Interkoneksi Sumatra-Jawa Jadi Proyek Prioritas Energi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Memasuki era transisi energi, pemerintah dan PT PLN (Persero) telah merencanakan dua proyek transmisi high voltage direct current (HVDC) utama dalam dekade mendatang sebagai bagian dari Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034.
Proyek interkoneksi Sumatra-Jawa yang menggunakan teknologi HVDC, dengan panjang sirkuit 112 kilometer, menjadi salah satu proyek prioritas pemerintah yang saat ini sedang dalam tahap persiapan.
Menyikapi hal ini, Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI) menggandeng Conseil International des Grands Réseaux Électriques (CIGRE) Indonesia menyelenggarakan workshop bertajuk "HVDC Transmission: Indonesia’s Green Enabling Interconnection” bertempat di kantor pusat PT PLN (Persero), Jakarta Selatan, pada Senin (20/4/2026).
Workshop ini dibuka secara resmi oleh Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo. Dalam sambutannya ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat ketahanan energi nasional. Menurutnya, masa depan energi Indonesia harus bertumpu pada pemanfaatan sumber daya domestik yang efisien dan berkelanjutan.
"Dengan semangat kebersamaan, kita bisa menciptakan masa depan energi yang lebih baik. Kita ingin menghadirkan energi lebih terjangkau, mendorong investasi lebih besar, serta mempercepat pembangunan nasional," ujar Darmawan, Senin (20/4/2026).
Baca Juga
Ketegangan Geopolitik di Timteng Buka Peluang Pembiayaan Kendaraan Listrik di Indonesia
Pernyataan ini selaras dengan proyeksi pemerintah yang memperkirakan investasi di sektor ketenagalistrikan akan melampaui US$ 500 miliar untuk mendukung target transisi energi.
Darmawan sebelumnya menyatakan bahwa Indonesia membutuhkan jaringan transmisi sepanjang sekitar 48.000 kilometer sebagai bagian dari strategi transisi energi nasional, untuk menjembatani ketimpangan antara lokasi sumber energi terbarukan (umumnya di daerah terpencil) dan pusat permintaan listrik (di kawasan ekonomi utama).
Proyek interkoneksi Sumatra-Jawa yang menggunakan teknologi HVDC, dengan panjang sirkuit 112 kilometer, menjadi salah satu proyek prioritas pemerintah yang saat ini sedang dalam tahap persiapan.
Dalam kesempatan sama, Ketua Umum MKI Suroso Isnandar yang juga menjabat sebagai direktur manajemen proyek dan energi baru terbarukan PLN, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari peran strategis MKI sebagai platform penghubung semua pemangku kepentingan sektor ketenagalistrikan dalam memperkuat kolaborasi untuk memastikan transisi energi dapat tercapai secara terkoordinasi dan berkelanjutan. Dia menyoroti pentingnya konektivitas antar-pulau, seperti Sumatra dan Jawa.
"Interkoneksi ini bukan lagi wacana, tetapi kebutuhan krusial untuk mendukung transisi energi dan memastikan keandalan sistem kelistrikan nasional," jelas Suroso.
Workshop ini menjadi forum strategis yang mempertemukan pelaku industri, regulator, hingga pemangku kepentingan global untuk membahas peran teknologi HVDC sebagai tulang punggung interkoneksi listrik hijau di Indonesia.
Workshop yang diikuti 221 peserta ini, merupakan salah satu langkah strategis dalam menyambut renana pemerintah dalam meningkatkan sistem elektrifikasi yang andal di Tanah Air.
Baca Juga
PGE dan PLN Sepakati Tarif Listrik Proyek Panas Bumi Lahendong 15 MW
Pemerintah Indonesia terus menunjukkan komitmennya dalam percepatan transisi energi menuju sistem kelistrikan yang lebih hijau dan berkelanjutan. Melalui RUPTL 2025-2034, pemerintah menargetkan penambahan kapasitas pembangkit baru sebesar 69,5 gigawatt (GW), dengan 76 persennya berasal dari energi terbarukan, seperti surya, air, angin, dan panas bumi, serta didukung oleh sistem penyimpanan energi (baterai dan pumped-storage hydropower).
Lebih rincinya, target energi terbarukan dalam RUPTL tersebut mencakup 42,6 GW dari energi baru terbarukan (EBT), meliputi 17,1 GW tenaga surya, 11,7 GW air, 7,2 GW angin, dan 5,2 GW panas bumi.

