Muara Mati dan Kisah Nenek Lijah yang Bertahan dari Abrasi
Poin Penting
| ● | Warga Muara Jaya hidup terhimpit abrasi, banjir rob, dan penurunan tanah tanpa kepastian relokasi. |
| ● | Nelayan dan pembudi daya rugi akibat rob dan limbah, berharap pemerintah bangun tanggul. |
| ● | Ahli BRIN sarankan solusi hybrid engineering karena tanggul laut berisiko amblas di tanah berlumpur. |
BEKASI, Investortrust.id - Sekitar 76 kilometer arah timur laut Istana Negara, sebuah bangunan berpenghuni berdiri di tepi perairan Teluk Jakarta. Rumah bercat kuning itu nyaris terkubur, bukan oleh tanah, tapi air yang setiap tahun menelan daratan. Nomor rumahnya 69.
Bangunan itu menjadi rumah terluar RT 001/RW 001, Kampung Muara Jaya, Desa Pantai Mekar, Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Di rumah mungil ini Lijah tinggal bersama sang anak Umiah dan seorang bocah berumur 11 bulan.
Siang itu, Jumat (5/12/2025) dua perahu tanpa motor ada di depan rumah Lijah. Seorang pria memalu kapal. Suara palu beradu kayu, ritmik. Tok! Tok! Tok!. Dari dalam rumah terdengar percakapan dialog sinetron di televisi.
Dari luar, terlihat sosok Lijah duduk menyender. Mata Lijah memandang luar rumah. Tangan kirinya menggerakkan ayunan dari kain batik yang terikat di tiang rumah. Si bocah kecil lelap.
Lijah mempersilakan tetangganya untuk masuk. Hemamalini namanya. Perempuan ini menggendong anaknya dan membungkuk melewati pintu.
“Agak nunduk, biar nggak kejedot,” kata Lijah.
Tak lama, mereka duduk beralas tikar spon. Bertanya kabar dan mengobrol. Suara derit sesekali terdengar jika posisi duduk berubah. Mereka berbincang tentang banjir rob yang melanda pagi hari tadi.
Setiap banjir rob datang, Lijah akan meletakkan barang-barangnya ke atas. Terutama tv dan kasur pegas.
Baca Juga
Abrasi dan Rob, Ancaman Nyata Ketahanan Pangan di Pantura Jawa
Jika banjir rob menenggelamkan separuh badannya, dia akan menuju ke arah jembatan bambu reyot untuk mengungsi. Jembatan itu lebih tepat disebut wahana uji ketangkasan. Kadang kayu terpasang rapat, kadang ada lubang, kadang hanya sebilah bambu diikat tali.
Ingatan Lijah agak kabur saat ditanya kapan mulai tinggal di rumah tepi laut ini. Seingatnya, dahulu, dia bukan menjadi penghuni satu-satunya. Ketika tinggal di situ, terdapat banyak rumah dan tambak yang dikelola warga.
Umiah pun demikian. Si putri bungsu mengaku sejak kecil tinggal di lokasi tersebut. Dia lupa tahun berapa eksodus warga mulai terjadi. Dalam ingatannya, dia kerap bermain bersama rekan-rekannya.
“Sekarang sudah pada pindah ke sana,” kata Umiah menunjuk ke arah dermaga.
Pernyataan Umiah terkonfirmasi. Sebuah tiang listrik yang masih berdiri kokoh di laut seolah menjadi saksi bahwa dulu pernah ada kehidupan di kampung ini, bukan hanya air. Kini,separuh lebih tiang listrik itu telah terendam.
Meski kondisi serba sulit, Lijah mengaku enggan berpindah. Meski sudah banyak tawaran kepadanya.
"Nggak punya tempat, tanah," kata Lijah dengan wajah datarnya.
Umiah tak mengelak. Menurutnya, banyak orang dari berbagai lembaga masyarakat hingga pemerintahan yang sudah berkunjung dan menawarkan relokasi. Tapi, tidak ada kejelasan hingga saat ini. Orang-orang yang menawarkan relokasi juga tak kunjung kembali.
Di tengah perbincangan, Umiah menunjukkan dapurnya. Dia berjalan beberapa langkah, tak jauh dari televisi diletakkan. Suara derit alas bambu. Mengangkat potongan triplek.
“Ini dapurnya,” ujar dia sembari tersenyum.
Dapur tersebut lebih tepat terlihat seperti tempat masak darurat. Beberapa peralatan dapur digantung di dinding. Jarak kepala dengan atap tak sampai sejengkal. Tak hati-hati, kepala terbentur tiang penyangga atap.
Dari dapur, Umiah melihat belakang rumahnya. Menunjuk ke arah pepohonan bakau. Laut. Tumpukan sampah. Dan dia terdiam.
Sekitar beberapa kilometer dari posisi Umiah, seorang pria berkalung sarung berkenan berbagi cerita sembari duduk mengamati sejumlah nelayan yang menurunkan ikan di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Muara Jaya. Senyumnya terpancar. Tanpa berbasa-basi dia bercerita tentang banjir rob.
Baca Juga
AHY Tekankan Giant Sea Wall Harus Dikaji Matang, Tak Boleh Tergesa-gesa
Pria itu bernama Marudin. Dia tinggal di wilayah itu sejak masih berjuluk Muara Mati. Dia datang ke Muara Gembong medio 1960-an.
“Tahun 1980-an masih ada kampung di situ,” kata Marudin sambil menunjuk ke arah laut.
Menurut ingatannya, kampung itu mulai tenggelam akibat abrasi. Sejak 1990-an, warga perlahan mulai meninggalkan rumahnya. Berpindah dan membentuk perkampungan baru bernama Kampung Baru. Jaraknya sekitar 2-3 kilometer dari lokasi awal. Ada yang mengontrak rumah, ada pula yang membeli tanah dan membangunnya.
“Tapi, pindah ke situ (Kampung Baru) tetap saja terendam [banjir rob]” kata dia.
Penuturan penjaga tambak, Martak, turut membenarkan cerita yang dikisahkan Marudin. Tinggal tak jauh dari Kampung Baru, banjir rob yang terjadi di pagi hari kerap mencapai lututnya. Dia gerah banjir rob tersebut terus terulang. Alasannya, banjir rob membuat budidaya bandengnya merugi.
“Kalau bandeng saja modalnya hampir Rp 7-15 juta. Sekitar itulah kerugiannya,” ujar Martak.
Parahnya, banjir rob tak hanya merusak komoditas. Gili-gili miliknya juga rusak.
Marudin menyebut banjir rob yang terjadi tak separah beberapa tahun ini. Dahulu, banjir rob kerap terjadi dua tahun sekali. Akibat banjir yang terulang ini, ekosistem tambak menjadi rusak.
Kompleksitas Banjir Rob, Abrasi dan Limbah
Abrasi, banjir rob, dan limbah menjadi kombinasi yang makin menekan hidup nelayan dan pembudi daya. Limbah membuat ekosistem tambak tak berkembang. Pun, tangkapan nelayan menjadi berkurang.
“Limbah dari perusahaan di sini sama tongkang tuh ngaruh. Jadi, sekarang kurang tuh penghasilan dari laut, di tambak ya nggak ada juga,” ujar Marudin.
Memori eksodus warga masih terpatri di kepala Yayan. Perempuan yang sehari-hari berdagang ini tahu kisah warga yang berpindah dan membentuk Kampung Baru, meski baru lahir pada 1990-an.
“Saya dari lahir di sini. Kalau warga kampung yang rumahnya terendam pindah ke tengah, Kampung Baru,” ujar Yayan.
Kini, rumah yang Yayan tinggali menjadi area terujung. Dia tak punya pilihan. Banjir rob sudah menjadi keseharian. Ketika awal dan pertengahan bulan tiba, Yayan dan para tetangga bersiap.
Anak-anak yang bersekolah dibangunkan lebih awal. Pukul 05.00 WIB, mereka diminta berangkat ke sekolah. Telat berangkat, mereka tak bisa bersekolah, sebab jalan sudah digenangi air yang tak bisa dilalui kendaraan.
“Pagi-pagi, kita ngangkutin barang-barang. Biar nggak terendam,” ucap dia.
Dengan kondisi yang terus berulang, Lijah, Marudin, Hemamalini, Yayan, dan warga Kampung Muara Jaya berharap bantuan pemerintah. Minimal, pinta mereka, ada tanggul yang menghalau air meluap ke daratan.
Baca Juga
Tide Eye, Inovasi Sistem Monitoring Banjir Rob Berbasis Data
Yayan tak memungkiri, sejumlah pejabat dan calon pejabat telah berulang kali mengunjungi wilayahnya. Mereka berjanji akan membangun bendungan. Namun janji tinggal janji.
“Kampung sini mah banyak dijanji-janjiin, tapi nyatanya gak ada,” kata Yayan dengan sorot mata yang masih memancarkan harapan, namun juga kepasrahan.
Harapan yang sama juga muncul dari Sekretaris Desa Pantai Mekar, Rojali. Tiga kampung di area desa tersebut, Kampung Muara Jaya, Kampung Baru, dan Kampung Muaragembong menjadi area rawan abrasi dan banjir rob. Rojali berharap penuh pembangunan tanggul laut atau sea wall dari pemerintah.
“Kalau enggak, ekskavator. Agar kami dapat membuat tanggul manual,” kata Rojali.
Rojali bercerita banjir rob dan abrasi membuat perekonomian desa itu terganggu. Selain itu, dia khawatir daratan itu lambat laun akan menghilang.
Tanggul Laut
Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Organisasi Riset Kebumian dan Maritim Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Tubagus Solihuddin berhati-hati merespons pembangunan tanggul laut untuk menghindari abrasi dan banjir rob.
Selama meneliti perairan di Kecamatan Muaragembong, Solihuddin menemukan karakteristik pantai di area tersebut yang didominasi lumpur. Menurutnya, pembangunan tanggul laut menimbulkan potensi amblas.
“Kalau misalnya ada struktur yang berat, nanti akan turun [struktur tanggulnya] dalam 5-10 tahun. Ditinggikan lagi. Terus sampai kapan?” kata Solihuddin, kepada investortrust.id, Minggu (7/12/2025).
Bagi Solihuddin, pembangunan tanggul laut memerlukan perhitungan yang matang dari sisi ekonomi dan lingkungan. Dari sisi ekonomi, biaya yang besar dalam pembangunan perlu terkompensasi dengan area yang ingin diselamatkan, misalnya obyek vital, arena perkampungan, hingga sumber perekonomian.
Solihuddin mengatakan secara karakteristik, Pantai Muara Gembong itu masuk sebagai pantai yang agresif. Pantai agresif artinya daratannya akan bertambah. Melihat corak seperti itu, perlu solusi untuk menangkap sedimentasi yang ada di wilayah tersebut dengan hybrid engineering.
Teknologi berbasis bambu dan karung berisi pasir itu telah digunakan di kawasan Pantai Sayung, Demak, Jawa Tengah. Cara ini diharapkan dapat menangkap sedimentasi dan mencegah banjir rob ke daratan.
Untuk menahan laju abrasi, pemangku kebijakan dapat menggunakan gray structure. Teknologi kedua ini menggunakan tumpukan batu yang disusun layaknya dam atau revetment rock yang berfungsi memecah ombak dan menahan abrasi.
“Sehingga sedimen di belakang batu terakumulasi dan setelah itu mangrove dapat tumbuh secara alamiah,” ujar dia.
Dalam penelitiannya yang berjudul “The impact of coastal erosion on land cover changes in Muaragembong, Bekasi, Indonesia: a spatial approach to support coastal conservation”, Solihuddin mengamati perubahan pantai di Muara Gembong sejak 1990 hingga 2020. Tak hanya abrasi, Solihuddin juga mencatat terjadinya penambahan daratan atau akresi di wilayah tersebut melalui citra satelit dan penelitian lapangan.
Dalam periode tersebut, Desa Harapanjaya mengalami penambahan daratan secara rata-rata mencapai 16,46 meter per tahun. Desa Pantai Bahagia menjadi wilayah dengan abrasi paling ekstrim. Secara rata-rata, wilayah ini kehilangan sekitar 9,61 meter per tahun. Sementara itu, wilayah Desa Pantai Mekar secara rata-rata mengalami penambahan area daratan sebesar 0,88 meter per tahun.
Penambahan wilayah di Muara Gembong ini terjadi karena terdapat delta di Desa Pantai Bahagia, Pantai Harapan, dan Pantai Mekar. Ketiganya merupakan menjadi muara dari Sungai Citarum, percabangan Sungai Citarum, dan Sungai Bekasi. yang menyuplai sedimen.
Melihat pergerakan garis pantai, wilayah Desa Pantai Mekar mulai mengalami abrasi sejak periode 2010-2020. Rata-rata abrasi per tahun di desa tersebut mencapai 4,14 meter per tahun dan akresi sebesar 2,57 meter per tahun. Sehingga selama 10 tahun tersebut, terjadi abrasi secara rata-rata sebesar 3,58 meter per tahun.
Solihuddin melihat masalah abrasi dan banjir rob yang terjadi di Kampung Muara Jaya tersebut kompleks. Sebab, terdapat indikasi land subsidence atau penurunan tanah. Dugaan ini masih perlu dikonfirmasi dengan penelitian lapangan dan pengukuran GPS. Pengamatan yang dimaksud Solihuddin yaitu mulai menurunnya posisi infrastruktur seperti perumahan dan jalan.
Warga Kampung Muara Jaya mengakui adanya penurunan tanah tersebut. Yayan, Hemamalini, hingga Umiah merasakan itu.
Jika kondisi ini sudah terjadi, pilihannya hanya dua: pindah ke lokasi yang lebih tinggi atau membuat rumah panggung. Dari pilihan itu, yang pasti, satu keputusan telah dibuat Lijah. Bertahan. Demi satu-satunya harta yang dia punya dan ingatan bersama keluarganya.

