Kesaktian Pancasila di Era Digital
Oleh Primus Dorimulu
SETIAP tanggal 1 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Peringatan ini berakar dari peristiwa kelam tahun 1965, ketika sekelompok orang mencoba mengganti dasar negara dengan ideologi lain. Pada malam 30 September, sejumlah jenderal diculik dan dibunuh. Upaya itu disebut sebagai Gerakan 30 September/PKI. Namun, pada 1 Oktober, gerakan tersebut berhasil digagalkan. Pancasila tetap tegak berdiri.
Dari situlah lahir istilah “Kesaktian Pancasila”. Sakti bukan berarti gaib, melainkan daya tahan luar biasa Pancasila sebagai ideologi pemersatu bangsa. Meski diguncang, Pancasila tak tergeser. Meski diserang, Pancasila tetap bertahan. Ia menjadi bukti bahwa dasar negara ini kokoh, relevan, dan tidak mudah digantikan oleh ideologi apa pun.
Mengapa Sakti?
Kesaktian Pancasila terlihat dari kemampuannya menghadapi berbagai ujian.
Pertama, ujian ideologi: dari komunisme hingga fundamentalisme, semua gagal menumbangkan Pancasila.
Kedua, ujian zaman: dari masa kolonial, revolusi, Orde Baru, Reformasi, hingga kini, Pancasila tetap menjadi titik temu bangsa.
Ketiga, ujian perpecahan: meskipun Indonesia penuh perbedaan, Pancasila terbukti mampu merangkul suku, agama, dan budaya dalam satu rumah besar: Indonesia.
Apa Relevansinya?
Namun, pertanyaan pentingnya: apa makna “kesaktian” Pancasila hari ini? Di era digital, dunia maya dipenuhi arus informasi yang deras, hoaks, ujaran kebencian, dan polarisasi politik. Tanpa Pancasila, kita mudah terpecah.
Nilai musyawarah, persatuan, dan kemanusiaan dalam Pancasila adalah filter moral agar teknologi digital tidak dipakai untuk merusak bangsa.
Kecerdasan buatan (AI) membawa peluang besar untuk kemajuan, tapi juga risiko disinformasi, bias algoritma, dan hilangnya lapangan kerja.
Pancasila menjadi pedoman etika: teknologi harus digunakan untuk keadilan sosial, bukan hanya keuntungan segelintir pihak.
Di era perang proxy, negara besar berkompetisi lewat perang ekonomi, energi, siber, bahkan opini publik. Indonesia bisa terseret tanpa sadar. Dalam konteks ini, Pancasila menjadi kompas agar bangsa ini tidak terjebak, tetap berdaulat, tidak memihak kepentingan asing yang ingin menguasai.
Bagaimana Menjadikan Pancasila Sungguh Sakti?
Kesaktian Pancasila bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan tugas sejarah. Semua regulasi dan pembangunan harus mencerminkan nilai Pancasila.
Kesaktian Pancasila membutuhkan keteladan pemimpin. Jika pemimpin jujur, adil, dan merakyat, rakyat akan percaya bahwa Pancasila nyata, bukan slogan.
Agar kesaktian Pancasila menjadi realitas perlu pendidikan karakter. Generasi digital harus dikenalkan pada Pancasila bukan lewat hafalan, melainkan lewat praktik: toleransi, gotong royong, solidaritas.
Pancasila sakti apabila tidak ada korupsi di Bumi Pertiwi. Korupsi jelas-jelas bertolak belakang dengan keadilan sosial. Indonesia buat semua, bukan hanya buat segelintir orang.
Keadilan sosial harus terlihat dalam kenyataan: Pancasila hanya akan dianggap sakti jika rakyat merasakan manfaatnya dalam kesejahteraan dan kesetaraan.
Hari Kesaktian Pancasila adalah panggilan untuk tidak sekadar menghafalnya, tetapi menghidupinya. Di era digital, ketika batas antarnegara kabur, ketika kecerdasan buatan mendominasi, ketika perang proxy mengintai, Pancasila menjadi benteng identitas, kompas moral, dan senjata strategis bangsa Indonesia.
Pancasila sungguh sakti jika bukan hanya dilindungi oleh negara, tetapi juga dihayati dan diperjuangkan oleh setiap warga bangsa.***

