Bagikan

Implementasi B50 Berisiko Picu Defisit, BPDP Waspadai Tekanan Pembiayaan

Poin Penting

Implementasi biodiesel B50 berisiko menekan keuangan BPDP dan memicu defisit, terutama jika harga minyak dunia berada di bawah US$ 100 per barel.
Kenaikan kadar campuran biodiesel memperlebar selisih harga biodiesel dan solar, sehingga kebutuhan insentif meningkat.
Dalam kondisi normal, pembiayaan B50 tetap berpotensi defisit karena bergantung pada pungutan ekspor sawit; kebutuhan tarif ideal diperkirakan 23,8%, jauh di atas tarif saat ini 12,5%.

JAKARTA, investortrust.id - Rencana implementasi mandatori biodiesel B50 yang akan dimulai pada semester II 2026 berpotensi menekan keuangan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Risiko defisit pembiayaan ini diwaspadai akan terjadi apabila harga minyak dunia berada di bawah US$ 100 per barel.

Direktur Penyaluran Dana Sektor Hilir Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Mohammad Alfansyah menyebutkan, peningkatan kadar campuran biodiesel akan memperlebar selisih antara harga indeks pasar (HIP) biodiesel dan solar. Kondisi ini otomatis meningkatkan kebutuhan insentif yang harus ditanggung.

Baca Juga

Sawit Perkuat Ketahanan Energi, BPDP Sebut Biodiesel B50 Bikin Harga Solar Lebih Murah

Dalam paparanya, ia menjelaskan, BPDP akan membayar insentif sebesar Rp 41,3 triliun jika harga minyak mentah Brent US$ 85 per barel. Insentif yang dikucurkan BPDP akan menurun hingga menjadi Rp 30 triliun jika harga minyak mentah senilai US$ 100 dolar.

"Kalau harganya US$ 115 (per barel), kita insentifnya cuma akan bayar Rp 25 triliun. Sisa target kita di 2025 tetap aman jika kondisinya seperti itu," ucap Alfansyah dalam acara Investortrust Power Talk bertajuk "Implementasi Program Biodiesel B50" di Jakarta, Kamis (30/4/2026).

Direktur Penyaluran Dana Sektor Hilir Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Mohammad Alfansyah menerima token of appreciation dari Chief Executive Officers Investortrust Primus Dorimulu pada Seminar tentang Implementasi Program Biodiesel B50, Peluang, Tantangan dan Strategi Nasional di hotel Aryaduta, Jakarta, Kamis, (30/4/2026). Foto: Investortrust/Mohammad Defrizal

Bahkan menurut Alfansyah, dalam kondisi normal tanpa tekanan geopolitik, implementasi B50 tetap berpotensi menyebabkan defisit. Hal ini karena sumber utama pendanaan BPDP masih bergantung pada pungutan ekspor (PE) kelapa sawit.

Baca Juga

Gapki: Implementasi B50 Hemat Devisa hingga Rp 172,35 Triliun

Berdasarkan hasil kajiannya, BPDP menyebutkan pembiayaan program B50 dalam kondisi normal membutuhkan tarif PE kelapa sawit sekitar 23,8%. Alfansyah mengungkapkan angka tersebut masih jauh di atas tarif yang berlaku saat ini sebesar 12,5%.

"Kalau ini memang bicaranya hanya sepotong di semester kedua, kita enggak akan tahu dan susah memproyeksikan tahun depan seperti apa. Alternatifnya seperti ini, bisa dikombinasikan. Tadi juga sudah banyak dibahas mengenai fleksibilitas pencampuran, itu juga bagian dari yang kita usulkan," terangnya.

Para pembicara dan moderator berfoto bersama Chief Executive Officer (CEO) Investortrust Primus Dorimulu usai menerima token of appreciation pada Seminar tentang Implementasi Program Biodiesel B50, Peluang, Tantangan dan Strategi Nasional di hotel Aryaduta, Jakarta, Kamis, (30/4/2026). Foto: Investortrust/Dicki Antariksa
The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024