Hasto Angkat Filosofi Punokawan pada May Day 2026, Ini Pesannya untuk Buruh
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDI Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto menyampaikan pidato demonstratif dalam peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 2026 bertajuk “Banteng Pro Pekerja: Buruh Berdaulat, Indonesia Berdikari” di GOR Otista, Jakarta Timur, Minggu (3/5/2026).
Hasto menyampaikan kisah Punakawan/Punokawan dalam falsafah pewayangan.
“Jangan dilihat bahwa Punokawan sekadar representasi dari rakyat yang hidup dalam lapisan bawah, mengawal ksatria. Namun, ketika para Punokawan ini dilihat asal-usulnya, mereka di dalam falsafah kewayangan, itu adalah dewa-dewa yang menjelma menjadi rakyat,” kata Hasto.
Hasto menambahkan, dari Punokawan lahir semangat dan tekad untuk melawan penindasan terhadap rakyat kecil.
Baca Juga
Rano Karno: 59.000 Buruh Jakarta Telah Rasakan Manfaat Kartu Pekerja
“Maka dari Punokawan lahirlah suatu spirit, dari Punokawan lahirlah suatu tekad. Jangan pernah melakukan penindasan terhadap rakyat kecil. Karena kesadaran para Punokawan ini bisa berubah menjadi suatu kekuatan yang maha dahsyat yang mampu mengalahkan berbagai bentuk penindasan,” ujarnya.
Tak hanya itu, Hasto juga menyerahkan cinderamata berupa piagam berbentuk pewayangan Punokawan sebagai simbol tekad perjuangan bersama bagi pembebasan buruh, petani, nelayan, dan kelompok miskin lainnya.
Dia juga mengajak seluruh audiens untuk mengawal manifesto buruh yang sebelumnya dibacakan oleh Ketua DPP PDIP Bidang Jaminan Sosial sekaligus anggota Komisi IX DPR RI, Charles Honoris.
Sekadar catatan, Punokawan merupakan kelompok tokoh dalam pewayangan Jawa yang dikenal sebagai pengiring para ksatria, seperti Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Mereka digambarkan sebagai rakyat biasa dengan karakter jenaka dan kerap menyampaikan kritik sosial melalui humor.
Meski tampil sederhana, dalam filosofi pewayangan, Punokawan—terutama Semar—memiliki kedudukan tinggi dan dipercaya sebagai jelmaan makhluk suci yang turun ke dunia. Alhasil, Punokawan kerap dimaknai sebagai simbol suara rakyat kecil sekaligus pengingat bagi penguasa agar tetap menjunjung nilai keadilan.
Sebelumnya, Charles Honoris membacakan manifesto politik bagi buruh dalam peringatan Hari Buruh Internasional 2026 yang digelar PDIP di GOR Otista, Jakarta Timur, Minggu (3/5/2026).
Baca Juga
Simak Manifesto Buruh Versi PDI Perjuangan di Peringatan 'May Day' 2026
Berikut delapan poin Manifesto PDI Perjuangan bagi buruh:
* Perjuangan buruh menjadi bagian dari upaya membebaskan rakyat dari kemiskinan akibat kebijakan ekonomi yang tidak adil, serta menjamin kebebasan berserikat dan berkumpul.
* Perjuangan buruh ditempatkan dalam perspektif historis, ideologis, dan kultural sebagai bagian dari pembangunan peradaban bangsa melalui penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, riset, dan inovasi.
* Peningkatan produktivitas buruh dilakukan melalui strategi nasional berkeadilan, termasuk pendidikan vokasi, pelatihan berbasis industri, serta peningkatan keterampilan (upskilling dan reskilling).
* APBN diarahkan untuk memperluas jaminan sosial, memperkuat layanan kesehatan dan pendidikan, serta menciptakan lapangan kerja berkualitas.
* Sistem pengupahan harus menjamin kehidupan layak dengan mempertimbangkan kebutuhan hidup, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi, serta menghapus praktik upah murah dan kerja tidak pasti.
* Negara wajib memberikan perlindungan menyeluruh bagi buruh, termasuk pekerja migran, perempuan, informal, dan pekerja digital, serta menghapus praktik pekerja anak.
* PDI Perjuangan menyatakan akan berperan aktif dalam pembahasan regulasi ketenagakerjaan yang berpihak pada perlindungan dan kesejahteraan buruh.
* Manifesto menegaskan komitmen partai untuk menempatkan buruh sebagai pusat perjuangan keadilan sosial berlandaskan ajaran Soekarno tentang Marhaenisme.

