Luncurkan Gerakan Kolaborasi Indonesia Berdaya, Menko PM Muhaimin Iskandar: Hentikan Kegagalan Fundamental Penanggulangan Kemiskinan
JAKARTA, investortrust.id -- Kementerian Koordinator bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM) berkolaborasi dengan Kementerian Agama, Kementerian Tenaga Kerja, Forum Organisasi Zakat, Majelis Ulama Indonesia dan Perhimpunan Filantropi Indonesia meluncurkan Indonesia Berdaya Ramadan bertajuk "Pulih Bersama, Bangkit Berdaya" di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (12/2/2026). Dalam sambutanymnya, Menteri Koordinator (Menko) bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar menyoroti soal pasang surut upaya penanggulangan kemiskinan yang dikerjakan oleh pemerintah.
"Dalam mewujudkan kesejahteraan, kemakmuran, dan kemandirian masyarakat, kita memiliki jejak sejarah yang sangat panjang, berliku. Pernah sekali berhasil, dan seringkali mengalami kesulitan dan kegagalan. Pasang surut yang tidak pernah berhenti," kata Muhaimin, Kamis.
Karena itu, ia menegaskan bahwa pemerintah tidak ingin mengulang kegagalan fundamental yang terjadi selama puluhan tahun dalam menangani masalah kemiskinan. Berdasarkan pengalaman 20 tahun terakhir, ia menyebut bahwa Indonesia mengalami berbagai kegagalan fundamental dalam pendekatan strategi penanggulangan kemiskinan.
"Dengan Gerakan Indonesia Berdaya, kita tidak ingin mengulang kegagalan. Pemerintah dan kita semua tentu tidak boleh mengulangi kegagalan dan harus sukses menjadi pembelajaran," ujarnya.
Baca Juga
Prabowo Ajak Elite Bersatu Berantas Kemiskinan, Kelola Kekayaan Alam untuk Rakyat
Muhaimin kemudian mengkritik model bantuan sosial yang selama ini bersifat karitatif atau bantuan sementara yang terputus. Menurutnya, Gerakan Indonesia Berdaya hadir untuk membangun ekosistem yang menopang kekuatan kelompok lemah agar dapat tumbuh secara berkelanjutan.
"Kita tidak ingin menjadi parsial, sektoral, dan kita tidak ingin terus memberikan yang bersifat karitatif terputus. Tetapi kita ingin menopang kekuatan yang lemah untuk tumbuh selamanya," ucapnya.
Salah satu poin utama dalam gerakan ini adalah pemosisian pegiat filantropi sebagai mitra sejajar pemerintah. Muhaimin mengakui bahwa sektor filantropi memiliki pengalaman yang lebih konkret di lapangan dibandingkan pemerintah.
"Sumber daya filantropi yang besar akan terus berdampak optimal apabila kita juga terus beriringan sehingga tidak terjadi tumpang tindih," ungkapnya.
Ketua Badan Pelaksana Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) Rizal Algamar
menuturkan, Indonesia Berdaya bukan lagi soal sekadar peluncuran, tetapi soal efektivitas akses, soal efektivitas program, soal kesinambungan dan pendampingan. Serta soal bagaimana desa-desa bisa memiliki ekosistem yang memungkinkan keluarga keluar dari kerentanan secara berkelanjutan.
"Kami berharap momentum ini sebagai komitmen bersama untuk menyatukan daya, menyatukan niat kita bersama, dan juga menyatukan kerja kita bersama. Karena pengentasan kemiskinan bukan tugas satu pihak. Ini adalah amanah kemanusiaan," kata dia.

