Prabowo-Gibran Fokus Cari Solusi Atasi Perubahan Iklim, Ini Alasannya
JAKARTA, investortrust.id - Capres-cawapres nomor urut 2, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka bakal fokus mencari solusi dalam mengatasi perubahan iklim atau climate change. Hal ini mengingat perubahan iklim berpengaruh pada banyak sendi kehidupan. Salah satunya ketahanan pangan nasional.
Anggota Dewan Pakar TKN Prabowo-Gibran, Drajad Wibowo mengatakan, impor pangan terus meningkat tiap tahun. Angka itu akan terus melonjak jika perubahan iklim tidak tertangani dengan baik. Bahkan, hal itu akan berdampak pada stabilitas keamanan nasional.
"Kalau climate change enggak terkendali banyak produksi pangan dunia yang terpengaruh. Kita juga terpengaruh. otomatis ketahanan pangan kita juga terpengaruh. Kalau rakyat lapar otomatis risiko terjadinya huru hara luar biasa," kata Drajad Wibowo seusai acara The 10th Annual Indonesia Economic Forum bertajuk "Unleashing the Power of Digitalization Across the Nation" di The Habibie & Ainun Library, Jakarta, Rabu (29/11/2023).
Baca Juga
TKN Prabowo-Gibran Sosialisasikan Program Makan Siang dan Susu Gratis
Selain itu, kata Drajad, Indonesia merupakan negara kepulauan dan kemaritiman. Untuk itu, Indonesia akan terancam jika air laut naik. Ditekankan, dampak terhadap perubahan iklim akan menjadi persoalan serius bagi generasi mendatang.
"Generasi Mas Gibran yang bakal mengalami kalau kita tidak melakukan sesuatu sebagai bagian dunia untuk melawan climate change, generasi milenial dan generasi z tambah generasi alpha, mereka yang akan merasukan langsung dan dirasakannya itu banyak misalnya biaya hidup semakin mahal," katanya.
Untuk itu, katanya, Indonesia mau tidak mau harus menjadi bagian solusi bagi dunia dalam mengatasi climate change. Hal ini lantaran perubahan iklim tidak mungkin diatasi oleh hanya satu negara.
Drajad mengakui salah satu solusi mengatasi krisis pangan dengan food estate atau lumbung pangan.
Baca Juga
Hari Pertama Kampanye Pilpres 2024, Prabowo dan Gibran Pilih Bekerja
"Food estate atau lumbung pangan itu solusi yang mau enggak mau kita lakukan," katanya.
Dikatakan, produktivitas pangan tergantung pada luas panen dan teknologi. Bisa saja produktivitas pangan disiasati dengan memperbaiki irigasi dari lahan yang sudah ada. Namun, hal itu membutuhkan proses yang cukup lama. Apalagi areal tanam makin berkurang karena banyaknya lahan yang dikonversi.
"Kalau kita mengandalkan itu tidak akan terkejar. penduduk kita makin banyak," katanya.

