Penipuan Online Makin Marak Jelang Lebaran, Ini Modusnya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Penipuan online meningkat menjelang Hari Raya Idulfitri atau Lebaran 2026 seiring tingginya aktivitas belanja digital selama Ramadan. Perusahaan keamanan siber Kaspersky menemukan sejumlah kampanye penipuan yang memanfaatkan momen promosi hari raya.
Penipu biasanya meniru perusahaan atau promosi populer untuk memancing korban. Modusnya dengan meminta pengguna memberikan nomor telepon lalu menyebarkan tautan kampanye palsu melalui aplikasi pesan.
Baca Juga
Tautan tersebut kemudian dibagikan kembali ke teman melalui WhatsApp atau Facebook Messenger. Setelah itu, korban dialihkan ke skema penipuan lain yang bertujuan mengumpulkan data pengguna.
Country Manager Indonesia Kaspersky Defi Nofitra mengatakan periode promo besar, seperti Ramadan sering dimanfaatkan pelaku kejahatan siber. Untuk itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan saat menerima tawaran promosi di internet.
“Selama periode promo atau perayaan besar seperti Ramadan di Indonesia, penipu dapat menjadi lebih merajalela,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (16/3/2026).
Ia menambahkan para pelaku kini juga mulai memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan untuk membuat penipuan lebih meyakinkan. Hal ini membuat serangan phishing semakin sulit dikenali oleh pengguna biasa.
“Penipu sekarang juga menggunakan AI untuk membuat upaya phishing menjadi lebih canggih dan tertarget,” kata Defi.
Data Kaspersky menunjukkan sebanyak 14,9 juta ancaman siber berbasis web terdeteksi di Indonesia sepanjang 2025. Secara umum, sekitar 22,4% pengguna internet di Indonesia pernah menghadapi ancaman online selama periode tersebut.
Baca Juga
Waduh! Ramadan Baru 10 Hari, Laporan Penipuan ke OJK Tembus 13 Ribu Kasus
Sementara itu Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat lonjakan laporan penipuan selama Ramadan 2026. Dalam 10 hari pertama Ramadan terdapat 13.130 laporan penipuan yang melibatkan lebih dari 22.000 rekening.
Untuk menghindari penipuan, masyarakat diminta selalu memverifikasi pengirim dan tautan promosi. Pengguna juga disarankan tidak membagikan informasi sensitif seperti kata sandi, nomor kartu kredit, atau data perbankan melalui pesan yang tidak jelas sumbernya.

