Partai Demokrat Sebut Langkah Hukum SBY soal Ijazah Jokowi untuk Tegakkan Kebenaran
JAKARTA, investortrust.id - Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mempertimbangkan menempuh jalur hukum terhadap akun-akun anonim penyebar fitnah yang menyeretnya dalam isu ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).
Kepala Badan Riset & Inovasi Strategis (Brains) DPP Partai Demokrat, Ahmad Khoirul Umam, menilai langkah tegas Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat itu merupakan langkah yang tepat, proporsional, dan diperlukan dalam menjaga etika politik serta kesehatan demokrasi. Umam menekankan tuduhan yang mengaitkan SBY dengan isu ijazah Jokowi adalah fitnah yang tidak berdasar.
“Pak SBY sama sekali tidak terlibat dan tidak pernah berada di balik isu tersebut. Hubungan Pak SBY dan Pak Jokowi berjalan baik. Pak SBY sendiri saat ini tidak aktif dalam politik praktis, beliau fokus pada aktivitas sosial, seni dan olah raga,” kata Umam dalam keterangannya, Jumat (2/1/2026).
Baca Juga
Polisi Tetapkan Roy Suryo sebagai Tersangka Kasus Tudingan Ijazah Palsu Jokowi
Menurut Umam, fitnah yang beredar di media sosial itu disebarkan secara masif oleh akun-akun anonim. Fitnah itu, katanya, disebarkan dengan pola yang berulang dan terkesan terkoordinasi sehingga berpotensi membentuk persepsi publik yang menyesatkan.
“Disinformasi semacam ini bukan sekadar menyerang reputasi personal, tetapi juga merusak ruang publik dan kualitas demokrasi,” katanya.
Umam menyebut diperlukan sikap tegas agar kebohongan tidak dibiarkan menjadi kebenaran baru.
“Diam terhadap fitnah berisiko dianggap sebagai pembenaran. Pembiaran juga menciptakan preseden buruk, di mana politik fitnah bisa dianggap menjadi hal yang dinormalisasi,” tegas Umam.
Untuk itu, langkah hukum dijalankan dengan diawali melalui somasi, yakni teguran atau peringatan hukum tertulis yang ditujukan kepada pihak yang dianggap melanggar, menyebar fitnah, atau melakukan perbuatan melawan hukum.
“Somasi adalah tahap awal yang beradab dalam penegakan hukum. Tujuannya meminta penghentian perbuatan, membuka ruang klarifikasi atau permintaan maaf, sebelum perkara dibawa ke proses pidana,” jelasnya.
Secara filosofis, Umam menegaskan melawan fitnah adalah bagian dari hak atas keadilan dan kehormatan setiap warga negara.
“Negara dan demokrasi harus diatur oleh rule of law, bukan rule of noise atau kebisingan rumor. Demokrasi tidak boleh tunduk pada desas-desus dan manipulasi informasi,” ujarnya.
Baca Juga
SBY Tegaskan Demokrasi Tetap Penting dan Relevan di Tengah Isu Kemunduran Global
Ia menambahkan, di era media sosial, informasi palsu kerap bergerak lebih cepat dibanding fakta. Jika fitnah didiamkan, publik kehilangan rujukan kebenaran.
“Jika tuduhan tak berdasar dibiarkan, kebenaran akan dikalahkan oleh kebisingan, dan opini publik dibentuk oleh manipulasi,” katanya.
Karena itu, Umam menilai langkah hukum yang ditempuh SBY justru memiliki nilai pendidikan politik.
“Ini menegaskan batas etis antara kebebasan berekspresi dan penyebaran kebohongan. Demokrasi yang sehat menuntut akuntabilitas, verifikasi, dan tanggung jawab atas setiap pernyataan,” katanya.

