Tim Investigasi BGN Sebut Keracunan Massal 1.315 Siswa di Bandung Barat Dipicu Senyawa Nitrit
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Tim Investigasi Independen Badan Gizi Nasional (BGN) menyimpulkan bahwa gejala keracunan yang dialami 1.315 siswa di Kabupaten Bandung Barat disebabkan senyawa nitrit. Gejala itu muncul seusai siswa menyantap hidangan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disiapkan tiga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“Kami berkesimpulan, senyawa nitrit menjadi penyebabnya,” ujar Ketua Tim Investigasi Independen BGN Karimah Muhammad, dalam keterangan pers, Sabtu (4/10/2025).
Ia mengatakan, investigasi dilakukan dengan menemui para korban dan dokter yang menangani di Puskesmas Cipongkor, serta RSUD Cililin, mempelajari pola gejala, hingga meneliti hasil uji mikrobiologi dan toksikologi dari Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Jawa Barat. Dari pengujian sampel sisa makanan, ditemukan kadar nitrit yang sangat tinggi, khususnya pada buah melon dan lotek.
“Pada masing-masing jenis sampel yang diuji, terdapat 3,91 dan 3,54 mg/L nitrit. Padahal, jika merujuk EPA (US Environmental Protection Agency), kadar maksimum nitrit yang boleh dikonsumsi dalam minuman adalah 1mg/L,” kata Karimah.
Pola kreacunan nitrit
Karimah menjelaskan, gejala dominan yang dialami korban adalah gangguan saluran pencernaan atas, seperti mual, muntah, dan nyeri lambung, dialami 36% siswa. Sementara diare hanya dialami 3% korban, jauh lebih rendah dibanding kasus keracunan makanan pada umumnya.
Selain itu, 29% korban mengeluhkan pusing atau kepala terasa ringan akibat pelebaran pembuluh darah, sedangkan sebagian lainnya mengalami lemas dan sesak napas akibat kondisi methemoglobinemia, yakni berkurangnya kemampuan hemoglobin membawa oksigen.
Dalam penyelidikan, tim investigasi tidak menemukan bakteri patogen penyebab keracunan makanan, seperti Eschericia coli, Staphylococcus aureus, maupun Bacillus cereus. Racun lain, seperti sianida, arsen, logam berat, dan pestisida juga tidak terdeteksi.
Karimah menjelaskan, kadar nitrit dalam buah dan sayuran memang dapat meningkat secara alami akibat proses bakteri yang mengubah nitrat menjadi nitrit. Persebaran zat tersebut juga tidak merata, sehingga dampak pada tiap anak berbeda-beda.
Meski jumlah korban tercatat 1.315 siswa, Karimah mengungkapkan sebagian besar hanya mengalami gejala ringan. Dari catatan medis, hanya 7% korban yang dirawat inap, sementara 93% lainnya langsung diperbolehkan pulang setelah observasi dan pemberian obat ringan, seperti parasetamol, ondansetron, atau omeprazole.
“Tidak ada satu pun korban yang mengalami kejang. Yang terlihat oleh orang awam sebagai kejang sebenarnya adalah kram akibat nyeri lambung,” ucap Karimah.

