AI Perkuat Peran Jurnalis, Bukan Ancaman bagi Dunia Pers
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – CEO InvestorTrust Primus Dorimulu menjelaskan pentingnya pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam dunia jurnalistik agar tetap sejalan dengan fungsi pers sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.
Penjelasan tersebut disampaikan dalam talkshow inspiratif memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Perkumpulan Agen Asuransi Indonesia (PAAI) ke-9, bertema “Lompatan Besar Agen di Era AI”. Dalam acara yang digelar di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (8/10/2025), Primus berdiskusi bersama entrepreneur muda berjejaring global Elizabeth Ariesta Melawaty dan financial advisor Christopher Rodjito.
“Kami sama sekali tidak khawatir dengan kemajuan digital dan kehadiran artificial intelligence atau AI generatif. Kami justru memanfaatkannya untuk mendukung tugas kami sebagai pekerja media,” ujar Primus.
Ia menegaskan bahwa AI bukan ancaman bagi industri media, melainkan alat yang membuka peluang baru untuk mempercepat proses kerja dan meningkatkan kualitas pemberitaan.
Menurut Primus, fungsi pers mencakup empat hal: media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial. Pers memiliki tanggung jawab menyebarkan informasi yang akurat, memberikan edukasi, menghadirkan hiburan, sekaligus mengawasi kebijakan pemerintah dan institusi agar tidak menyalahgunakan kekuasaan.
“Kami punya standar. Sekarang dengan kemajuan media sosial, platform seperti Google, YouTube, Instagram, hingga TikTok kami manfaatkan untuk diseminasi informasi,” tambahnya.
Dalam praktiknya, Primus menekankan pentingnya prinsip check & recheck, cross check, dan cover both side dalam setiap proses pemberitaan. Ia mencontohkan, jika terdapat sengketa antara perusahaan asuransi dan nasabah, media harus memberikan ruang yang seimbang bagi kedua pihak.
“Berita dari dua pihak yang bersengketa sebaiknya diterbitkan bersamaan agar tidak menimbulkan kesan keberpihakan,” jelasnya.
Selain itu, Primus juga menekankan pentingnya cover multi-side, yakni pemberitaan yang menghadirkan pandangan dari pihak netral seperti pengamat atau akademisi untuk memberikan perspektif yang lebih lengkap. Media, kata dia, juga bisa menyajikan berita dari berbagai sudut pandang, termasuk aspek ekonomi maupun kebijakan industri, guna memperkaya pemahaman publik.
Ia juga mengingatkan para jurnalis untuk selalu mencari sumber pertama dari setiap isu yang diberitakan agar tidak terjebak dalam praktik “jurnalisme katanya”, yang berisiko menimbulkan misinformasi.
“Dari lima langkah tadi, saya masukkan ke ChatGPT untuk membuat narasi, dan hasilnya sangat bagus,” ungkapnya.
Primus menjelaskan bahwa AI kini membantu jurnalis merangkum data besar menjadi narasi yang efisien dan menarik. Namun, efektivitas AI sangat bergantung pada instruksi manusia.
“AI itu tergantung pada perintah kita. Kalau perintahnya salah, hasilnya tidak bagus. Tapi kalau instruksinya jelas, hasilnya luar biasa,” tegasnya.
Dengan pengalaman lebih dari 32 tahun di dunia media, Primus turut membagikan kisah reflektif tentang pemberitaan di sektor asuransi pada masa lalu. Dahulu, katanya, pemberitaan asuransi sering kali bernada negatif karena banyaknya persoalan klaim. Namun, berkat kolaborasi antara jurnalis dan asosiasi asuransi, dibentuklah klub jurnalis asuransi yang memberikan pelatihan rutin, termasuk pemahaman membaca laporan keuangan perusahaan asuransi.
“Sejak saat itu, pemberitaan tentang asuransi menjadi lebih baik dan berimbang hingga sekarang,” pungkas Primus.

