Paradoks di Raeoa, Bandara Megah Tak Ubah Nasib Rakyat
Poin Penting
|
Oleh: Silvino Augusto Pinto Cabral
Dosen Fakultas Ekonomi dan Manajemen UNTL;
Kandidat Doktor UKSW Salatiga, Jawa Tengah
INVESTORTRUST.ID -- SEJAK tahun 2014, Região Administrativa Especial Oecusse Ambeno (Raeoa) atau Oe-Kuse ditetapkan sebagai daerah administratif khusus di Republik Demokratik Timor Leste (Timor Leste). Tujuan ambisiusnya untuk menjadi model pembangunan baru yang modern dan maju. Pemerintah mengalokasikan anggaran jumbo untuk membangun berbagai proyek infrastruktur skala besar di wilayah ini.
Data resmi Pemerintah Timor Leste periode 2014-2024 menunjukkan, anggaran khusus yang dialokasikan untuk pembangunan Raeoa menyentuh lebih dari US$ 150 juta. Sebagian besar anggaran dialokasikan untuk membangun bandara internasional, pelebaran jalan tol, sistem irigasi, dan pembangunan fasilitas pemerintahan.
Proyek-proyek tersebut termasuk pembangunan Bandara Internasional Presidente Nicolau Lobato yang megah di Oe-Kuse, pelebaran jalan raya utama sepanjang 45 kilometer serta perbaikan sistem irigasi yang diharapkan mampu mendukung ketahanan pangan wilayah tersebut. Pembangunan gedung-gedung pemerintahan dan fasilitas umum juga menandai ambisi pemerintah untuk memposisikan Raeoa sebagai kawasan yang modern dan terintegrasi secara infrastruktur.
Namun, lebih dari satu dekade sejak inisiatif tersebut dimulai, pertanyaan mendesak muncul: apa dampak nyata dari pembangunan infrastruktur megah ini terhadap kehidupan masyarakat kecil di Raeoa? Apakah anggaran besar tersebut telah berhasil mengubah kondisi sosial-ekonomi masyarakat secara signifikan?
Potret yang Tak Terhubung Kesejahteraan
Dari hasil pengamatan langsung penulis dan beberapa studi empiris menyimpulkan, pembangunan fisik yang megah belum mengubah nasib masyarakat lokal. Bandara internasional yang dibangun dengan biaya lebih dari US$ 60 juta hampir tidak digunakan optimal, terutama minimnya aktivitas penerbangan komersial reguler yang melibatkan komunitas lokal.
Jalan tol yang mulus dan lebar memudahkan akses dari pusat kota ke Raeoa. Namun, di saat bersamaan petani dan pedagang lokal masih menghadapi persoalan serius dalam akses pasar, buntut kendala logistik dan minimnya fasilitas pendukung seperti pasar lokal dan layanan transportasi yang terjangkau.
Sistem irigasi yang diperbaiki juga belum meningkatkan ketahanan pangan masyarakat signifikan. Data Kementerian Pertanian Timor Leste menunjukkan, tingkat ketahanan pangan di Raeoa lima tahun terakhir hanya meningkat sekitar 5%, angka yang relatif kecil berbanding terbalik dengan nilai investasi besar yang telah dilakukan.
Pada saat yang sama, angka kemiskinan di wilayah ini masih tinggi, sekitar 38% (BPS Timor Leste, 2023) dan tingkat pengangguran mencapai 22%, di mana sebagian besar berasal dari kalangan muda yang kesulitan mendapatkan pekerjaan formal.
Gedung-gedung pemerintahan dan fasilitas publik yang menjulang tinggi memang menjadi simbol kemajuan, tetapi hal tersebut tidak sejalan dengan kondisi sosial dasar masyarakat. Akses terhadap air bersih, listrik, pendidikan, dan layanan kesehatan masih jauh dari standar yang memadai.
Misalnya, hanya sekitar 55% rumah tangga di Raeoa yang memiliki akses listrik stabil, sementara sebagian besar anak-anak masih harus menempuh perjalanan lebih dari 5 km untuk mencapai sekolah terdekat.
Paradoks Pembangunan
Fenomena ini saya sebut sebagai paradoks pembangunan. Di satu sisi, ada pertumbuhan infrastruktur fisik yang impresif namun di sisi lain, kesejahteraan masyarakat tetap stagnan bahkan memburuk. Proyek-proyek besar di atas tampaknya lebih didasarkan pada visi pembangunan top-down yang kurang mempertimbangkan realitas dan kebutuhan masyarakat grassroot. Akibatnya, pembangunan yang seharusnya memberdayakan masyarakat justru terasa asing dan jauh dari kehidupan mereka sehari-hari.
Salah satu faktor utama kegagalan pembangunan ini adalah minimnya partisipasi masyarakat lokal dalam proses perencanaan dan pelaksanaan pembangunan. Masyarakat seringkali tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan, sehingga proyek yang dibangun tidak mencerminkan kebutuhan mereka. Hal ini mengakibatkan infrastruktur yang dibangun kurang menyentuh atau tidak memberikan manfaat benefit ekonomi dan sosial berkelanjutan (sustainable).
Data partisipasi masyarakat yang dirikis Lembaga Studi Pembangunan Lokal (2022) menunjukkan, lebih dari 70% warga Raeoa merasa tidak pernah diajak berdialog atau diberi informasi tentang proyek pembangunan yang berlangsung di lingkungan mereka. Hal ini memperkuat kesan bahwa pembangunan lebih menjadi simbol dan alat legitimasi politik, bukan alat menuju perubahan nyata masyarakat.
Lebih parah lagi, indikator kesejahteraan sosial di Raeoa belum menunjukkan perbaikan signifikan. Data BPS Timor-Leste (2023) mencatat bahwa tingkat kemiskinan ekstrem masih berada di angka 15% dan akses layanan kesehatan dasar hanya dinikmati oleh sekitar 60% penduduk. Sementara itu, ketimpangan ekonomi tetap tinggi dengan sebagian kecil elit lokal menikmati manfaat pembangunan. Sedangkan mayoritas masyarakat tetap miskin dan termarginalkan.
Dalam konteks studi pembangunan, pelajaran berharga yang dapat dipetik ialah bahwa pembangunan sejati bukan sekadar soal menyelesaikan proyek fisik, tetapi bagaimana pembangunan itu dapat memperkuat kapasitas masyarakat, meningkatkan kualitas hidup, dan memperluas kesempatan ekonomi secara inklusif. Pembangunan yang hanya bertumpu pada aspek fisik tanpa memberdayakan manusia dan komunitasnya akan berujung pada kegagalan sistemik.
Perubahan Paradigma Pembangunan
Sebagai akademisi yang concern dalam disain kebijakan publik pembangunan ada beberapa seruan perlunya mengubah paradigma pembangunan di Raeoa. Pertama, pemerintah dan semua pihak terkait harus mengedepankan pendekatan pembangunan yang berpusat pada manusia, yang melibatkan masyarakat secara aktif dalam setiap tahap proses pembangunan.
Kedua, partisipasi masyarakat, transparansi, dan akuntabilitas harus menjadi landasan utama agar pembangunan bisa berjalan secara efektif dan berkelanjutan. Ketiga, pembangunan harus diarahkan untuk memberdayakan ekonomi lokal melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pengembangan usaha mikro dan kecil, serta peningkatan akses ke pendidikan, kesehatan, dan layanan sosial. Infrastruktur penting, tetapi tanpa pengembangan sosial-ekonomi yang holistik, benefit ekonomi dan sosial terbatas bahkan menjauh.
Jika tidak ada perubahan paradigma tersebut, proyek-proyek besar seperti bandara dan jalan tol di Raeoa akan tetap menjadi fasilitas yang kurang berguna bagi masyarakat luas. Bandara akan tetap sepi, jalan tol akan dilewati tanpa membawa dampak signifikan pada perekonomian lokal. Begitu pula gedung-gedung pemerintahan hanya sekadar simbol dari janji pembangunan yang menyentuh rakyat kecil.
Jika tidak ada perubahan paradigma pembangunan, proyek-proyek besar seperti bandara dan jalan tol di Raeoa akan menjadi fasilitas yang tidak berdaya guna bagi masyarakat luas. Bandara akan tetap sepi, jalan tol akan dilewati tanpa membawa dampak signifikan pada perekonomian lokal. ***

