Bagikan

Lonjakan Permintaan Emas Global Jadi Peluang Besar bagi Industri Tambang Nasional

Poin Penting

Permintaan emas global kuartal I naik 2% menjadi 1.231 ton dengan nilai transaksi mencapai US$ 193 miliar.
Antam membangun pabrik emas di Gresik berkapasitas 30 ton per tahun untuk memperkuat pasokan domestik.
Indonesia didorong mempercepat integrasi ekosistem bullion guna mengurangi defisit perdagangan emas.

JAKARTA, Investortrust.id - Permintaan emas global terus meningkat pada awal 2026 dan membuka peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat industri pengolahan logam mulia nasional. Lonjakan kebutuhan investasi emas dunia menjadi momentum strategis bagi perusahaan tambang pelat merah untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus mengurangi ketergantungan impor.

Pengamat BUMN sekaligus Direktur NEXT Indonesia Center Herry Gunawan mengatakan tren kenaikan permintaan emas global memberikan sinyal kuat bagi Indonesia untuk segera memperkuat kapasitas produksi domestik. Ada dua alasan utama yang membuat perusahaan tambang emas milik negara harus bergerak lebih agresif.

“Di saat demand terhadap emas tinggi, tentu sudah jadi sentimen positif bagi BUMN tambang emas. Kondisi seperti itu akan mendorong kenaikan harga. Karena itu, peningkatan produksi menjadi sangat penting,” ungkap Herry dikutip Jumat (8/5/2026).

Data terbaru World Gold Council menunjukkan total permintaan emas global pada kuartal I 2026, termasuk transaksi over-the-counter atau perdagangan langsung di luar bursa, naik 2% secara tahunan menjadi 1.231 ton. Kenaikan volume di tengah lonjakan harga emas dunia yang signifikan. Nilai permintaan kuartalan bahkan melonjak 74% hingga menyentuh rekor US$ 193 miliar atau setara Rp 3.088 triliun dengan asumsi kurs Rp 16.000 per dolar AS.

Permintaan emas batangan dan koin juga mencatatkan pertumbuhan kuat. Volume pembelian mencapai 474 ton atau naik 42%, sekaligus menjadi capaian kuartalan tertinggi kedua sepanjang sejarah. Investor di Asia menjadi motor utama lonjakan tersebut. Mereka agresif memborong berbagai produk investasi berbasis emas di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tingginya volatilitas pasar keuangan.

Herry menjelaskan, peningkatan produksi akan membuka peluang bagi BUMN pertambangan untuk meningkatkan profitabilitas di tengah tren harga yang terus menguat. Selain itu, langkah tersebut dapat membantu memperbaiki neraca perdagangan emas nasional yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami tekanan.

Sejak 2021, Indonesia mengalami defisit perdagangan emas dan berstatus sebagai net importer atau negara pengimpor bersih. Kondisi ini terjadi karena kebutuhan emas domestik jauh lebih besar dibandingkan kapasitas produksi dan ekspor nasional.

Ilustrasi emas. Dok MIND ID

Antam Perkuat Kapasitas Produksi

Menjawab tantangan tersebut, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM), perusahaan tambang milik negara yang berada di bawah holding industri pertambangan MIND ID, mempercepat pembangunan fasilitas manufaktur emas logam mulia di Gresik, Jawa Timur. Pabrik baru tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi hingga 30 ton per tahun.

Kehadiran fasilitas ini akan melengkapi pabrik emas logam mulia Antam di Pulogadung, Jakarta, yang saat ini memiliki kapasitas produksi 40 ton per tahun. Dengan tambahan kapasitas tersebut, total kemampuan produksi manufaktur emas Antam akan meningkat signifikan untuk memenuhi lonjakan permintaan pasar domestik.

Dalam rantai pasok industri emas nasional, pasokan bahan baku berasal dari dua sumber utama. Pertama, berasal dari tambang emas Antam di Jawa Barat dengan produksi sekitar 1 ton per tahun. Sumber kedua berasal dari Precious Metal Refinery PT Freeport Indonesia, fasilitas pemurnian yang mampu mengolah lumpur anoda menjadi emas batangan sebanyak 50 hingga 60 ton per tahun. Integrasi rantai pasok tersebut menjadi fondasi penting bagi pembangunan ekosistem bullion nasional.


Baca Juga

Harga Emas Melonjak 2,7% Seusai Sinyal Damai AS-Iran

Melalui penguatan sinergi di bawah Grup MIND ID, pemerintah berupaya membangun ekosistem bullion Indonesia yang lebih terintegrasi dari hulu hingga hilir. Langkah ini diarahkan untuk memenuhi kebutuhan emas logam mulia domestik yang diperkirakan telah mencapai sekitar 70 ton per tahun dan masih menunjukkan tren peningkatan.

Jika kapasitas pengolahan domestik terus diperkuat, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengurangi ketergantungan impor sekaligus meningkatkan nilai tambah mineral di dalam negeri.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024