70 Tahun Konferensi Asia-Afrika, Dunia Bahas Kembali Semangat Global Selatan
Poin Penting
|
BANDUNG, Investortrust.id – Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) menyelenggarakan sesi pleno internasional bertajuk “Bandung di Usia 70: Membangun Dunia Kembali” di Bandung belum lama ini dalam rangka memperingati 70 tahun Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955. Acara ini mempertemukan para cendekiawan lintas benua untuk membangkitkan kembali Semangat Bandung sebagai pijakan bagi kerja sama global yang lebih adil di tengah ketegangan geopolitik dunia saat ini.
Sidang pleno tersebut dipimpin oleh Prof. Darwis Khudori dari Université Le Havre Normandie, Prancis, bersama Prof. Nurliah Nurdin dari IPDN dan Dr. Baskara Wardaya dari Praksis Indonesia. Forum ini dihadiri tokoh-tokoh intelektual terkemuka, seperti Manoranjan Mohanty (India), Connie Rahakundini Bakrie (Indonesia/Rusia), Qing Shi (Tiongkok), Fulufhelo Netswera (Afrika Selatan), Beatriz Bissio (Brasil/Uruguay), Olga Volosyuk (Rusia), dan Bruno Drweski (Polandia/Prancis).
Dalam diskusi tersebut, para akademisi menekankan bahwa pesan utama Konferensi Asia-Afrika, yakni solidaritas, keadilan, dan kemandirian bangsa-bangsa berkembang, tetap relevan bahkan setelah 7 dekade.
Prof. Connie Rahakundini Bakrie menegaskan bahwa warisan Bandung masih vital dalam membentuk kembali tatanan dunia. “Visi Soekarno tentang Gerakan Non-Blok tetap kuat, sebuah semangat perubahan peradaban yang mendorong kesadaran kolektif di mana BRICS menjadi kekuatan dan ASEAN menjadi pemikiran,” ujar dia dalam keterangannya, Rabu (29/10/2025).
Sekitar 70 tahun setelah Konferensi Asia–Afrika 1955, dunia kembali menoleh ke Bandung, kota tempat semangat solidaritas dan kemerdekaan bangsa-bangsa berkembang menjadi arah moral global. "Semangat Bandung kini bukan sekadar kenangan sejarah, melainkan “kompas moral hidup bagi abad ke-21” yang menyerukan dunia yang lebih adil, damai, dan sadar," kata Prof. Connie Rahakundini Bakrie,
Ketika Unesco menetapkan arsip Konferensi Bandung (1955), pidato Presiden Soekarno di PBB (1960), dan KTT Gerakan Non-Blok di Beograd (1961) ke dalam Memory of the World, dunia mengakui ketiganya bukan lagi sekadar catatan masa lalu. Ia kini menjadi mandat moral, untuk membangun tatanan dunia baru yang berlandaskan keadilan dan kemanusiaan.
Baca Juga
PDIP: Spirit Konferensi Asia Afrika Masih Relevan Hadapi Tantangan Global
Prof. Connie menilai bangsa-bangsa dalam “Konstelasi Bandung” kini menghadapi lima bentuk dominasi modern: penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, informasi dan media, sistem keuangan global, teknologi militer, serta sumber daya alam.
Sementara Prof. Manoranjan Mohanty dari India menyerukan agar hubungan internasional berfokus pada rakyat. Ia menekankan perlunya memperkuat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai lembaga global yang lebih demokratis serta mendukung inisiatif kerja sama Selatan-Selatan dan peran BRICS.
Dari perspektif Eurasia, Prof. Olga Volosyuk melihat kesinambungan langsung antara Konferensi Bandung dan munculnya aliansi BRICS. Menurutnya, moto BRICS “Membangun Dunia yang Lebih Baik Bersama” merefleksikan impian Soekarno tentang keadilan dan kesetaraan antarbangsa.
Sementara itu, cendekiawan Amerika Latin Beatriz Bissio menyoroti bahwa pesan anti-imperialis Bandung masih sangat relevan hingga kini. Ia menyayangkan masih bertahannya Doktrin Monroe di Amerika Latin, dan menyerukan bentuk baru internasionalisme yang berpihak pada rakyat, bukan sekadar negara.
Seruan dari Selatan
Mewakili Afrika, Prof. Fulufhelo Netswera mengingatkan pentingnya mengubah wacana menjadi tindakan nyata. “Kita, masyarakat di belahan bumi selatan, harus memastikan hari esok menjadi dunia yang lebih baik daripada yang kita warisi dari para pendahulu di Bandung 1955,” tegasnya.
Dari Tiongkok, Prof. Qing Shi menyerukan pembentukan “front persatuan untuk kerja sama Selatan-Selatan” serta ajakan untuk “keluar dari kerangka pengetahuan kolonial dan membangun kembali struktur global yang lebih setara.”
Baca Juga
IBC Dorong Penguatan Kolaborasi Bisnis dan Perdagangan Negara-negara Asia Afrika
Dalam penutupan pleno, Prof. Darwis Khudori menegaskan bahwa Semangat Bandung bukan sekadar catatan sejarah, melainkan filosofi hidup yang terus menginspirasi perjuangan keadilan global. “Bandung 1955 memberi dunia pandangan baru bahwa solidaritas dan kesetaraan adalah kekuatan moral bagi bangsa-bangsa yang pernah dijajah,” katanya.
Acara ditutup dengan peluncuran buku simbolis berjudul “Membangun Kembali Dunia dalam Perspektif Global”, yang menjadi simbol komitmen IPDN untuk memperkuat kolaborasi intelektual, diplomasi kebijakan, dan kepemimpinan global berbasis nilai-nilai Bandung di era modern.

