BMKG Tegaskan Belum Akhiri Peringatan Dini Tsunami
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa pihaknya belum mencabut peringatan dini tsunami di sejumlah wilayah Indonesia yang berpotensi terdampak tsunami imbas gempa bumi berkekuatan 8.8 Magnitudo mengguncang Rusia.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono meminta kepala pelaksana (kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di sejumlah daerah berpotensi untuk menunggu arahan lebih lanjut dari BMKG dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
"Jadi saya mohon bapak-bapak kalaksa dan teman-teman di daerah mohon untuk bersabar," kata Daryono dalam konferensi pers, Rabu (30/7/2025) malam.
Daryono mengatakan BMKG saat ini masih melakukan kajian secara mendalam sebelum mencabut peringatan dini tsunami. Daryono mengaku juga terus melakukan koordinasi dan saling bertukar pikiran dengan Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari.
"Saya masih mengkaji dengan teman-teman anatomi marigrafnya juga saya kirim ke Pak Abdul Muhari untuk sama-sama mengkaji untuk menentukan pengakhiran ya," ucapnya.
Menurutnya karakterisik gelombang tsunami cukup unik lantaran gelombang besar bisa saja muncul di akhir. Ia khawatir gelombang besar justru terjadi saat peringatan dini justru sudah dicabut.
"Pada kasus-kasus tertentu bisa tiba-tiba di akhir itu muncul gelombang tsunami yang lebih besar dan tak terprediksi, itu yang jadi kekahwatiran kami. Sehingga hingga saat ini pun kita belum mengakhiri peringatan dini tsunaminya," tegasnya.
Sebelumnya BMKG menyampaikan hasil monitoring dampak gempa Kamchatka, Rusia 8.8 yang berpotensi terjadinya tsunami di wilayah Indonesia. BMKG mencatat tsunami minor terjadi di 8 wilayah.
"Di Jayapura atau di Pelabuhan Dok II ini kita mencatat ketinggian tsunami hanya 20 sentimeter atau 0,02 meter," ungkapnya.
Tsunami minor juga terjadi di Pelabuhan Tapaleo, Halmahera Tengah dengan ketinggian 6 sentimeter. Kemudian di Sarmi, Provinsi Papua, Sorong, Provinsi Papua Barat, Depapre Jayapura Provinsi Papua, dan Sausapor Provinsi Papua Barat ketinggian tsunami hanya 20 sentimeter.
"Di Talaud 5 sentimeter, dan di Morotai 8 sentimeter," ujarnya.
Sementara di Gorontalo terpantau tidak terdeteksi anomali muka laut. Daryono mengatakan, artinya tidak tercatat sama sekali aktivitas air laut di wilayah tersebut.

