Bagikan

Industri Migas RI Hadapi Era Baru, IPA Convex 2026 Angkat Isu Kemitraan

Poin Penting

IPA Convex 2026 menyoroti kemitraan sebagai fondasi penguatan sektor hulu migas nasional.
Indonesia menghadapi tantangan investasi, teknologi, dan eksplorasi di tengah persaingan energi global.
Forum ini mempertemukan pemerintah dan pelaku industri untuk membahas strategi ketahanan energi nasional.

JAKARTA, Investortrust.id - Indonesian Petroleum Association (IPA) menegaskan pentingnya kemitraan global untuk menjaga daya saing sektor hulu migas Indonesia di tengah kompetisi investasi energi yang semakin ketat.

Hal itu diungkapkan dalam konferensi pers praevent IPA Convex 2026 ke-50 di Jakarta, Selasa (12/6/2026). Memasuki usia ke-50, forum tahunan industri migas terbesar di Indonesia ini hadir sebagai ruang refleksi sekaligus panggung untuk merumuskan arah baru ketahanan energi nasional.

Mengusung tema “50 Years of Energy Partnership: Shaping The Next Era for Advancing Growth”, IPA Convex 2026 akan digelar di Indonesia Convention Exhibition BSD, pada Rabu (20/5/2026) hingga Jumat (22/5/2026). Tema tersebut mencerminkan urgensi kolaborasi antara pemain lokal dan global untuk menghadapi tantangan eksplorasi, investasi, serta penguasaan teknologi energi.

Baca Juga

Bursa Asia ‘Mixed’, Kospi Cetak Rekor Baru di Tengah Gejolak Harga Minyak

Chairperson IPA Convex 2026 Teresita Listyani mengatakan kemitraan bukan sekadar jargon perayaan ulang tahun emas organisasi, melainkan kebutuhan mendesak bagi keberlanjutan industri energi nasional.

Partnership atau kemitraan menjadi sangat penting. Kami juga ingin merefleksikan apa yang sudah dilakukan selama ini, belajar dari masa lalu, sekaligus melihat tantangan dan relevansi industri hulu migas saat ini dan masa depan,” ujar Teresita.

Ia menegaskan tantangan sektor energi Indonesia saat ini semakin kompleks karena menyangkut kemampuan pembiayaan, kapasitas investasi, serta penguasaan teknologi untuk eksplorasi dan pengembangan lapangan migas. Menurutnya, banyak cekungan migas di Indonesia kini semakin sulit dikembangkan sehingga membutuhkan teknologi mutakhir dan transfer keahlian dari pelaku global.

“Kolaborasi perusahaan energi lokal dan perusahaan energi global tentunya mengenai financing, kemampuan investasi, dan juga teknologi yang digunakan untuk eksplorasi, pengembangan lapangan, serta produksi,” kata Teresita saat menjawab Investortrust.

Ia menambahkan kegiatan eksplorasi migas membutuhkan biaya tinggi dan mengandung risiko besar, sehingga tidak semua perusahaan memiliki kapasitas untuk menjalankannya secara mandiri.

“Eksplorasi adalah kegiatan yang membutuhkan biaya tinggi dan juga risiko tinggi, dan tidak banyak perusahaan yang bisa melakukannya. Dengan adanya expertise global, itu akan membantu menemukan penemuan signifikan untuk kemandirian energi,” tegasnya.

Direktur Eksekutif IPA Marjolijn Wajong mengatakan kompetisi global untuk menarik investasi energi saat ini semakin intensif. “Disrupsi rantai pasok, dinamika kawasan, serta kompetisi global membuat banyak negara memperebutkan investasi di sektor energi,” ujarnya.

Direktur Eksekutif IPA Marjolijn Wajong (kanan). Investortrust/Whisnu

Ia menilai Indonesia perlu terus memperkuat daya tarik investasi melalui kepastian regulasi dan skema bisnis yang kompetitif. Marjolijn juga menyoroti langkah pemerintah yang mengutamakan pemenuhan kebutuhan minyak mentah domestik dibandingkan ekspor sebagai bagian dari strategi penguatan ketahanan energi nasional.

Menurut dia, kebijakan tersebut tetap dijalankan dengan prinsip no gain no loss agar tidak merugikan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS), yaitu perusahaan yang mendapat hak mengelola wilayah kerja migas dari pemerintah.

Baca Juga

Trump Tolak Proposal Iran, Harga Minyak Kembali Melonjak

Membangun Relasi dengan Publik

Rancangan program IPA Convex 2026 mencerminkan besarnya perhatian industri terhadap dinamika energi global. Salah satu agenda utama adalah plenary session yang akan membahas posisi Indonesia dalam pusaran geopolitik energi dunia. Forum ini akan menyoroti bagaimana konflik kawasan, gangguan rantai pasok global, dan percepatan transisi energi memengaruhi strategi ketahanan energi nasional. Selain itu, leadership roundtable talk akan mempertemukan pejabat pemerintah, pimpinan perusahaan energi internasional, dan pakar sektor migas.

Di luar isu geopolitik dan investasi, IPA Convex 2026 juga berupaya mendekatkan industri migas kepada masyarakat luas. Forum ini dirancang bukan hanya sebagai ajang bisnis dan pameran teknologi, tetapi juga ruang dialog untuk memperkuat pemahaman publik mengenai peran sektor hulu migas dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024