Rampung Digelar, Jakarta Futures Forum 2025 Bahas Transisi Energi Hingga Inovasi Kawasan Global Selatan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Jakarta Futures Forum 2025 rampung digelar di JW Marriot Kuningan, Jakarta pada 5-6 Agustus 2025. Pada hari kedua penyelenggaraannya, JFF menghadirkan 7 panel diskusi, dengan tema pembahasan mulai dari transisi energi hingga inovasi negara-negara Selatan.
Berikut kesimpulan dari masing-masing diskusi panel yang dibahas bersama para ahli di bidangnya:
Transisi Energi
Diskusi pertama bertema ‘Dari Inovasi Menuju Inklusi: Membiayai Fase Transisi Energi Berikutnya’. Diskusi ini menunjukkan bahwa mencapai akses energi yang adil dan keamanan jangka panjang, membutuhkan pendekatan semua teknologi yang siap pakai.
Sedangkan transisi energi yang sukses dan adil, bergantung pada penerapan berbagai solusi yang komprehensif. Termasuk bahan bakar konvensional, energi terbarukan, efisiensi energi, biofuel berkelanjutan, penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS), dan energi nuklir.
“Inti dari transformasi ini adalah kebutuhan mendesak untuk memobilisasi aliran modal berskala besar dan toleran terhadap risiko demi keamanan energi di negara-negara berkembang,” ujar Peneliti George Washington Institute of Public Policy, Amerika Serikat, Terri B. Chapman yang saat itu menjadi moderator.
Model pembiayaan inovatif yang memadukan modal publik, swasta, filantropi, dan multilateral dinilai sangat penting. Sebab, hal ini memungkinkan investasi energi yang beragam dengan biaya pengurangan emisi yang tetap terendah.
Panel diskusi pertama dibahas bersama Indonesia Programme Representative, Clean Energy Finance & Investment Mobilisation, Indonesia Programme Representative, OECD Hakimul Batih; Vice President, Vietnam Economic Association Bui Quang Tuan; Director-General, International Affairs, Ludovika University of Public Service, Hungary Liliana Śmiech; dan Advisor, KBU Research Institute, Thailand Suthikorn Kingkaew.
Perdagangan BRICS di Global
Dalam diskusi panel kedua, forum ini membahas ‘Hubungan Perdagangan: BRICS, Afrika, dan Perbatasan Berikutnya dalam Perdagangan Global’. Pasalnya, kebutuhan mengembangkan infrastruktur transportasi internasional dan koridor logistik yang tangguh, aman, dan hemat biaya, telah menjadi keharusan perdagangan yang penting belakangan ini.
“Hal ini merupakan akibat dari serangkaian peristiwa yang tidak menguntungkan yang telah mengganggu perdagangan internasional, mulai dari pandemi COVID-19 hingga konflik di Asia Barat,” ujar Peneliti Terhormat India Foundation, Rami Desai.
Direktur Pusat Penelitian BRICS Qingxin Lan menegaskan, negara-negara BRICS, dengan partisipasi Afrika yang semakin meluas, memiliki peluang unik untuk mengadopsi pendekatan yang terfokus pada pembiayaan infrastruktur. Hal ini dipandu oleh Kawasan Perdagangan Bebas Benua Afrika (AfCFTA).
Benih Perubahan: Memikirkan Kembali Ketahanan Pangan di Indo-Pasifik
Kebijakan pangan nasional dan model distribusi berbasis teknologi sedang membentuk kembali sistem pangan domestik di seluruh Indo-Pasifik. Negara-negara seperti India telah menerapkan kerangka kerja pengadaan dan pengiriman publik berskala besar untuk memastikan akses pangan, sementara inovasi di bidang agri-tech, logistik, dan e-commerce mentransformasi cara makanan berpindah dari lahan pertanian ke meja makan. Di saat yang sama, rantai nilai pangan global dan pengaturan perdagangan berada di bawah tekanan akibat guncangan geopolitik, perubahan iklim, dan meningkatnya proteksionisme.
Panel ini akan mengeksplorasi bagaimana negara-negara Indo-Pasifik dapat mengintegrasikan reformasi domestik dengan strategi ketahanan global untuk membangun sistem pangan yang inklusif, adaptif, dan siap menghadapi masa depan.
Ketahanan Pangan Indo-Pasifik
Untuk panel diskusi ketiga, JFF menghadirkan tema ‘Benih Perubahan: Memikirkan Kembali Ketahanan Pangan di Indo-Pasifik’. Pasalnya, kebijakan pangan nasional dan model distribusi berbasis teknologi sedang membentuk kembali sistem pangan domestik di seluruh Indo-Pasifik.
Negara-negara seperti India telah menerapkan kerangka kerja pengadaan dan pengiriman publik berskala besar untuk memastikan akses pangan. Sementara inovasi di bidang agri-tech, logistik, dan e-commerce mentransformasi cara makanan berpindah dari lahan pertanian ke meja makan.
“Di saat yang sama, rantai nilai pangan global dan pengaturan perdagangan berada di bawah tekanan akibat guncangan geopolitik, perubahan iklim, dan meningkatnya proteksionisme,” ujar Senior Programme Officer, Data Analyst, AUDA-NEPAD South Africa Pamla Gopaul.
Panel ini mengeksplorasi bagaimana negara-negara Indo-Pasifik dapat mengintegrasikan reformasi domestik dengan strategi ketahanan global untuk membangun sistem pangan yang inklusif, adaptif, dan siap menghadapi masa depan.
Seorang pembicara panel diskusi, yakni Secretary NEISSS India Chhavi Rajawat memaparkan, India telah mengambil langkah-langkah penting untuk memastikan keterlibatan kaum muda di komunitas pertanian. Hal ini dilakukan dengan mempromosikan dan mendukung wirausahawan muda, melalui perusahaan rintisan (startup) yang mereka bangun.
“Ketika saya mengatakan mempromosikan, itu juga mencakup penyediaan dana bagi kaum muda untuk bekerja di bidang-bidang ini, dan saya pikir itu sangat, sangat menggembirakan,” ujar Chhavi.
Baca Juga
Jakarta Futures Forum Tegaskan Pentingnya Kolaborasi India-Indonesia di Kawasan Indo-Pasifik
Kerja Sama Maritim Indo-Pasifik
Untuk panel diskusi keempat hari itu, JFF membahas ‘Pengamanan Blue Commons: Kerja Sama untuk Tatanan Maritim Indo-Pasifik’. Hal ini seiring meningkatnya ketegangan maritim dari Laut Cina Selatan hingga Laut Merah, perairan Indo-Pasifik telah menjadi garda terdepan dalam kontestasi strategis, saling ketergantungan ekonomi, dan risiko keamanan.
Amerika Serikat yang tak terduga dan China yang ekspansionis sedang membentuk kembali kalkulasi regional, sehingga mendesak bagi kekuatan-kekuatan Indo-Pasifik untuk menentukan arah mereka sendiri.
“Sesi ini menyoroti bagaimana negara-negara seperti India dan Indonesia, bersama mitra Indo-Pasifik lainnya seperti Australia dan Jepang, dapat melangkah maju untuk membangun arsitektur maritim Indo-Pasifik yang lebih inklusif dan tangguh,” jelas Adjunct Fellow, East-West Centre, USA Nilanthi Samaranayake.
Menghubungkan Pasar di Kawasan Selatan
Panel diskusi kelima membahas ‘Busur Sutra Baru: Menghubungkan Samudra, Pasar, dan Kawasan Selatan’. Hal ini seiring Indo-Pasifik muncul sebagai poros perdagangan dan geopolitik global, keterkaitannya dengan kawasan Mediterania, Atlantik, dan Afrika semakin erat.
Indonesia dan India, bersama para pemain kunci regional, mendorong pergeseran politik-ekonomi melalui koridor-koridor strategis yang menghubungkan Asia dengan Afrika dan Amerika Latin, dengan pusat-pusat seperti UEA memainkan peran sentral.
“Inisiatif seperti IMEC, Global Gateway, dan jembatan ASEAN-Afrika menandakan era baru integrasi lintas kawasan yang dibangun di atas infrastruktur yang tangguh, rantai pasok, dan kerja sama keuangan,” ujar Visiting Professor, Sciences Po Paris; Senior Non-Resident Fellow, German Marshall Fund, Julia De Clerck-Sachsse.
Panel ini pun mengeksplorasi bagaimana kemitraan plurilateral, rute maritim, dan infrastruktur publik digital dapat membangun kembali konektivitas global dan memposisikan ulang Kawasan Selatan.
Katalisasi Inovasi bagi Negara-Negara di Selatan
JFF menghadirkan pembahasan ‘Dividen DPI: Mengkatalisasi Inovasi bagi Negara-Negara di Selatan’ pada panel diskusi keenam. Latar belakangnya, model infrastruktur publik digital (DPI) India mendorong transformasi digital negara tersebut dan memacu inovasi dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Berlandaskan DPI, beberapa perusahaan rintisan India telah menjadi unicorn dan bersaing ketat dengan Big Tech.
Indonesia juga telah memperjuangkan model DPI, dengan sistem ID digital, pembayaran, dan pertukaran datanya yang mengkatalisasi inovasi dan menjadikannya sebagai praktik terbaik di tingkat regional.
“Menyadari dampak DPI terhadap kewirausahaan dan inovasi, serta saling belajar, Indonesia, India, Brasil, dan Afrika Selatan telah mempromosikan adopsi DPI selama masa kepresidenan G20 mereka masing-masing,” terang Managing Director Baker & York Australia, Erin Watson.
Akibatnya, berbagai negara di Negara-Negara di Selatan saat ini sedang membangun DPI, dan beberapa negara maju juga telah menyatakan minatnya untuk membantu menerapkan DPI di negara-negara ketiga sebagai alat untuk pertumbuhan.
Dalam diskusi itu, Chief Executive Officer and Managing Director, Open Network for Digital Commerce, India, T Koshy mengutip Richard Feynman yang menyebut bahwa ‘saya tidak menciptakan sesuatu untuk semua orang’.
Koshy pun memandang, sesungguhnya regulator atau pembuat kebijakan tidak memahami teknologi.
“Bayangkan, Anda mencoba membatalkan perjalanan, seberapa mudah atau seberapa sulitkah itu? Sangat sulit menemukan perjalanan yang dibatalkan,” ujar Koshy, menggambarkan banyaknya perubahan regulasi terkait teknologi dan digitalisasi.
2025 Tahun Penuh Kejutan, Apa yang Akan Datang?
Di sesi terakhir, Jakarta Future Forum menghadirkan tema diskusi ‘2025: Tahun Penuh Kejutan - Apa yang Bertahan, Apa yang Berubah, dan Apa yang Akan Datang?’. Sesi penutup ini mengupas titik-titik perubahan di tahun 2025, apa yang bertahan, apa yang terurai, dan apa yang bertransformasi.
“Seiring dunia menyesuaikan diri dalam geopolitik, geoekonomi, dan tata kelola global, kita menatap tren, ketegangan, dan titik balik yang akan membentuk tahun 2026,” tutup Vice President Studies and Foreign Policy, Observer Research Foundation India Harsh Pant.

