Peter Grant mengatakan inflasi yang tetap tinggi memperkuat pandangan bahwa suku bunga akan bertahan di level tinggi dalam periode lebih panjang. Kondisi ini menjadi faktor utama yang menekan harga emas dalam dua hari terakhir.

Emas selama ini dipandang sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Namun, ketika suku bunga naik, daya tarik logam mulia cenderung berkurang karena emas tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbunga.

Data lain yang dirilis pada Rabu juga menunjukkan inflasi konsumen AS meningkat pada April, dengan laju tahunan mencatat kenaikan terbesar dalam 3 tahun terakhir. Kondisi ini semakin mempersempit ruang bagi bank sentral AS untuk segera memangkas suku bunga.

Bank sentral AS The Fed bulan lalu mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%-3,75%. Berdasarkan alat FedWatch milik CME Group, pelaku pasar masih memperkirakan penurunan suku bunga terjadi tahun ini, meski waktunya semakin tidak pasti.

Di tengah tekanan ekonomi tersebut, perhatian investor juga tertuju pada kunjungan Presiden Trump ke China. Ini merupakan lawatan pertamanya sebagai presiden AS ke negara itu dalam hampir satu dekade. Agenda utama kunjungan tersebut menjaga gencatan senjata dagang yang rapuh antara dua ekonomi terbesar dunia serta mengupayakan sejumlah kesepakatan strategis.

Pasar menilai hasil pertemuan Trump-Xi Jinping dapat menjadi penentu sentimen global dalam jangka pendek, terutama di tengah ketidakpastian akibat konflik Iran dan tekanan inflasi yang belum mereda.

Dari Asia, sentimen tambahan datang dari India yang menaikkan tarif impor emas dan perak menjadi 15% dari sebelumnya 6%. Kebijakan itu merupakan bagian dari upaya pemerintah menekan impor logam mulia dan mengurangi tekanan terhadap cadangan devisa. India merupakan konsumen logam mulia terbesar kedua di dunia setelah China. Karena itu, perubahan kebijakan impor di negara tersebut dinilai berpotensi memengaruhi keseimbangan permintaan global.

Baca Juga

Harga Emas Anjlok di Bawah US$ 4.700 Setelah Trump Tolak Proposal Perdamaian Iran

Grant menilai kenaikan tarif impor India memunculkan kekhawatiran baru terhadap permintaan logam mulia. Menurut dia, kebijakan tersebut bisa menjadi hambatan jangka panjang bagi penguatan harga emas.

Tidak hanya emas, logam mulia lain juga mengalami koreksi. Harga perak spot turun 0,2% menjadi US$ 86,70 per ons setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam 2 bulan. Platinum terkoreksi 0,3% ke US$ 2.120,20 per ons setelah sempat mencapai posisi tertinggi sejak Senin (17/3/2026). Sementara palladium melemah 0,4% menjadi US$ 1.484,10 per ons.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024