Timur Tengah Memanas, PKB Minta Keterlibatan Indonesia di BoP Dievaluasi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id -- Perseteruan antara Amerika Serikat dan Israel atas Iran kian memanas. Pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei dikabarkan tewas dalam serangan yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel belum lama ini. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) memandang insiden tersebut harus menjadi momentum bagi Indonesia untuk mengevaluasi keterlibatannya dalam Board of Peace (BoP).
PKB menegaskan, peristiwa tersebut bukan sekadar dinamika geopolitik biasa, melainkan ujian terhadap konsistensi politik luar negeri Indonesia yang berlandaskan amanat konstitusi dan keberpihakan moral.
Ketua Deplu dan Kerjasama Internasional DPP PKB Luluk Nur Hamidah mengatakan sebagai bangsa yang memiliki pengalaman panjang dalam kolonialisme, Indonesia memahami pentingnya menjaga martabat dan kedaulatan negara.
"Kita memberikan hormat dan sangat menyayangkan, serta menyampaikan duka cita yang sangat dalam bahwa pemimpin tertinggi Iran terbunuh karena ada agresi militer yang dilakukan oleh rezim Zionis Israel dengan dukungan Amerika Serikat. Kita bersama Iran pada saat ini," kata Luluk di kantor DPP PKB, Ahad (1/3/2026).
Ia menilai, situasi pasca-serangan tersebut menjadi tantangan serius bagi kredibilitas Board of Peace. Ia mempertanyakan apakah BoP benar-benar hadir untuk menciptakan keadilan dan perdamaian global atau justru memiliki agenda politik tertentu.
"Kalau BoP bisa berdiri tegak lurus dengan tujuannya menciptakan keadilan dan perdamaian global, tentu akan ada sikap tegas dari pimpinan negara-negara yang tergabung di dalamnya. Kalau tidak, kredibilitasnya bisa menurun," ungkapnya.
Baca Juga
Board of Peace Luncurkan Rencana Besar Perdamaian Gaza, Indonesia Jadi Aktor Kunci
Luluk mengungkapkan, BoP bukanlah substitusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). PBB diharapkan berada di garis depan dalam mencegah eskalasi konflik yang lebih luas.
Dirinya juga mengingatkan agar perhatian terhadap konflik Iran tidak mengalihkan fokus Indonesia terhadap isu Palestina.
"Apa yang terjadi di Iran tidak boleh mendistraksi perhatian kita bahwa di Gaza dan Palestina ada tragedi kemanusiaan yang sangat meluas," tegasnya.
Menurutnya, Indonesia tetap berharap PBB berada di garis depan dalam mencegah eskalasi konflik yang lebih luas akibat situasi yang dipicu Israel dengan dukungan Amerika Serikat terhadap Iran. Ia menambahkan, Indonesia memiliki komitmen untuk memainkan peran dan kontribusi yang signifikan melalui BOP, sehingga publik perlu menunggu langkah konkret pemerintah, khususnya Presiden Prabowo.
"Kita berharap bahwa PBB tetap yang akan ada di depan untuk mencegah eskalasi lebih luas dari adanya konflik yang diciptakan oleh Israel dengan dukungan AS terhadap Iran ini," kata dia.
Ia menilai dinamika yang terjadi belakangan ini dinilai dapat menjadi bahan pertimbangan bagi Indonesia untuk mengevaluasi keterlibatan dalam BOP. Menurutnya, pemerintah bersama DPR perlu merefleksikan kembali relevansi peran tersebut. Meski demikian, ia menegaskan komitmen Indonesia terhadap perdamaian hakiki tidak boleh dikalahkan oleh kepentingan geopolitik maupun ekonomi, karena kemanusiaan merupakan mandat konstitusi.
"Apakah kemudian peristiwa yang terakhir ini justru menjadi momentum kita untuk merefleksikan kembali keterlibatan kita di dalam BOP masih relevan apa tidak seperti itu. Apakah kita justru merasa semakin relevan ataukah kemudian makin tidak relevan gitu?" ucapnya.

