PepsiCo Sebut Indonesia Pasar Potensial Makanan Ringan, Ini Alasannya
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Perusahaan makanan dan minuman asal Amerika Serikat (AS) PepsiCo menyatakan menilai prospek industri makanan dan minuman Indonesia masih menjanjikan ditopang jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 280 juta jiwa.
Director of Public Policy, Government Affairs & Corporate Communications PepsiCo Gabrielle Angriani mengatakan, mengacu pada data Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi), sektor tersebut menjadi salah satu kontributor terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB). “Kita lihat lagi dari jumlah sisi penduduk, itu kan memang Indonesia itu mengalami peningkatan,” kata dia di sela pelucuran Lay’s kemasan edisi spesial FIFA World Cup di Jakarta, Kamis (7/5/2026).
Gabrielle menambahkan tingginya budaya konsumsi camilan di Indonesia menjadi salah satu alasan utama perusahaan ekspansi dan membangun fasilitas produksi di dalam negeri. “Kita melihat bahwa masyarakat Indonesia itu suka ngemil. Jadi kita percaya bahwa Indonesia ini merupakan market yang cocok untuk Lay’s,” ujarnya.
Gabrielle mengungkapkan PepsiCo telah menggelontorkan investasi sekitar Rp 3 triliun untuk pembangunan fasilitas produksi di Indonesia pada 2025. Investasi tersebut dilakukan karena perusahaan melihat potensi besar pasar domestik yang didukung jumlah penduduk. “Kami percaya ada potensi besar di Indonesia karena masyarakatnya sekitar 280 juta,” katanya.
Baca Juga
Kenaikan Harga Tak Masuk Akal, Bikin PepsiCo Lenyap dari Carrefour Prancis
Menurut dia, fokus perusahaan saat ini masih pada pengembangan rasa (flavor) yang sesuai dengan selera lokal. PepsiCo menilai pendekatan tersebut penting karena produksi Lay’s di Indonesia baru dimulai pada tahun lalu. Untuk memperkuat penetrasi pasar, PepsiCo menghadirkan berbagai varian rasa yang disesuaikan dengan preferensi lokal, seperti sapi bakar, rumput laut, dan rumput laut pedas.
Gabrielle belum bersedia mengungkapkan detail penjualan maupun pangsa pasar perusahaan selama kuartal I-2026. “Terkait market share dan penjualan, kami belum bisa jawab,” ujarnya.
Adaptasi Geopolitik
PepsiCo terus beradaptasi menghadapi dinamika geopolitik global yang berdampak pada industri plastik dan rantai pasok kemasan. Di tengah kondisi tersebut, perusahaan tetap melanjutkan strategi daur ulang kemasan serta memperkuat investasi di Indonesia melalui pengembangan produk makanan ringan Lay’s.
Dia mengatakan kondisi geopolitik saat ini berdampak terhadap seluruh produsen yang menggunakan kemasan plastik, bukan hanya industri tertentu. “Kalau soal kondisi plastik sekarang, saya rasa itu kondisi geopolitik dan itu berdampak ke siapa saja. Semua produsen yang menggunakan kemasan plastik,” kata Gabrielle.
Ia menegaskan perusahaan berupaya menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi global sambil berharap situasi membaik. Menurutnya, PepsiCo saat ini telah menggunakan kemasan plastik monolayer untuk produk-produknya di Indonesia. Jenis kemasan tersebut lebih mudah untuk didaur ulang dibanding kemasan multilayer yang umum digunakan di industri makanan ringan. “Secara perusahaan, kami sudah menggunakan kemasan plastik monolayer, yang artinya kemasan ini akan lebih mudah didaur ulang,” ujarnya.
Gabrielle mengatakan PepsiCo juga mulai menjalankan program pengumpulan dan daur ulang kemasan sejak tahun pertama operasional pabriknya di Indonesia pada 2025. “Secara produsen, kami sudah menjalankan tanggung jawab kami untuk mendaur ulang kemasan. Jadi kami kumpulkan, kami daur ulang,” katanya.
Meski dinamika geopolitik global dinilai masih berlangsung, Gabrielle menyebut perusahaan belum melihat dampak signifikan terhadap harga produk di pasar domestik. “Kalau kami sih saat ini belum melihat dampaknya secara keseluruhan, karena ini kan masih terus bergejolak,” ujarnya.
Ia menambahkan perusahaan tetap mempertimbangkan strategi harga secara internal agar produk yang dipasarkan tetap menarik bagi konsumen Indonesia.
Dia mengatakan, bahan baku kentang untuk produksi Lay’s saat ini dipasok dari kelompok tani di Jawa Barat, sementara jagung berasal dari Jawa Tengah.
Baca Juga
Aliran Modal dari Amerika Terus Mengucur, PepsiCo Investasi US$ 200 Juta
Terkait bibit kentang, Gabrielle menjelaskan perusahaan menggunakan beberapa jenis bibit, termasuk bibit eksklusif yang dimiliki PepsiCo secara global dan dilindungi hak kekayaan intelektual. “Bibit yang pertama itu bibit yang dimiliki hanya oleh PepsiCo. Jadi kami punya IP protection terhadap bibit itu,” katanya.
Meski membuka peluang ekspor di masa depan, Gabrielle mengatakan fokus utama perusahaan saat ini masih pada penguatan pasar domestik. “Tentu saja harapan itu ada, tapi saat ini kami memang baru fokus di lokal,” ujarnya.

