JAKARTA, investortrust.id - Simak, inilah menu program Makan Bergizi Gratis yang disaran pakar di berbagai daerah. Hal ini juga akan mendukung diversifikasi menu di Tanah Air. Sementara itu, Indonesia butuh Rp 100 triliun untuk investasi peternakan.

Mantan Direktur Pengembangan dan Pengendalian Usaha ID Food Dirgayuza Setiawan membagikan usulan mengenai menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto, yang diakses dari tayangan daring "13th Annual International Forum on Economic Development and Public Policy (AIFED)", Rabu (4/12/2024).

"Badan Pangan Nasional telah menggelar kajian mengenai diversifikasi menu tersebut. Studi yang cukup lama membagi Indonesia menjadi 11 bagian, berdasarkan (kebutuhan) karbohidrat, side dish, buah-buahan, dan sayur yang diproduksi di serial bagian,” kata Dirgayuza. 

Baca Juga

Harga Komoditas Pertanian Naik, Volume Impor Beras Indonesia Melonjak 165,27%

Tidak Mesti Nasi

Dirgazuya menjelaskan tidak setiap provinsi di Indonesia menjadikan nasi sebagai karbohidrat utama. Dia menjelaskan, kondisi ini tak menjadi masalah karena Indonesia memiliki berbagai makanan variatif.

“Dengan begitu, kita memiliki ketahanan produksi makanan berdasarkan kemampuan masyarakat lokal untuk memproduksi bahan pangan,” ucap dia.

Menurut Dirgazuya, masalah pangan yang terjadi di Indonesia yaitu akses untuk mendapat makanan bernutrisi. Dia mengatakan untuk mendapat makanan bernutrisi, masyarakat harus membayar lebih mahal.

“Untuk mendapatkan makanan berkalori, masyarakat hanya butuh Rp 5.000 per hari. Sementara untuk mendapatkan bernutrisi, masyarakat butuh Rp 22.000 per hari,” kata dia.

Baca Juga

BI: Dana Asing Naik, Kewajiban Neto PII Meningkat

Selain menjelaskan biaya, Dirgayuza juga menjelaskan sejarah masyarakat Indonesia yang bukan menjadi konsumen daging sapi. Sejak ribuan tahun lalu, masyarakat Indonesia adalah pengonsumsi daging kerbau.

“Ternak sapi datang ke Indonesia, ketika Belanda tidak puas dengan kualitas daging yang disajikan,” kata dia.



Rincian Usulan Menu

Salah satu tantangan yang dihadapi Indonesia mengenai konsumsi makanan yaitu perlu dikuranginya konsumsi terhadap bahan makanan yang tak perlu, misalnya gula. Tetapi, di sisi lain, Indonesia perlu meningkatkan produktivitas daging.

“Tim kami memperkirakan, butuh Rp 100 triliun investasi untuk peternakan, atau kita perlu investasi terhadap produktivitas dari peternakan yang sudah ada,” ujar dia.

Berikut sejumlah usulan menu yang dibagikan Dirgayuza dalam paparannya.

Area 1: Mayoritas wilayah di Sumatra 

Karbohidrat: nasi 

Lauk: daging ayam, tahu 

Buah: pepaya, manggis 

Sayur: kangkung  

Area 2: Mentawai

Karbohidrat: sagu, talas

Lauk: udang, ikan  

Buah: pisang, nangka, durian

Sayur: daun pepaya 

Area 3: Riau dan Bangka Belitung 

Karbohidrat: sagu

Lauk: udang, ikan  

Buah: pepaya, durian, nanas

Sayur: kangkung, timun, terong 

Area 4: Kalimantan 

Karbohidrat: talas, singkong 

Lauk: ikan, daging sapi

Buah: pisang, rambutan, jeruk 

Sayur: wortel, kangkung, sawi hijau 

Area 5: Banten – Jawa tengah 

Karbohidrat: nasi, jagung 

Lauk: daging ayam

Buah: pepaya, jeruk

Sayur: labu, buncis

Area 6: DIY – Jatim  

Karbohidrat: nasi, jagung, singkong

Lauk: udang, ikan, telur, daging 

Buah: manga, alpukat, buah naga 

Sayur: kol, kacang panjang, wortel

Area 7: Bali

Karbohidrat: nasi

Lauk: ikan, tahu

Buah: salak, jeruk, pisang, mangga

Sayur: kangkung, sawi hijau, kacang hijau

Area 8: NTB – NTT 

Karbohidrat: Jagung, sorgum

Lauk: daging sapi

Buah: jeruk, pisang, pepaya

Sayur: daun kelor, terong, pepaya 

Area 9: Sulawesi 

Karbohidrat: jagung, sorgum

Lauk: daging sapi

Buah: jeruk, pisang, pepaya

Sayur: daun kelor, terong, pepaya 

Area 10: Maluku 

Karbohidrat: sagu, jagung, singkong

Lauk: ikan, daging sapi

Buah: pisang, mangga, jeruk, pepaya

Sayur: pare, terong, kangkung

Area 11: Papua

Karbohidrat: sagu, singkong, ubi jalar 

Lauk: ikan, daging sapi, kacang-kacangan

Buah: matoa, alpukat, jambu biji, duku, mangga

Sayur: buncis, kembang pepaya