Permintaan Emas Naik, Hilirisasi Jadi Kunci Daya Saing Industri Nasional
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Hilirisasi BUMN tambang didorong menjadi mesin nilai tambah jangka panjang, bukan sekadar proyek fisik. Pasalnya, hilirisasi mampu mengubah komoditas mentah menjadi aset industri bernilai tinggi yang berdampak pada margin, daya saing, dan valuasi, terutama melalui pengembangan smelter serta integrasi rantai pasok yang kini mulai membentuk ekosistem industri nasional. Apalagi ke depan, permintaan emas diproyeksi akan terus meningkat.
Holding industri pertambangan MIND ID mendorong penguatan hilirisasi sebagai strategi value creation. Pendekatan ini menempatkan komoditas mineral tidak lagi semata sebagai bahan mentah ekspor, melainkan sebagai fondasi industri manufaktur bernilai tambah tinggi yang menopang kinerja jangka panjang.
Di sisi pasar, pergerakan harga emas global turut memengaruhi dinamika domestik, termasuk produk PT Aneka Tambang Tbk, perusahaan tambang milik negara yang bergerak di emas dan logam dasar, bagian MIND ID. Namun, struktur pasar Indonesia menunjukkan faktor tambahan berupa ketidakseimbangan antara kebutuhan dan pasokan.
Baca Juga
Hilirisasi Tambang Dorong Nilai Tambah, Peran MIND ID dan Perminas Dibedakan
Permintaan emas batangan dan perhiasan secara konsisten melampaui produksi dalam negeri sehingga harus dipenuhi melalui impor. Kondisi ini membuat harga emas domestik tidak hanya mengikuti tren global, tetapi juga dipengaruhi nilai tukar rupiah serta biaya impor. Ketergantungan tersebut meningkatkan sensitivitas harga terhadap volatilitas dolar, suku bunga, dan ketegangan geopolitik.
Mengacu pada laporan World Gold Council (WCG), total permintaan emas konsumen Indonesia sepanjang 2025 mencapai 48,2 ton atau tumbuh 2% secara tahunan. Peningkatan terjadi terutama pada produk investasi, di mana permintaan emas batangan dan koin melonjak 29% menjadi 31,6 ton karena kebutuhan lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi.
Di sisi pasokan, produksi emas dari PT Aneka Tambang Tbk, perusahaan pertambangan terintegrasi milik negara, hanya sekitar 1 ton per tahun. Angka tersebut jauh di bawah kebutuhan nasional. Padahal potensi produksi emas Indonesia diperkirakan dapat mencapai 90 ton per tahun, bahkan data US Geological Survey menunjukkan rata-rata produksi emas Indonesia berada di kisaran 100 ton per tahun.
Untuk menutup kesenjangan, Antam mengandalkan pembelian dari pasar lokal, program buyback emas masyarakat, kerja sama dengan perusahaan tambang domestik yang memurnikan logam di fasilitas Antam, serta impor dari lembaga yang terafiliasi dengan London Bullion Market Association.
Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Sudirman Widhy menilai ada hambatan struktural dalam rantai pasok emas domestik. Ia menyoroti skema pembelian yang dinilai belum menarik bagi pelaku tambang.
“Antam terkendala membeli mineral ikutan lainnya, seperti perak untuk dibeli secara bundling lantaran ada beban dari sisi perpajakan. Bagi perusahaan tambang, skema tersebut menyulitkan karena mereka harus menjual perak secara terpisah,” kata dia dikutip Jumat (13/2/2026).
Baca Juga
Menurutnya, sebagian perusahaan tambang memilih tidak menjual emasnya ke Antam karena skema pembelian yang hanya berfokus pada emas. Hal tersebut membuat potensi integrasi hilirisasi mineral, termasuk pengolahan logam ikutan, belum sepenuhnya optimal dalam mendukung ekosistem industri nasional.
Dalam konteks hilirisasi, pengembangan smelter bauksit, nikel, dan tembaga dipandang sebagai fondasi strategis untuk memperkuat rantai pasok industri. Proyek-proyek ini dinilai bukan sekadar investasi infrastruktur, tetapi bagian dari transformasi model bisnis BUMN tambang menuju penciptaan nilai yang lebih tinggi, peningkatan margin, serta penguatan posisi Indonesia dalam peta industri global.

