Mengawal Hilirisasi, Mewujudkan Asta Cita
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Di tengah pusaran ketidakpastian global, Indonesia tampak sedang menata ulang arah besarnya. Hilirisasi dan transisi energi tidak lagi berjalan sebagai dua jalur terpisah, melainkan diproyeksikan akan menyatu dalam satu tarikan visi besar: mewujudkan Asta Cita—sebuah cita-cita tentang kemandirian, nilai tambah, dan kesejahteraan yang berkelanjutan.
Langkah ini menjadi semakin relevan di tengah dinamika geopolitik yang tidak menentu. Ketahanan energi tidak lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak. Presiden bahkan mematok target ambisius sebagai bagian dari lompatan besar energi nasional.
“Dalam 3 tahun, kita ingin mencapai 100 gigawatt energi surya. Bagi kami, ini semakin mendesak karena situasi yang kita lihat. Situasi geopolitik di Timur Tengah menimbulkan ketidakpastian strategis bagi keamanan energi kita,” ujar Prabowo.
Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, langkah ini akan dikawal sebagai strategi jangka panjang. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa arah tersebut bukan sekadar kebijakan, tetapi sebuah orkestrasi besar lintas sektor.
Baca Juga
Emiten Tambang di Bawah MIND ID Tetap Tangguh pada 2025, DPR Apresiasi
“Arahan Presiden Prabowo Subianto memberikan penegasan kuat bahwa hilirisasi mineral dan transisi energi harus berjalan beriringan. Kami akan memastikan seluruh kebijakan di sektor ESDM diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional,” tegas Bahlil.
Ke depan, hilirisasi tidak hanya akan berbicara tentang pengolahan mineral, tetapi tentang bagaimana Indonesia naik kelas dalam rantai nilai global. Presiden Prabowo sendiri telah menegaskan arah tersebut sebagai keharusan sejarah.
“Kita harus naik ke rantai nilai yang lebih tinggi. Indonesia ingin melakukan industrialisasi. Kita ingin kualitas hidup yang baik bagi rakyat kita. Kita ingin menghapus kemiskinan. Kita ingin menghapus kelaparan,” ujarnya—sebuah pernyataan yang menggambarkan bahwa hilirisasi adalah jalan menuju transformasi sosial, bukan sekadar ekonomi.
Di sektor energi, masa depan juga mulai dirancang dengan lebih progresif. Pemerintah diproyeksikan akan mempercepat pengembangan energi baru terbarukan, dari tenaga surya hingga panas bumi dan bioenergi, sembari membuka ruang kolaborasi global.
“Kami juga akan mendorong percepatan pengembangan energi baru terbarukan, termasuk energi surya, panas bumi, dan bioenergi, serta memperkuat kolaborasi dengan mitra internasional guna mendukung transfer teknologi dan investasi di sektor energi bersih,” ungkap Bahlil.
Namun, hilirisasi bukan hanya konsep—ia akan diwujudkan dalam langkah konkret. Pemerintah menargetkan peletakan batu pertama 21 proyek hilirisasi dalam waktu dekat, sebagai simbol dimulainya fase baru industrialisasi nasional.
Baca Juga
Perjalanan 19.000 Km, Ungkap Sisi Tambang MIND ID Lewat Film Dokumenter
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan, “Termasuk 21 proyek hilirisasi yang mohon doa restunya juga insyaallah di bulan April ini juga akan semua bisa dilakukan groundbreaking,” demikian Prasetyo.
Bersamaan dengan itu, transformasi energi juga akan menyentuh persoalan mendasar di tingkat kota dan daerah. Program Waste to Energy akan mulai dibangun di berbagai wilayah, mengubah limbah menjadi sumber energi baru. “Program Waste to Energy yang tadinya ada di 33 titik kabupaten/kota, kemungkinan akan menjadi 29 titik karena penyesuaian di lapangan. Insyaallah di bulan April ini semua sudah dilakukan groundbreaking,” tambah Prasetyo.
Di balik semua itu, terdapat satu benang merah yang mengikat: menjaga sumber daya sebagai aset strategis bangsa. Presiden Prabowo mengingatkan bahwa hilirisasi harus berjalan dengan perspektif jangka panjang. “Kita harus melindungi sumber daya kita. Kita harus mengamankan nilai ekonomi tertinggi dari sumber daya kita. Kita tidak bisa lagi puas dengan mengekspor bahan mentah tanpa nilai tambah. Mineral kritis kita adalah aset strategis,” tegasnya.
Ke depan, arah ini akan diperkuat melalui pengembangan biofuel, kendaraan listrik, hingga industrialisasi berbasis energi bersih. Semua bergerak dalam satu tujuan: mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan memperkuat kedaulatan energi nasional.
Pada akhirnya, hilirisasi bukan hanya tentang membangun industri—ia adalah tentang membangun masa depan. Dari tambang hingga panel surya, dari pabrik hingga pesisir, Indonesia sedang merangkai ulang dirinya menjadi ekonomi yang lebih mandiri, lebih tangguh, dan lebih berdaulat.
Baca Juga
Perjalanan 19.000 Km, Ungkap Sisi Tambang MIND ID Lewat Film Dokumenter

