Menag: Keluarga Adalah Fondasi Bangsa
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id -- Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menekankan pentingnya peran keluarga sebagai inti kekuatan sebuah negara. Hal tersebut ia sampaikan dalam Seminar Natal Nasional 2025 yang digelar di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Jakarta, Sabtu (3/1/2026).
Dalam pemaparannya, Nasaruddin menyoroti bahwa norma-norma mengenai keluarga menempati porsi yang sangat besar di dalam kitab suci, baik Alkitab maupun Al-Qur'an. Ia menyebut bahwa integritas sebuah bangsa sangat bergantung pada kualitas keluarga di dalamnya.
"Norma-norma keluarga itu jauh lebih sering diungkapkan dalam Alkitab dan dalam Qur'an daripada pasal-pasal norma-norma tentang negara," kata Nasaruddin.
Ia mengungkapkan, masyarakat yang ideal berawal dari keluarga ideal. Jika masyarakat ideal, maka negara akan menjadi kuat
"Jadi, keluarga itu adalah inti daripada sebuah negara, bangsa, dan masyarakat," ucapnya.
Baca Juga
Seminar Natal Nasional 2025, Tuhan Hadir Menyelamatkan Keluarga
Nasaruddin juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap tingginya angka perceraian di Indonesia yang mencapai 35% dari total pernikahan. Ia mengingatkan bahwa keretakan rumah tangga atau broken home menjadi akar dari berbagai masalah sosial, mulai dari kemiskinan baru hingga kenakalan remaja.
Data menunjukkan sekitar 81% anak-anak di bawah jembatan. Sementara 90% pengguna narkoba di lembaga rehabilitasi berasal dari keluarga yang broken home.
"Jadi betapa perlunya kita kembali ke rumah, kita kembali ke rumah, tangga ya, untuk perbaiki keluarga. Karena kalau keluarga rusak, otomatis masyarakat rusak," ujarnya.
Menag kemudian mengajak umat beragama untuk fokus pada persamaan daripada perbedaan. Ia menjelaskan bahwa banyak kisah dalam Al-Qur'an yang memiliki sumber dan tokoh yang sama dengan Alkitab, seperti kisah Ibrahim (Abraham), Musa (Moses), hingga Isa (Yesus).
Menurutnya, konflik antarumat beragama, khususnya antara Islam dan Kristen, adalah sebuah kekeliruan besar karena keduanya berasal dari rumpun yang sama.
"Agama yang sesungguhnya bukan mengajarkan kebencian satu sama lain," ungkapnya.
Baca Juga
Seminar Natal Nasional 2025, Membangun Keluarga Kristen di Tengah Lingkungan Metropolitan
Menag berpesan agar setiap individu tidak berputus asa dalam membina keluarga. Ia mengingatkan bahwa ujian dalam rumah tangga adalah sarana untuk pendewasaan diri.
"Jadi di mana ada problem, di mana ada musibah itu adalah ujian. Dan setiap kali ujian itu muncul ada janji untuk kenaikan kelas. Jadi jangan menjauh musibah, jangan takut terhadap musibah. Karena musibah itu ujian dan setiap kali ada ujian itu pertanda ada kenaikan kelas yang kita harus capai," tuturnya.

