Kadin Aceh Bidik Investasi Rp 2 Triliun untuk Bangun Peternakan Modern di Aceh Besar
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Aceh membidik peluang besar di sektor industri peternakan dengan menyiapkan lahan seluas 1.050 hektare di Aceh Besar. Ketua Kadin Aceh, Muhammad Iqbal, memperkirakan proyek ini membutuhkan nilai investasi hingga US$ 120 juta atau setara dengan Rp2 triliun.
Muhammad Iqbal menyatakan bahwa investasi sebesar ini sangat diperlukan mengingat belum ada pengusaha lokal yang mampu membangun fasilitas peternakan dengan teknologi ‘closed house’ atau kandang modern secara mandiri. Investasi ini diproyeksikan tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga pasar ekspor.
"Belum ada pengusaha lokal yang mampu membangun investasi sebesar ini. Nilainya sekitar 120 juta dolar AS atau sekitar Rp 2 triliun. Kandangnya modern (closed house), bukan seperti kandang yang ada sekarang," ungkap Iqbal dalam wawancara bersama Investortrust di Menara Kadin, Jakarta, Senin (11/5/2026).
Iqbal menepis kekhawatiran bahwa masuknya investor asing akan mematikan usaha peternak kecil. Sebaliknya, ia menjamin perusahaan besar tersebut akan bertindak sebagai pembina bagi peternak lokal dengan memberikan dukungan berupa obat-obatan, pakan, hingga transfer teknologi.
Baca Juga
Kadin Aceh Dorong Pembangunan Ekosistem Peternakan Terpadu demi Kemandirian Pangan
Ia menjelaskan keunggulan geografis Aceh menjadi nilai tawar utama bagi investor internasional. Iqbal menyebutkan bahwa Aceh memiliki posisi strategis sebagai produsen pangan halal untuk pasar di Timur Tengah dan Asia Selatan.
Salah satu target pasar yang paling potensial adalah Kepulauan Nicobar di India.
"Jarak dari Aceh ke Kepulauan Nicobar cuma 150 km. Mereka butuh bahan pangan luar biasa. Kalau dibawa dari daratan India itu lebih dari 2.000 km. Kita sudah ada kerja sama perdagangan antara Aceh dan Nicobar," jelasnya optimistis.
Selain potensi ekspor, investasi ini diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja masif di wilayah Aceh. Sektor pertanian jagung sebagai penyokong bahan baku pakan diprediksi mampu menyerap sedikitnya 12.000 tenaga kerja, belum termasuk sektor industri pendukung lainnya.
Baca Juga
Tantangan Permodalan
Kepada Investortrust, ia turut menyoroti tantangan permodalan di Indonesia yang masih menjadi batu sandungan bagi para pelaku industri.
Ia mencontohkan bagaimana tingginya bunga perbankan yang di atas 10% dan sulitnya akses kredit bagi pelaku UMKM di sektor pertanian dan peternakan karena kendala agunan.
Oleh karena itu ia mengajak seluruh pihak untuk menjaga kondusivitas iklim investasi di Aceh. Menurutnya, komentar negatif tanpa data hanya akan menghambat kemajuan daerah.
Dengan dukungan semua pihak, Aceh diharapkan mampu menjadi pusat industri pangan halal yang disegani di kawasan Asia.
“Kita ingin Aceh mandiri di bidangan pangan, industri, dan manufaktur. Semua kebutuhan pokok kita selama di luar Aceh, Kadin ingin Aceh mandiri,” paparnya.

