Wamenkomdigi: 'Human Error' Masih Jadi Risiko Utama Keamanan Siber
Poin Penting
|
YOGYAKARTA, investortrust.id - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menegaskan bahwa kesalahan manusia (human error) masih menjadi faktor risiko terbesar dalam berbagai insiden keamanan siber di era digital. Karena itu, pemahaman prinsip dasar keamanan siber dinilai sebagai keterampilan yang wajib dimiliki masyarakat.
“Prinsip-prinsip dasar keamanan siber penting diketahui sebagai life skill karena sebagian besar ancaman siber berasal dari kesalahan manusia,” kata Nezar Patria melalui rekaman video dalam acara Cyber Security School Competition, Expo & Talkshow 2025 di Universitas Amikom, Yogyakarta, Senin (15/12/2025).
Ia menjelaskan, lemahnya kesadaran pengguna terhadap keamanan digital kerap dimanfaatkan pelaku kejahatan siber, mulai dari praktik phishing, pencurian data pribadi, hingga peretasan akun. Secara global, berbagai laporan industri menunjukkan lebih dari 70% insiden siber berawal dari kelalaian pengguna, seperti penggunaan kata sandi lemah atau mengklik tautan berbahaya.
Di Indonesia, peningkatan aktivitas digital juga berbanding lurus dengan eskalasi ancaman siber. Transformasi digital yang masif di sektor pemerintahan, pendidikan, dan ekonomi membuat perlindungan data menjadi isu krusial yang tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada perilaku penggunanya.
Baca Juga
Ngeri! Indonesia Diserbu 3,64 Miliar Serangan Siber Sepanjang 2025
Untuk menjawab tantangan tersebut, Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) terus memperkuat upaya literasi digital kepada masyarakat. Salah satunya melalui program literasi digital nasional serta Digital Talent Scholarship (DTS) yang memberikan pelatihan keterampilan digital, termasuk keamanan siber.
Menurut Nezar, peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi kunci dalam membangun ekosistem digital yang aman. Ia juga mendorong generasi muda untuk menekuni bidang keamanan siber secara lebih serius, mengingat kebutuhan tenaga ahli di sektor ini terus meningkat.
“Keahlian di bidang cyber security sangat dibutuhkan di era transformasi digital yang sedang berlangsung cukup dinamis,” ujarnya.
Nezar menambahkan bahwa penguasaan keamanan siber tidak hanya relevan bagi profesional teknologi informasi, tetapi juga bagi pelajar dan masyarakat umum yang aktif di ruang digital. Pemahaman dasar seperti perlindungan data pribadi, keamanan akun, dan etika digital diklaim dapat menjadi fondasi penting dalam kehidupan sehari-hari.

