Kerap Turun ke Rakyat, Seskab Teddy Dinilai Wujud Negara yang Mengasuh
JAKARTA, investortrust.id - Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya dinilai mewujudkan negara yang mengasuh dengan rajin turun ke masyarakat. Hal itu disampaikan pengamat politik Universitas Nasional (Unas), Amsori Baharudin Syah dalam keterangannya, Senin (17/11/2025).
Seskab Teddy dalam beberapa kesempatan turun langsung ke masyarakat untuk mendengar dan menyerap aspirasi. Beberapa di antaranya meninjau pelaksanaan program magang nasional di salah satu perusahaan di Kabupaten Bekasi serta meninjau Sekolah Rakyat Menengah Atas 33 di Tangerang Selatan.
Amsori mengatakan, Seskab Teddy tidak lagi sekadar menjalankan peran teknokratis karena memilih turun langsung ke akar rumput.
“Apa yang dilakukan Teddy Indra Wijaya adalah bentuk dari pelayanan publik. Ia hadir bukan sebagai pejabat, tetapi sebagai manusia yang mau mendengar,” kata Amsori.
Baca Juga
Seskab Teddy Tegaskan Akurasi Data Jadi Fondasi Kebijakan Prabowo
Amsori menilai pendekatan Seskab Teddy menghadirkan model kepemimpinan publik yang jarang terlihat. Dalam banyak birokrasi modern, pejabat umumnya berfungsi sebagai pengambil keputusan strategis di balik ruang rapat. Namun, katanya, Teddy justru memindahkan sebagian ruang kerjanya ke tengah masyarakat.
“Di mata saya, Teddy hadir sebagai wujud negara yang mengasuh, bukan mengatur. Ini penting, karena negara tidak cukup hanya membuat aturan, negara harus hadir dalam rasa, hadir dalam kehidupan warganya,” katanya.
Menurut Amsori, kehadiran fisik pejabat tinggi negara memiliki dampak psikologis yang kuat. Masyarakat merasa dilihat, didengar, dan dihargai oleh pemerintah. Teddy menembus jarak antara pemerintah dan rakyat. Amsori menyebut gaya kepemimpinan Seskab Teddy ini sejalan dengan konsep empathetic governance, sebuah pendekatan dalam teori kepemimpinan publik yang menekankan kehadiran emosional, bukan hanya struktural.
Dijelaskan, teori Hannah Arendt tentang power as acting in concert, kekuasaan politik sejati muncul ketika pemimpin berada dalam ruang yang sama dengan rakyat dan membangun kepercayaan melalui tindakan konkret.
“Teddy tidak sedang menunjukkan kuasa administratif, tetapi kuasa moral. Ia membangun legitimasi dengan mendengarkan, bukan memerintah,” kata Amsori.
Baca Juga
Seskab Teddy Tegaskan Magang Nasional Bukti Pemerintah Serius Perluas Kesempatan Kerja Anak Muda
Pendekatan ini, menurutnya, menjadi modal penting bagi birokrasi modern yang menuntut pemimpin untuk adaptif, inklusif, dan dekat dengan realitas sosial. Menurut Amsori, langkah Seskab Teddy mengunjungi sekolah rakyat merupakan simbol dari semangat state nurturing, negara yang hadir untuk merawat, menguatkan, dan memanusiakan warganya. Gestur sederhana, seperti duduk bersila bersama anak-anak, berbicara santai dengan orang tua, atau mendengarkan keluhan tanpa catatan protokol justru menjadi tindakan administratif paling kuat.
“Banyak pejabat bicara soal pelayanan publik, tetapi sedikit yang hadir sebagai manusia. Teddy melakukannya. Itu yang membuat pesan kepemimpinannya berbeda,” sambungnya.
Amsori menambahkan langkah Seskab Teddy ini juga memperkuat citra kabinet sebagai institusi yang tidak hanya mengeluarkan kebijakan, tetapi juga memahami realitas lapangan tempat kebijakan itu bekerja. Perubahan gaya kepemimpinan seperti ini sangat relevan dalam konteks politik kontemporer Indonesia. Dikatakan, pendekatan empatik dan rendah hati dapat menjadi jembatan untuk memulihkan kepercayaan publik terhadap pejabat negara,
“Teddy menunjukkan bahwa negara yang kuat adalah negara yang mau mendengar,” ujar Amsori.

